Inovasi Teknologi Peningkatan Daya Saing Jeruk dan Buah Subtropika Mendukung Substitusi Impor

KoordinasiProposal2016

 

Penelitian 2015 masih berjalan (baru berjalan empat bulan), namun Peneliti Balitjestro harus menyiapkan penelitian 2016 untuk dievaluasi dan dipersiapkan sejak dini. Dr. Nurhadi, Koordinator Program Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) pada Senin 27 april 2015 memimpin koordinasi peneliti untuk menetapkan arah penelitian Balitjestro di tahun mendatang. Daya saing produk hortikultura, khususnya jeruk keprok menjadi fokus perhatian para koordinasi peneliti yang telah dilakukan selama 1 pekan ini.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlaku pada 2015 merupakan peluang sekaligus ancaman terhadap perkembangan hortikultura. Menjadi peluang karena era ini menjadi kesempatan bagi Indonesia memasarkan berbagai produk Hortikultura, namun sebaliknya menjadi ancaman karena berbagai produk hortikultura yang selama ini masih impor semakin mendapatkan pasar yang terbuka di Indonesia.

Indonesia dituntut untuk terus mengembangkan produk unggulan yang memiliki nilai ekspor. Daya saing produk hortikultura akan terukur di MEA dan pasar internasional. Saat ini pun kita terus melakukan perbaikan mulai perbenihan, budidaya, pengolahan lahan dan pascapanen sampai logistik dan distribusinya.

Daya saing maknanya bahwa jeruk keprok kita mampu lebih baik dari pada jeruk keprok impor. Kita harus tahu jeruk yang masuk Indonesia berasal dari mana, dan apa saja improvement yang mereka lakukan. Dari sisi warna misalnya kita bisa menyaingi dengan kuning yang tidak kalah menarik, namun apakah dari sisi harga mampu bersaing?

Jika jeruk dari Pakistan dan China dengan kualitas yang sesuai selera pasar di konsumen dihargai Rp 10.000,- , apakah kita dapat menghasilkan jeruk dengan kualitas yang sama dengan harga di bawah Rp 10.000,-? Bagaimana kemudian kesejahteraan petani dengan harga seperti itu?

Selain proposal, peneliti dimita menyiapkan road map untuk pengembangan sampai 2019. Pengembangan pada existing area dan new area menjadi komponen yang perlu dipertimbangkan dengan baik. Data-data yang dipunya memang harus di-update dan perlu adanya koordinasi lebih intensif dengan pihak terkati agar nantinya kebijakan yang diambil benar-benar tepat sasaran.

Koordinasi kali ini menghasilkan strategi untuk fokus pada peningkatan daya saing jeruk dan buah subtropika dengan berbagai perbaikan pada sistem pengelolaan.

Berita dan Foto; Zainuri Hanif / Balitjestro

Tinggalkan Balasan