Gejala Serangan dan Pengendalian Hama Tungau pada Jeruk

Gejala 

Tungau karat jeruk memangsa terutama pada buah muda mulai yang ukurannya sebesar kacang dan kerusakannya biasanya tampak setelah buah berukuran sebesar kelereng. Lapisan epidermis kulit buah ikut rusak dan seiring dengan membesarnya buah maka akan tampak gejala bekas tusukan pada buah, walaupun hama tungaunya sudah tidak ada. Apabila serangannya parah, selain cabang, daun dan buah muda, buah yang masak bisa juga terserang.

Serangan awal pada buah menimbulkan gejala warna buah keperakan (pada jenis lemon dan grapefruit) atau coklat keperakan (pada jeruk jenis lain). Pada fase selanjutnya buah yang terserang warnanya berubah menjadi coklat, sampai ungu kehitaman. Serangan P. oleivora berpengaruh terhadap pertumbuhan diameter, bobot dan kandungan nutrisi buah serta dapat mengakibatkan gugur buah lebih dini. Varietas jeruk berpengaruh terhadap tingkat serangan pada buah.  Kerusakan akibat serangan yang parah pada buah mencapai 90%, dan dapat  menurunkan harga jual hingga 50%.

Populasi tungau merah banyak ditemukan di permukaan daun bagian atas, dan sebagian kecil menyerang buah dan cabang.  Dalam proses memangsa, klorofil diisap tungau merah dari daun, sehingga warnanya berubah menjadi bintik-bintik kelabu dan keperakan.  Serangan lebih  parah di musim kering di mana kelembaban dalam tanaman menurun.  Pada kondisi demikian kombinasi dari efek serangan tungau, iklim dan faktor fisiologis dapat mengakibatkan gugurnya buah dan daun.  Serangan yang lebih parah dapat mengakibatkan ranting muda mati.  Buah yang masih hijau lebih disenangi daripada yang tua, tetapi gejala serangan lebih jelas terlihat pada buah yang tua dan bersifat permanen.

Bioekologi

Tungau karat jeruk memangsa dengan memasukkan cheliceral stylet dalam sel tanaman dan mengisap cairan tanaman dan menginvestasi hampir semua varietas jeruk.  Imago berwarna kuning sampai orange, panjang lebih kurang 0.2 mm.  Telur diletakkan pada permukaan daun dan buah.  Siklus hidup berlangsung dari telur sampai imago antara 7-10 hari pada musim panas atau 14 hari pada kondisi dingin. Imago betina hidup kurang dari 20 hari dan selama masa hidupnya mampu bertelur sebanyak 20 butir.

Telur yang berwarna merah tua dan berbentuk bulat adalah fase yang mudah untuk membedakan dari tungau jenis lain.  Telur sebagian besar diletakkan di permukaan bagian atas sepanjang tulang daun, tetapi sebagian lainnya diletakkan pada permukaan daun bagian bawah  dan pada bagian tanaman yang lain terutama yang muda dan sukulen.  Imago betina dari tungau ini berbentuk oval, berwarna merah tua dan mempunyai bulu-bulu yang panjang dan menarik perhatian. Tungau jantan ukuran tubuhnya lebih kecil, lebih runcing dan mempunyai kaki yang relatif panjang dan gerakannya lebih aktif daripada yang betina.

Satu betina dapat meletakkan 17-37 butir telur yang berlangsung 11-14 hari.  Perkembangan dari telur menjadi dewasa berlangsung 12 hari.  Lama hidup tungau dewasa berlangsung 23 hari.

Pengendalian

Pemantauan populasi dilakukan pada permukaan daun bagian atas dan bawah daun serta permukaan kulit buah. Untuk menentukan ada tidaknya  hama ini di lapang dapat ditentukan oleh gejala warna keperakan atau coklat kekuningan pada permukaan kulit buah.  Karena ukuran tungau sangat kecil maka pengamatan dilakukan menggunakan alat bantu kaca pembesar minimal 10 kali atau dengan mikroskop di laboratorium.

Di lapang populasi tungau dikendalikan secara alami oleh musuh alami seperti predator Amblyseius citri. Namun demikian perkembangan dari musuh alami di lapang masih kalah cepat dibandingkan dengan tungaunya sendiri, sehingga populasinya masih tetap tinggi.  Selain itu musuh alami banyak yang mati apabila pengendalian dilakukan dengan penyemprotan pestisida. Pengendalian hayati juga dapat dilakukan dengan entomopatogen Hirsutella sp. dan predator Chrysopidae.

Secara kimia hama tungau dapat dikendalikan dengan akarisida antara lain yang berbahan aktif Propagit, Dikofol, Dinobuton, Sipermetrin, Karbosulfan, Permetrin, dan Piridaben.  Apabila pengendalian terhadap serangan penyakit menggunakan fungisida yang berbahan aktif belerang (Sulfur) seperti Maneb, Mankozeb atau Zineb maupun bubur California maka pengendalian terhadap tungau kadang-kadang tidak diperlukan lagi karena sulfur diketahui dapat mengurangi populasi tungau.  Pengendalian sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan pada periode kritis tanaman. Penyemprotan dengan akarisida sebanyak 2-3 kali pada tanaman menjelang berbunga sangat efektif dalam mengendalikan hama tungau.

 

Oleh: Otto Endarto, Susi Wuryantini dan Yunimar
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan