Gejala Serangan Penyakit Diplodia (Botryodiplodia theobromae Pat.) dan Pengendaliannya

Penyakit Diplodia atau Blendok merupakan penyakit utama yang menyebabkan kematian pada batang dan cabang tanaman jeruk di Indonesia. Sebutan penyakit Blendok digunakan karena kebanyakan batang dan cabang yang terserang dan bereaksi mengeluarkan blendok. Penyebaran penyakit ini di Indonesia hampir di seluruh pertanaman jeruk, terutama yang telah berumur lebih dari 10 tahun dengan pemeliharaan yang kurang intensif. Serangan melingkar pada cabang dan batang utama menyebabkan kematian bagian tanaman diatas titik serangan, bahkan menyebabkan kematian tanaman.11

Gejala Diplodia ada 2 macam  yaitu diplodia basah dan kering. Gejala diplodia basah ditunjukkan dengan adanya blendok atau gumosis berwarna kuning keemasan pada cabang atau ranting terserang, pada stadia lanjut, kulit tanaman mengelupas atau bahkan bisa mengakibatkan kematian (Dwiastuti 2011).  Gejala diplodia kering lebih sulit dikenali pada awal serangan, karena tidak ada blendok yang merupakan reaksi hipersensitif tanaman yang terinfeksi untuk melokalisasi patogen agar tidak berkembang. Pada serangan lanjut atau parah baru terlihat kulit batang atau cabang mengelupas, kemudian mengering atau bahkan bisa mengakibatkan kematian (Triwiratno 2002).

Penyebab penyakit adalah jamur Botryodiplodia theobromae Pat. Pada awalnya penyebab penyakit diinformasikan sebagai Diplodia nataliensis  yang memiliki piknidium berwarna hitam dan letaknya tersebar, tidak berstroma, beda dengan  dengan Botryodiplodia theobromae Pat. yang memiliki piknidium berkumpul dan berstroma, tetapi karena sifat tersebut tidak tetap maka keduanya sekarang disatukan (Semangun 1996).  Piknidium tersebar atau berkumpul di bawah epidermis atau kortek piknidium halus, konidiofor berbentuk seperti jarum. Sedang konidium jorong, yang masak bersel 2 berwarna gelap tidak mempunyai lapisan lendir di luarnya.  Piknidium tersebar dengan bentuk tertutup kemudian pecah dan berwarna hitam (Wardlaw 2014). Penetrasi dalam jaringan tanaman dilanjutkan dengan kolonisasi dan  tumbuh memperbanyak diri dalam jaringan tanaman inang.  Fase-fase kritis patogen adalah pada saat sebelum terjadi penetrasi, pada fase ini pengendalian lebih efektif dibanding apabila sudah lanjut.

Serangan penyakit Diplodia (Botryodiplodia theobromae Pat.) dipengaruhi beberapa faktor antara lain sumber inokulum, suhu, kelembaban, kebersihan kebun dan alat serta  varietas. Tingkat serangan penyakit blendok berhubungan erat dengan tingkat perawatan kebun, biasanya kebun yang tidak terawat, serangan diplodia sangat tinggi (Triwiratno 1998). Faktor lain yang juga sangat mempengaruhi terjadinya keparahan serangan adalah varietas jeruk. Varietas pamelo lebih rentan, hampir 90% tanaman pamelo di Magetan terinfeksi penyakit diplodia (Supriyanto et al. 1998).

Pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan untuk berkembang, patogen dapat membentuk struktur tahan. Pada kondisi menguntungkan yaitu pada kelembaban, nutrisi dan suhu tinggi, patogen akan segera berkecambah dan kemudian melakukan penetrasi ke dalam jaringan tanaman.  Amplitudo (perbedaan suhu siang dan malam) tinggi, terutama musim kemarau merupakan lingkungan yang mempermudah perkembangan jamur ini. Periode kritis pada varietas pamelo (C. maxima Merr.) terjadi pada pertengahan musim hujan dengan kelembaban ? 80% memenuhi syarat bagi pertumbuhan jamur atau pada musim kemarau dimana kondisi tanaman kurang optimal sehingga pertahanan tanaman kurang (Triwiratno 2002).

[cml_media_alt id='1410']Diplodia Basah dan Diplodia Kering-001[/cml_media_alt]
Gambar  1. Gejala penyakit A) Diplodia basah (Kulit mengelupas dan mengeluarkan blendok berwarna kuning keemasan) dan B) Diplodia kering (Kulit mengelupas).

Hasil penelitian membuktikan bahwa varietas Pamelo umur 10-15 tahun paling peka terhadap serangan penyakit blendok dibanding umur yang lebih muda (Triwiratno et al. 2001). Sementara di Kalsel , serangan diplodia pada tanaman jeruk umur 4 -10 tahun sebanyak 245.896 pohon, paling banyak dibanding tanaman umur < 4 tahun dan  > 10 tahun (Salamiah 2009).

Pengendalian penyakit diplodia dengan cara sanitasi kebun dan alat pertanian, pemangkasan pemeliharaan,  penyaputan batang dan ranting dengan bubur California. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bila perlakuan pengendalian tersebut dilakukan, dapat  menurunkan intensitas serangan sebesar 55,4% dan luas serangan 60,8% (Triwiratno et al. 1999; Triwiratno et al. 2001). Fungisida dengan bahan aktif carbendazim + Mancozeb atau Benomyl yang dapat digunakan dengan aplikasi  olesan batang (Asaad & Warda. 2004, Triwiratno et al. 2004), atau menggunakan Bahan Aktif Difenokonazol 250 g/l (Triwiratno et al. 2004).

