Huanglongbing (HLB) di Indonesia dan Upaya Teknologi Deteksinya

Source: “National Geographic”

Penyakit huanglongbing (HLB), yang sebelumnya popular dengan sebutan Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) di Indonesia,  merupakan penyakit degenerasi penyebab menurunnya produktifitas, kualitas bahkan kematian tanaman jeruk di Indonesia, Asia dan Afrika. Bahkan pada lima tahun terakhir dilaporkan mengancam industri jeruk di Florida dan Brazilia.

Di Indonesia, HLB diketahui menyerang pertanaman jeruk sejak tahun 1940-an, hampir seluruh propinsi jeruk di Indonesia saat itu dilaporkan terserang parah. Di Tulungagung misalnya, 62,34% tanaman mati karena HLB, serangan di Bali utara mencapai 60%, atau sekitar 95.564 ha tanaman jeruk mengalami kerusakan parah hanya dalam kurun waktu 1988 sampai 1996, dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp 36 miliar pada 1984. Di Sambas-Kalimantan Barat, satu-satunya propinsi yang pernah dinyatakan bebas HLB dan merupakan satu-satunya propinsi terbesar penghasil jeruk Siem di Indonesia, saat ini hampir sebagian besar pertanaman jeruk terancam punah, karena dari 13.000 hektar lahan pertanam jeruk sekitar 2.000 hektar diantaranya kini telah merana dan mati hanya dalam waktu 6 bulan.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura memperkirakan bahwa kerugian karena HLB sedikitnya mencapai 120 milyar pertahun dan mengancam perekonomian sekitar 65.000 petani hidupnya bertumpu pada budidya jeruk (Kompas, 2010). Lebih jauh, pemantauan yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat tercatat 3572 tanaman terserang dari jumlah 11827 tanaman (31 %) yang telah berproduksi.

Patogen HLB adalah bakteri gram negatif yang termasuk dalam kelompok alpha sub divisi proteobacteria (Jagoueix, et al.,1994). Karena sampai saat ini bakteri belum dapat dikulturkan secara in vitro melalui media buatan, penamaan organisme dalam nomenklatur masih bersifat sementara (Candidatus). Diketahui terdapat tiga strain bakteri yang ditemukan di Asia, Afrika, dan Amerika, yang berturut-turut disebabkan oleh “Candidatus Liberibacter asiaticus” (Las), “Ca. L. africanus” (Laf), and “Ca. L. americanus” (Lam) (Jagoueix, et al.,1994, Teixeira et al., 2005). Selain dapat ditularkan dari tanaman sakit ke tanaman sehat melalui materi perbanyakan vegetatif (mata tempel), patogen juga dapat ditularkan secara efisien melalui serangga penular (vektor) kutu loncat jeruk Diaphorina citri dan Trioza erytreae. Kedua spesies vektor ini mempunyai peran sangat penting karena cakupan penyebarannya yang secara geografis cukup luas di seluruh pertanaman jeruk di dunia.  D.citri sebagai vektor CLas dan Clam tersebar di Asia dan Amerika, sedangkan T. erytreae  yang berperan sebagai vektor CLaf tersebar di Afrika.

Sampai saat ini, pengendalian HLB bertumpu pada penggunaan bibit bebas penyakit, eliminasi tanaman sakit di lapang dan pengendalian serangga penularnya. Pada kondisi lapangan, implementasi ketiga komponen ini tidak berjalan secara efektif karena sulitnya memastikan kehadiran penyakit di lapang sedini mungkin. Hal ini disebabkan belum tersedianya fasilitas pendeteksi penyakit CLas yang praktis untuk kegunaan di lapang.

Teknik deteksi CLas yang saat ini dikembangkan di Indonesia didasarkan pada amplikasi DNA CLas melalui polymerase chain reaction (cPCR). Meskipun sangat sensitif, spesifik dan akurat, teknik deteksi cPCR memerlukan ketrampilan tinggi dan relatif mahal karena > 90 % alat dan bahan yang digunakan harus diimpor. Pemanfaatan deteksi CLas berbasis PCR terbatas hanya untuk pengujian yang jumlah sampelnya terbatas dan tidak praktis untuk deteksi penyakit di lapang yang berskala luas. Konsekuensinya, adopsi dan implementasi teknik ini secara luas menjadi tidak praktis sehingga tidak berkembang sejak diimplementasikan tahun 1996.

