Implementasi Teknik Forest Gardening Sebagai Penunjang Pengembangan Budidaya Jeruk dan Buah Subtropika pada Lahan Terbatas di Indonesia


Juara 2 Lombai Essai Facebook Nasional Balitjestro Indonesia 2020.

Nicolas Sebastian Jasman
(Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Surabaya)

Indonesia, sebuah negeri yang dikenal di kancah internasional karena berlimpahnya sumber daya. Negara kepulauan terbesar di dunia ini menyimpan begitu banyak kekayaan alam, mulai dari hasil tambang, budaya, hingga flora dan fauna. Tak heran, berabad-abad yang lalu, bangsa asing ingin menjarah kekayaan Indonesia dan menjadikan Indonesia wilayah kekuasaan mereka.

Ada begitu banyak aspek yang mendukung Indonesia menjadi negara dengan potensi besar untuk aktivitas bercocok tanam. 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮, Indonesia memiliki iklim tropis dengan curah hujan yang tinggi yang dapat membantu sistem irigasi dan mengatasi kekeringan. 𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮, letaknya yang dekat dengan garis khatulistiwa membuat Indonesia mendapat sinar matahari yang cukup dan konsisten setiap harinya. 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮, keberadaan 68 gunung berapi aktif menjadikan tanah di Indonesia sangat subur, sehingga cocok digunakan untuk menanam. 𝗞𝗲𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁, sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbanyak di dunia, kebutuhan akan sumber daya manusia tidak perlu diragukan lagi untuk menompang aktivitas bercocok tanam. 𝗞𝗲𝗹𝗶𝗺𝗮, berbagai macam bentang alam di nusantara menjanjikan berbagai macam komoditas cocok ditanam di tanah Indonesia. Lima faktor itulah yang mampu membuat Indonesia menjadi salah satu negara penghasil buah terbesar di dunia.

Iklim Indonesia yang cenderung bersifat tropis tidak menghalangi berbagai macam komoditas bisa ditanam di Indonesia, termasuk buah jeruk dan buah subtropika seperti apel, anggur, kelengkeng, dan stroberi. Keanekaragaman bentang alam yang tersedia di tanah air, seperti padang rumput, hutan, dan pegunungan, menjadi faktor pendukung pertumbuhan dan pengembangan buah-buah subtropika. Meskipun demikian, produksi komoditas buah-buahan di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan lahan untuk pertanian dan perkebunan, penanganan hama yang kurang optimal, serta permasalahan kualitas pascapanen. Oleh karena itu, untuk mengatasi kendala keterbatasan lahan, penulis hendak memaparkan ilmu mengenai penerapan sistem 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 untuk mengembangkan budidaya horikultura jeruk dan buah subtropika di Indonesia.

Berbeda dari cara berkebun tradisonal yang biasanya secara spesifik membudiayakan satu jenis tanaman di satu lokasi, 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 mengimplementasikan optimalisasi lahan dan waktu guna memperbanyak jenis tanaman yang dapat ditanam di lahan yang terbatas. Sesuai namanya, 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 memiliki prinsip mengembangkan suatu perkebunan seperti layaknya hutan, membuatnya lebat dan rimbun dengan menanam berbagai tumbuhan, serta membuat interaksi makhluk hidup dalam sebuah 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯 terjadi secara alamiah.

Penerapan 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 di Indonesia tidaklah menjadi masalah karena ada banyak spesies tumbuhan yang dapat tumbuh dengan baik di negeri ini. Namun, alangkah baiknya apabila penerapan 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 di Indonesia ditunjang oleh manajemen dan optimalisasi lahan yang tepat, seperti optimalisasi lahan secara horizontal, optimalisasi lahan secara vertikal, dan optimalisasi waktu.

Optimalisasi dan manajemen lahan secara horizontal dapat dilakukan dengan menerapkan teknik penataan letak tanaman berkonsep 𝘵𝘳𝘪𝘢𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘴𝘱𝘢𝘤𝘪𝘯𝘨. Gambar penerapan teknik 𝘵𝘳𝘪𝘢𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘴𝘱𝘢𝘤𝘪𝘯𝘨 dapat dilihat pada gambar 1. Dengan kapasitas lahan yang sama, penataan berkonsep 𝘵𝘳𝘪𝘢𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘴𝘱𝘢𝘤𝘪𝘯𝘨 dapat menampung 35% lebih banyak tanaman dibandingkan 𝘳𝘰𝘸 𝘴𝘱𝘢𝘤𝘪𝘯𝘨.

Kerimbunan yang didapat dari metode ini mampu mengurangi penguapan air dengan membatasi banyaknya sinar matahari yang mencapai permukaan tanah. Hal ini membuat air dapat bertahan lebih lama di dalam tanah, dan dengan demikian menjaga kelembapan tanah. Selain itu, 𝘵𝘳𝘪𝘢𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘴𝘱𝘢𝘤𝘪𝘯𝘨 juga dapat menekan pertumbuhan tanaman liar yang merugikan seperti lumut.

Dengan menanam banyak jenis tanaman yang memiliki ketinggian berbeda-beda di satu lokasi, pengunaan lahan akan semakin efisien. Misalnya, tanaman yang pendek dapat menempati ruang yang tidak terisi tanaman yang tinggi. Hal ini adalah contoh dari manajemen lahan secara vertikal yang baik. Contoh manajemen lahan secara vertikal dapat dilihat pada gambar 4.

Untuk menunjang manajemen lahan secara vertikal, terdapat 7 golongan tanaman dengan ketinggian berbeda-beda yang diperlukan dalam 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨. Ketujuh jenis tanaman tersebut, dari yang paling tinggi hingga paling pendek, meliputi:

1. Tanaman Kanopi 
Lapisan ini terdiri dari tanaman berpohon tinggi dan tanaman yang dapat berfungsi sebagai pengikat nitrogen, misalnya kacang-kacangan, rambutan, kelengkeng, dan alpukat. Tanaman kanopi berperan penting dalam menunjang penyimpanan air, meningkatkan kesuburan tanah, serta menjadi habitat untuk beberapa spesies fauna.

2. Tanaman Subkanopi
Ciri dan fungsi tanaman subkanopi sangatlah mirip dengan tanaman kanopi. Hal yang membedakan keduanya adalah ketinggian subkanopi yang lebih pendek. Misalnya, apel, jeruk, dan pisang. Dalam 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯 berskala kecil, tanaman subkanopi juga dapat berperan sebagai tanaman kanopi.

3. Semak-semak
Lapisan ini terdiri berbagai jenis buah beri, seperti stroberi dan raspberi. Kebanyakan tanaman semak adalah tanaman yang tidak membutuhkan sinar matahari yang banyak, sehingga bisa ditanam di bawah tanaman subkanopi atau kanopi dan tetap tumbuh dengan baik. Tanaman semak juga mengandung banyak unsur penting yang dapat mempertahankan kesuburan tanah.

4. Tanaman Herbal 
Lapisan ini terdiri dari tanaman herba yang memiliki khasiat kesehatan maupun tanaman yang biasa digunakan sebagai bumbu masak, misalnya daun 𝘮𝘪𝘯𝘵, 𝘳𝘰𝘴𝘦𝘮𝘢𝘳𝘺, dan ketumbar. Keberadaan lapisan ini menjadi habitat bagi hewan-hewan yang membantu penyerbukan dan predator hama.

5. Lapisan Ground-cover
Sesuai namanya, lapisan ini terdiri dari tumbuhan adalah lapisan yang menutupi lahan-lahan kosong, seperti rumput, bunga matahari, dan lidah buaya. 𝘎𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥-𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 memiliki peran penting untuk mencegah terjadinya erosi. Tak hanya itu, lapisan ini juga berguna untuk memenuhi kebutuhan mulsa. Mulsa merupakan zat yang berguna untuk menjaga kelembapan tanah dan mencegah pertumbuhan gulma. Seiring dengan bertambahnya umur tumbuh-tumbuhan di 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯, kebutuhan mulsa juga pasti akan bertambah.

6. Lapisan akar
Lapisan ini terdiri dari tanaman seperti kentang, wortel, lobak, dan lain-lain. Akar dari tanaman pada lapisan ini berguna untuk meningkatkan kesuburan tanah.

7. Lapisan vertikal
Tanaman vertikal dicirikan dengan morfologi tanaman yang menjalar dan merambat, seperti anggur. Tanaman ini bisa bertumbuh dengan menopang pada batang tanaman kanopi dan subkanopi yang kokoh. Oleh karena, tanaman vertikal perlu dirawat dengan baik supaya tidak menghambat pertumbuhan tanaman lain.

Dengan membudidayakan tanaman dengan variasi ketinggian yang beragam, kombinasi tanaman tersebut dapat mengisi ruang-ruang kosong tidak hanya secara horizontal seperti pada gambar 1, namun juga secara vertikal seperti pada gambar 4, sehingga pengunaan lahan menjadi optimal.

Banyaknya jenis tumbuhan yang ditumbuhkan akan menimbulkan periode pertumbuhan dan musim panen yang berbeda-beda. Untuk itu, seorang pengelola perkebunan perlu membuat jadwal penanaman dan pemanenan sedemikian rupa supaya hasil panen menjadi maksimal. Hal ini disebut dengan optimalisasi waktu.

Konsep 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 dengan optimalisasi yang tepat dapat mengatasi kendala keterbatasan lahan. Namun, ada jauh lebih banyak keunggulan yang ditawarkan oleh 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 yang dapat mengatasi berbagai masalah, seperti:

  1. Kebutuhan insektisida untuk membasmi hama dapat diatasi dengan menanam tanaman yang dapat menjadi habitat hewan predator.
  2. Forest gardening dapat mengurangi kebutuhan pupuk dengan penanaman tumbuhan pengikat nitrogen.
  3. Implementasi 𝘵𝘳𝘪𝘢𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘴𝘱𝘢𝘤𝘪𝘯𝘨 dan keberadaan 𝘨𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥-𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 dapat menekan pertumbuhan tanaman liar yang merugikan.
  4. Usaha yang diperlukan untuk memelihara 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯 dapat berkurang dengan membudidayakan tumbuhan menahun seperti stroberi, kentang, dan 𝘴𝘢𝘨𝘦. Tumbuhan menahun merupakan kelompok tanaman yang memiliki siklus hidup yang sangat lama, yaitu lebih dari dua tahun.
  5. Beragam komoditas dapat dipanen dari 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯 dikarenakan banyaknya jenis tanaman yang dibudidayakan.
  6. Kawasan perkebunan akan terlihat jauh lebih indah dengan adanya tanaman yang dapat menarik hewan-hewan seperti burung, kupu-kupu, dan serangga.
  7. Keuntungan yang didapat dari penjualan produk 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯 akan lebih besar karena kebutuhan akan insektisida, pupuk, dan pemeliharaan yang minim.
  8. Keberadaan tujuh lapisan dalam 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯 saling menopang kehidupan satu dengan yang lain sehingga tercipta ekosistem perkebunan yang cenderung bersifat 𝘴𝘦𝘭𝘧-𝘴𝘶𝘴𝘵𝘢𝘪𝘯𝘪𝘯𝘨 (mandiri) dan tidak membutuhkan upaya yang besar untuk pemeliharaan.