Bubur California untuk pengendalian penyakit Diplodia dan jamur lainnya:
Bahan :  1 Volume Belerang + 2 Volume Kapur (CaCO3)+ 0,1 Volume Detergent + 10 Volume Air.
Cara membuat dengan pemanasan api :

  1. Serbuk belerang direbus sampai larut
    1. Kapur hidup (CaCO3) dilarutkan di wadah terpisah menjadi kapur mati (CaO).
    2. Larutan kapur mati (CaO) dimasukkan ke dalam larutan belerang yang sedang mendidih dan campuran kedua bahan dibiarkan mendidih ± 10 menit.

Cara membuat dengan pemanasan kapur hidup (Tanpa api) :

  1. Belerang bersama detergent dimasukkan kedalam air sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai larut.
  2. Kapur hidup (CaCO3) dimasukkan semua kedalam larutan belerang, akan terjadi reaksi pemanasan oleh kapur hidup. Campuran kedua bahan dibiarkan mendidih ± 10 menit.
Cara aplikasi :

  • Bubur california yang sudah jadi  dibiarkan dingin, dan siap untuk digunakan
  • Batang tanaman dibersihkan dahulu dari blendok dan kulit kering yang mengelupas dengan cara disikat.
  • Bagian endapan (kuning) dan larutan encer (merah) diaduk kemudian dilaburkan pada batang tanaman minimal umur 2 tahun,  dilakukan dua kali setahun yaitu awal dan akhir musim hujan
  • Bagian larutan encer (merah) dapat disemprotkan pada pohon untuk pengendalian penyakit jamur daun (embun jelaga, mildew, antraknose dan lainnya). Gunakan larutan dengan dosis 15ml /lt air.  

PUSTAKA

  1. Asaad, M., Warda. 2004. Pengkajian pengendalian penyakit Diplodia pada jeruk siam. Prosiding Seminar Nasional dan Kontes buah jeruk Siam nasional. Surabaya, 16 Juni 2003. Hal 357-366.
  2. Dwiastuti, M.E., A. Triwiratno, O. Endarto, S. Wuryantini, Yunimar. 2011. Panduan Teknis Pengenalan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman jeruk. Balitjestro, Puslitbanghorti, Balitbangtan, Kementan, cetakan ketiga 2011. hal 60-62.
  3. Salamiah. 2009. Pengendalian Penyakit Kulit Diplodia Pada Jeruk Siam Banjar Menggunakan Pengetahuan Dasar Mengenai Siklus Penyakit dan Penerapan GAP . Prosiding Seminar Buah Nusantara 2009.:  55 -71.
  4. Semangun, H. 1996, Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan, pp 67-203, Gadjah Mada University Press, Yokyakarta.
  5. Supriyanto, A, , M. Sugiyarto, A. Triwiratno, O. Endarto, 1998, Laporan akhir Pengkajian dan Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Berbasis Pamelo di Kab Magetan. BPTP Karangploso.
  6. Triwiratno, A., A. Supriyanto (1999) Pengkajian penerapan paket teknologi pengendalian penyakit blendok (Botryodiplodia theobromae Pat.) pada pamelo di kabupaten Magetan. Prosiding Seminar Nasional Hortikultura, Fak Pertanian UPN “Veteran” Yogyakarta, 1999. Hal 196-205 ISBN 979-95874-0-9.
  7.  _______, A. Supriyanto, A Sugiyatno (2001) Penggunaan Bubur California untuk Pengendalian Penyakit Jamur Ranting (Botryosphaeria ribis) pada Manggis. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi Pertanian, Mataram 30-31 Okt 2001, PSE Bogor, ISBN : 979-95405-2-6. Hal 184-187.
  8. _______. 2002, Pengenalan dan pengendalian penyakit penting pada tanaman jeruk, Makalah disampaikan pada Pemagangan Teknologi Pengelolaan Pembibitan, Budidaya dan Perlindungan tanaman jeruk Bebas penyakit bagi petugas Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Kalimantan Barat, Tlekung 19 – 24 Agustus 2002.
  9. _______. 2002, Pengendalian Penyakit Blendok (Botryodiplodia theobromae Pat.), Makalah pada Sosialisasi Penanggunlangan Eksplosi OPT Hortikultura, Legian Bali, 25-28 Nopember 2002, Direktorat Perlindungan Hortikultura.
  10. _______. M. E. Dwiastuti, B.Widodo.  2004. Teknik Pengendalian Penyakit Diplodia (Botryodiplodia theobromae Pat.) Menggunakan Bahan Aktif Difenokonazol 250 g/l pada Pamelo (C. Maxima Merr.). Prosiding Seminar Nasional dan Kontes buah jeruk Siam nasional. Surabaya, 16 Juni 2003. Hal 378-395.
  11. Wardlaw, C. W.  2014. Observations on the Pycnidium of Botryodiplodia theobromae, Pat. Annals of Botany Journals vol 114: ISSN 1095-8290 – Oxford University Press. Print ISSN 0305-7364, Pp 226-238. Tanggal akses 10 Me1 2014.

 

Oleh: Anang Triwiratno
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Related Post

Tinggalkan Balasan