Karena pertimbangan peralatan yang mahal, laboratorium modern dan menuntut operator yang berskill tinggi teknik ini hanya dimanfaatkan untuk keperluan penelitian khususnya di laboratorium saja. Di lapang, deteksi penyakit  umumnya dilakukan secara kualitatif berdasarkan gejala visual yang seringkali ‘misreading’, meragukan dan cenderung ’false negatif’. Akibatnya, pengambilan keputusan pengendalian selalu terlambat, yang berdampak lebih parah pada berkurangnya umur hidup (life span) pertanaman jeruk yang masa produktifnya dalam kondisi normal mampu mencapai > 15 tahun menjadi ? 5 tahun.[cml_media_alt id='1622']HLBdiIndonesia_CVPDdiIndonesia[/cml_media_alt]

Gambar: Keragaman Gejala Serangan Penyakit HLB pada 40 Aksesi Jeruk:  a) Yellow shoot, Defisiensi Zn, b). Mottling, blotching, c). Red nose, d) Buah asimetris dengan biji abortus.

Pertimbangan-pertimbangan di atas menunjuk pada pentingnya upaya mencari alternatif alat deteksi CLas yang mempunyai kriteria: cepat, sensitif, spesifik, murah dan praktis, sehingga memungkinkan deteksi dilakukan di lapang secara cepat setiap saat, tanpa menuntut kualifikasi personal yang berketrampilan khusus/tinggi. Upaya ini sangat memungkinkan direalisasi mengingat pesatnya perkembangan teknologi deteksi penyakit tanaman khususnya HLB sampai saat ini, yang pada prinsipnya didasarkan pada tiga pendekatan, yaitu: 1).  Deteksi CLas berbasis gejala spesifik, kerusakan jaringan dan interaksi antigen x antibodi, diantaranya: a)  Biological indexing (Schwarz, (1968); Roistacher (1991); b)  Iodine reaction (Schneider, 1968); c) Fluorescent substance (Schwarz, 1968);  d) Electron microscopy (Lafleche dan Bové, 1970); Wu, 1987); dan e)  ELISA (Garnier et al., 1987; Garnier dan Bové, 1993).

Berikutnya adalah deteksi HLB berbasis asam nukleat yang tidak memerlukan thermal cycler, daintaranya: a) Dot-blot hybridization (Villechanoux et al., 1992); b) Loop-mediated isothermal amplification (LAMP)  (Okuda et al., 2005); c) Cycleave isothermal and chimeric primer-initiated amplification of nucleic acids with probe technology (ICAN) (Orasaki et al., 2008); d) RT-LAMP (Chunyi et al., 2009). Sedangkan yang ketiga adalah Deteksi CLas berbasis asam nukleat yang memerlukan thermal cycler, yaitu: a)  konvensional PCR (cPCR)  (Jagoueix et al., 1996; Tian et al., 1996;   Hung et al., 1999; Hocquellet  et al., 1999; Teixeira et al., 2005); b) Nested PCR (Deng et al., 2007);  c) RT-PCR (Liao et al., 2004; Li et al., 2006).

Diantara alternatif-alternatif di atas, teknik deteksi CLas berbasis interaksi antigen x antibodi, atau lebih populer disebut serologi, dipertimbangkan relevan secara teknis, ekonomis dan praktis dari segi aplikasinya. Hal ini didasari oleh pesatnya perkembangan teknik deteksi penyakit di bidang kedokteran manusia dalam sepuluh tahun terakhir  yang memungkinkan dikembangkannya teknik deteksi berbasis serologi ‘Lateral Flow Immunsorbent Assay (LFIA)’ untuk berbagai uji cepat diantaranya ‘pregnan test’, ‘hormone test’ dan ‘urine test’.

Teknik ini dilandasi oleh  perpaduan atau integrasi dari prinsip-prinsip ELISA dan Western-blot, yaitu migrasi cairan sampel melalui  zone deteksi yang molekul-molekulnya akan menempel bila terjadi interaksi antara antibodi spesifik dengan sampel, yang kemudian menghasilkan respon berupa sinyal apabila sampel mengandung penyakit. Adopsi dan modifikasi format LFIA untuk mengembangkan ‘kit deteksi cepat HLB’ dipertimbangkan relevan terhadap tuntutan deteksi penyakit HLB yang memenuhi kriteria  cepat, sensitif, spesifik, murah, praktis dan memungkinkan sebagian besar komponen utama kit deteksi disediakan dengan menggunakan sumberdaya lokal.

 

Oleh : Nurhadi
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan