Ini Dia Penampakan Jeruk Keprok Grabag dari Ngablak, Magelang

Jeruk Keprok Grabag memiliki rasa manis segar sedikit asam dan aroma yang khas dan serta kadar jus yang tinggi. Dahulu pernah menjadi buah favorit untuk konsumsi di istana negara. Namun sayangnya varietas Keprok Grabag di daerah asalnya sudah mulai menghilang.

Keprok Grabag di daerah asalnya dari dulu sampai sekarang hanya merupakan tanaman pekarangan dan belum dikembangkan secara luas atau dalam lingkup Kawasan terpadu. Pada tahun 1980-an ada ratusan ribu tanaman jeruk Keprok Grabag, namun saat ini tanaman jeruk ini sangat langka.

Kelangkaan tersebut disebabkan karena serangan penyakit Huanglongbing (HLB) atau masyarakat mengenalnya dengan nama CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration), penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Penyakit ini pun masih menjadi momok bagi petani jeruk dunia. Beberapa negara bahkan sampai meluncurkan program khusus untuk mengatasi penyakit mematikan ini.

Di Indonesia, program rehabilitasi sudah dilaksanakan namun penyakit ini masih menginfeksi ulang karena sumber-sumber penyakit masih terdapat di daerah sentra. Strategi pengendalian hama dan penyakit di kebun jeruk telah diformulasikan dalam Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS).

Dukungan Balitbangtan dan Upaya Menanam Kembali Keprok Grabag

Hilangnya jeruk Keprok Grabag dipasaran dan di tengah serbuan jeruk impor, membuat “galau” Vita Ervina anggota Komisi IV DPR RI dari Dapil Magelang. Berharap Kementan turun tangan untuk membangkitkan kembali kejayaan jeruk Keprok Grabag. Balitbangtan – Kementan melalui Balitjestro yang mendapat mandat dalam menangani riset dan pengembangan jeruk secara khusus merespon apa yang menjadi kegalauan masyarakat tersebut.

Usaha untuk bangkit sudah pernah dilakukan, namun belum mendapatkan hasil yang menggembirakan. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR, Rabu 3 Februari 2021, Vita mengharapkan Balitbangtan juga memperhatikan komoditas buah-buahan, khususnya jeruk. Kawalan dan pendampingan sangat diperlukan agar petani dan masyarakat mampu sukses bertanam jeruk.

Balitjestro dan BPTP Jateng dibawah Balitbangtan, Kementan telah berkolaborasi dengan Kepala Desa dan Kelompok Tani setempat untuk mengembalikan kembali kejayaan keprok Grabag. Program ini diawali dengan membuat demplot jeruk Keprok Grabag di lokasi yang direncanakan sebagai Agroeduwisata (AEW) di Desa Pagergunung Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Kepala Balitbangtan Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si. menyatakan siap mendukung penuh pengembangan jeruk Keprok Grabag dengan mendiseminasikan benih bebas penyakit untuk ditanam oleh masyarakat. Kunci awal keberhasilan agribisnis jeruk dimulai dari ketersediaan benih berkualitas yang berlabel biru.

Lebih lanjut, Kepala Balitjestro Dr. Ir Harwanto, M.Si, menyatakan kesiapannya dalam memberikan dukungan teknologi dengan pembuatan demoplot jeruk. Balitbangtan (Balitjestro) akan mengalokasikan benih diseminasi varietas Keprok Grabag sebanyak 1000 batang yang akan ditanam di daerah calon lokasi AEW yaitu Desa Pagergunung dan Desa Pandean. Potensi pengembangan di dua Desa tersebut dapat mencapai ratusan ribu tanaman.

Profil Keprok Grabag

Keprok Grabag sendiri telah terdaftar varietasnya dengan SK Menteri Pertanian No.599/Kpts/SR.120/2007. Varietas ini memiliki ciri bentuk buah bulat dengan ukuran 95-165 gr/buah. Warna daging buahnya oranye dengan rasa manis sedikit asam dan teksturnya berserat.

Buah yang memiliki warna oranye ini adaptif untuk ditanam di dataran tinggi antara 800 -1200 mdpl. Produktivitasnya cukup tinggi yaitu 60 -80 kg. Dengan keunggulannya, buah ini mempunyai potensi untuk dikembangkan kembali di tempat asalnya. (UTIK_Balitjestro).

Agenda

no event