Hasil Kunjungan Kerja ke Maroko oleh Tim Pertukaran Ilmiah Badan Litbang Pertanian

Tim Pertukaran Ilmiah Badan Litbang Pertanian terdiri dari Dr. Marhendro (Kepala Bagian Umum, Sekretariat Badan Lirtbang Pertanian), Dr. Ir. Hardiyanto, MSc (Kepala Balai Penelitian Jeruk dan Buah Sub Tropika), dan Dr. Muharram Saefulah (Peneliti Balai Besar Penelitian Veteriner). Kedatangan Tim Pertukaran Ilmiah Badan Litbang Pertanian ke INRA (Intitute National de la Recherce Agronomique) Maroko adalah sebagai tindak lanjut hasil kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia ke Maroko pada bulan Agustus tahun 2009 yang lalu bersama Kepala Badan Litbang Pertanian periode kemarin (Dr. Gatot Irianto) dalam rangka mengidentifikasi bidang penelitian pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan dalam bentuk kerjasama antar institusi RI – Maroko.

Tim Pertukaran Ilmiah Badan Litbang Pertanian langsung diterima oleh Direktur Jenderal INRA Maroko, Prof. Mohamed Badraoui yang didampingi oleh Dr. Rachid Dahan (Direktur Scientific Division). Dalam pertemuan tersebut, Prof. Badraoui memberikan apresiasi kepada tim Badan Litbang Pertanian yang mau berkunjung ke INRA Morocco untuk menindaklanjuti kunjungan Menteri Pertanian tahun lalu. Pada prinsipnya Research for Agricultural Development diarahkan untuk mengurangi kesenjangan produksi dengan meningkatkan produktivitas, utamanya mendukung program pembangunan pertanian Maroko yang disebut Green Agricultural Plan Morocco 2009-2012.  Program penelitian pertanian tersebut difokuskan kepada beberapa aspek, antara lain:

  1. Meningkatkan food security (ketahanan pangan);
  2. Water Management, yang diarahkan untuk mengefisiensikan penggunaan air dengan meningkatkan produksi pertanian per meter kubik;
  3. Pengembangan varietas tanaman Gandum, yang memfokuskan kepada peningkatan ketahanan tanaman gandum terhadap kekeringan;
  4. Pengembangan tanaman Kurma, dengan menghasilkan beberapa varietas kurma baru;
  5. Pengembangan Hewan Ternak, rekayasa genetika ternak dan veteriner;
  6. Pengembangan varietas tanaman Jeruk, INRA telah berhasil mengembangkan 5 varietas jeruk baru;
  7. Fruit trees;
  8. Pengembangan tanaman zaitun (olive) dalam kerangka peningkatan kapasitas produksi minyak zaitun.

INRA Morocco dibagi dalam 8 divisi yaitu: Environment and natural resources, Food technology and quality, Agronomy and agricultural mechanization, plant protection, rural economy and sociology, animal production, Improvement and conservation of PGR, and Techonology transfer. Organisasi INRA Morocco terdiri dari 10 Pusat Penelitian Regional, 23 kebun percobaan, 30 unit penelitian, dan 10 unit teknologi transfer. Secara keseluruhan INRA Morocco mempunyai 194 tenaga peneliti, 226 teknisi, 40 tenaga adminsitrasi dan 865 staf pendukung.

[cml_media_alt id='1946']Jeruk Maroko[/cml_media_alt]
Gambar: wikipedia
Pada kesempatan kunjungan ke pusat penelitian bioteknologi, pakan ternak dan sumberdaya lahan yang berada dalam pengelolaan Regional Center of Agronomics of Rabat, Tim mendapatkan informasi terkait kegiatan penelitian bioteknologi yang lebih banyak dilakukan untuk memperoleh varietas gandum yang tahan kekeringan. Penelitian GMO tidak boleh dilakukan di Morocco. Untuk penelitian pakan ternak dikonsentrasikan pada indentifikasi pakan ternak dari tumbuhan lokal. Hasil penelitian sumberdaya lahan telah dipergunakan oleh policy makers di Maroko, khususnya dalam mengestimasi hasil panen gandum.

Pada kunjungan ke Pusat Penelitian Pertanian Regional di Kenitra, tim mendapatkan keterangan langsung dari Direktur, bahwa pusat penelitian tersebut mempunyai dua program utama yaitu Genetic and Crop Improvement; dan Crop Production. Untuk program pertama dititikberatkan pada penelitian perakitan varietas jeruk untuk menghasilkan varietas jeruk tanpa biji (seedless), dan kandungan vitamin C tinggi; perakitan varietas batang bawah jeruk tahan salinity dan tristeza melalui konvensional maupun inkonvensional breeding. Sedangkan untuk program kedua dititikberatkan pada penelitian IPM jeruk untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia. Pusat ini juga mempunyai sekitar 500 asesi jeruk berbagai spesies yang dapat dilakukan pertukaran materi tanaman antara Badan Litbang Pertanian dengan INRA melalui MTA (Material Transfer Agreement). Pada kesempatan tersebut, direktur mapun peneliti INRA Morocco siap bekerjasama dengan Badan Litbang Pertanian baik melalui pertukaran peneliti mapun membuat program penelitian jeruk di berbagai aspek sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh kedua negara.

Tim Pertukaran Ilmiah juga berkesempatan untuk mengunjungi Pusat Penelitian Regional di Meknes yang merupakan salah satu dari 10 pusat penelitian regional dari INRA. Penelitian yang dilaksanakan sebagian besar merupakan penelitian tanaman sub tropis, antara lain zaitun, walnut, almond, peach, apel, dan anggur. Tim menilai bahwa terdapat potensi pertukaran ilmiah yang sangat positif antara INRA dengan Badan Litbang Pertanian, khususnya untuk pengembangan tanaman apel dan anggur.

Tim Pertukaran Ilmiah juga telah mengunjungi Pusat Penellitian Regional di Settat. Dari kegiatan yang telah dilaksanakan, pembangunan Bank Gen merupakan kegiatan yang bisa dijadikan pembanguinan Bank Gen di Indonesia yang sekarang sedang membangun Bank Gen. Kegiatan diseminasi teknologi, merupakan kegiatan yang bisa dijadikan kegiatan bersama dengan INRA Morocco.

Tim Pertukaran Ilmiah juga mengadakan kunjungan ke Institut Agronomique et Vétérinaire Hassan II yang merupakan lembaga pendidikan sekaligus lembaga penelitian di bidang kedokteran hewan. Meskipun Institut ini bukan dibawah manajemen INRA Morocco, namun koordinasi peneliitian yang dilakukan sangat baik. Institut Agronomique et Vétérinaire Hassan II  menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk short course yang difokuskan terutama pada pendidikan tenaga ahli dari Afrika, termasuk dalam bidang water management.

Pada kesempatan ini dilakukan juga pertemuan antara Tim Pertukaran Ilmiah Pertanian yang didampingi oleh Duta Besar RI untuk Maroko, Tosari Widjaya, PF Ekonomi, Dicky Ahmad Rizaldy dan staf bidang politik, Fauzan Adim, dalam wrap up kunjungan dengan Dirjen INRA dalam rangka mendiskusikan secara singkat hasil kunjungan Tim selama di Maroko sehingga dapat dirumuskan kemungkinan langkah kerjasama. Kesepakatan dalam bentuk dokumen formal dan action plan perlu segera dibuat antara RI – Maroko. Oleh karena itu diperlukan MOU antara Badan Litbang Pertanian dengan INRA Morocco untuk dapat melaksanakan pertukaran informasi yang diperlukan masing-masing institusi dan kegiatan penelitian bersama sesuai dengan kemampuan keuangan masing-masing mapun menyusun program kerjasama penelitian yang sumber dananya kemungkinan dapat diperoleh dari Islamic Development Bank.

 

Sumber berita: Dr. Ir. Hardiyanto, MSc

 

Tinggalkan Balasan