Dengan paparan dan keunggulan mengenai 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨, penulis hendak menggagaskan perintisan 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯 di Indonesia, guna meningkatkan produksi buah jeruk dan subtropika, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Lahan yang dibutuhkan untuk perkebunan berukuran 60 m × 60 m. Daerah yang dipilih oleh penulis adalah daerah dataran tinggi dengan ketinggian 900–1200 meter di atas permukaan laut, dan dapat diakses dengan mudah melalui jalan raya. Spesfikasi lahan ini bertujuan untuk menopang pertumbuhan tanaman yang akan dibudidayakan.
  2.  Lahan akan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kawasan perkebunan (40 m × 60 m), bangunan tempat penyimpanan hasil panen (20 m × 30 m, bertingkat), dan lahan parkir (20 m × 30 m).
  3. Teknik 𝘵𝘳𝘪𝘢𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘴𝘱𝘢𝘤𝘪𝘯𝘨 akan diimplementasikan untuk memaksimalkan pengunaan lahan.
  4. Tanaman kanopi yang akan dibudidayakan adalah kelengkeng (𝘋𝘪𝘮𝘰𝘤𝘢𝘳𝘱𝘶𝘴 𝘭𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯). Dengan tinggi pohon yang dapat mencapai 10 meter dan tajuk selebar 15 meter, perannya sebagai tanaman kanopi tak perlu diragukan. Tanaman kelengkeng merupakan tanaman dikotil, sebuah golongan flora yang dapat memproduksi zat kayu untuk meningkatkan kekuatan batang, sehingga mampu menopang tanaman vertikal. Tanaman kelengkeng juga bisa ditanam pada daerah dataran tinggi.
  5. Tanaman subkanopi yang cocok ditanam di dataran tinggi adalah pohon jeruk keprok (𝘊𝘪𝘵𝘳𝘶𝘴 𝘳𝘦𝘵𝘪𝘤𝘶𝘭𝘢𝘵𝘦) dan pohon apel malang (𝘔𝘢𝘭𝘶𝘴 𝘴𝘺𝘭𝘷𝘦𝘴𝘵𝘳𝘪𝘴). Kedua spesies berperan sebagai tanaman subkanopi dengan ketinggian rata-rata pohon 3–6 meter, lebih pendek daripada pohon kelengkeng. Tanaman jeruk keprok juga bisa digunakan untuk membantu pertumbuhan tanaman vertikal.
  6. Untuk lapisan semak, penulis menggagaskan budidaya stroberi kebun (𝘍𝘳𝘢𝘨𝘢𝘳𝘪𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘯𝘢𝘴𝘴𝘢) dan raspberi. Kedua tanaman ini bisa tumbuh dengan baik di dataran tinggi. Stroberi kebun membutuhkan sinar matahari dalam jumlah banyak, sehingga harus ditanam pada daerah yang terpapar sinar matahari. Sebaliknya, raspberi dapat tumbuh dengan baik meskipun tidak banyak menerima sinar matahari, sehingga dapat ditanam di bawah tanaman kanopi atau subkanopi.
  7. Anggur adalah tanaman fleksibel, yang mampu tumbuh pada dataran tinggi maupun rendah. Tanaman ini cocok untuk mengisi lapisan vertikal. Morfologi tanaman anggur yang menjalar dapat difasilitasi oleh batang pohon kelengkeng dan jeruk keprok yang kokoh.
  8. Untuk 𝘨𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥-𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳, gagasan penulis adalah membudidayakan tanaman 𝘢𝘭𝘰𝘦 𝘷𝘦𝘳𝘢 dan bunga matahari. 𝘈𝘭𝘰𝘦 𝘷𝘦𝘳𝘢, yang dikenal dengan sebutan lidah buaya, dapat tumbuh dengan baik di ketinggian 1000 m dan memiliki khasiat klinis. Sebagai tambahan, pemilihan bunga matahari sebagai 𝘨𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥-𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳 juga bertujuan untuk menarik hewan yang dapat berperan sebagai predator hama dan agen penyerbukan. Keberadaan bunga matahari juga dapat meningkatkan kecantikan perkebunan.
  9. Lapisan tanaman herba yang sesuai untuk melengkapi 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯 adalah tumbuh-tumbuhan yang menarik dan memiliki bunga yang indah, dengan tujuan memikat hewan predator dan pembantu penyerbukan. Misalnya, daun 𝘮𝘪𝘯𝘵, 𝘳𝘰𝘴𝘦𝘮𝘢𝘳𝘺, dan adas sowa.
  10. Karena bisa dipelihara di dataran tinggi, penulis memilih kentang, wortel, dan lobak sebagai tanaman yang tepat untuk mengisi lapisan akar.
  11. Penambahan tumbuhan pengikat nitrogen, seperti kacang tanah, juga bisa dilakukan guna mengurangi kebutuhan pupuk. Pengikatan nitrogen dilakukan oleh bakteri 𝘳𝘩𝘪𝘻𝘰𝘣𝘪𝘶𝘮 yang bersimbiosis dengan akar tanaman kacang-kacangan.
  12. Bagan pembagian daerah dan bagan vertikal 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯 yang digagaskan penulis dapat dilihat pada gambar 2 dan gambar 3.
    Berdasarkan paparan yang telah dituliskan, konsep 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯 yang ditawarkan oleh penulis mampu memproduksi banyak varian horikultura jeruk dan buah subtropika, beserta produk sekunder lainnya seperti tanaman herba dan tanaman akar. Konsep 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 yang berprinsip menumbuhkan kebun secara alami juga sangat ramah lingkungan, dan dengan demikian mencegah dampak buruk yang dapat terjadi seperti perladangan berpindah.

Meskipun 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 adalah konsep berkebun yang dapat membuka peluang baru bagi sektor perkebunan jeruk dan buah subtropika di Indonesia, hal ini akan sia-sia apabila tidak diiringi oleh penanganan pascapanen yang tepat. Penanganan pascapanen yang masih menjadi kendala di Indonesia adalah mempertahankan kualitas. Untuk itu, penulis memaparkan beberapa metode dan langkah yang dapat ditempuh untuk menjaga kualitas buah-buahan setelah panen, yang meliputi:

  1. Panen dilakukan dengan berhati-hati dan efisien. Kecerobahan dalam memanen dapat menyebabkan buah cacat karena goresan, tusukan, memar, dan lain-lain. Kecacatan pada buah yang sudah dipanen dapat berakibat penurunan kualitas buah dan penurunan harga jual.
  2. Pencucian buah dengan campuran air dan klorin bertujuan untuk menghilangkan bakteri pada buah. Proses pencucian juga harus diikuti oleh proses pengeringan. Namun, langkah ini sebaiknya tidak dilakukan untuk buah yang bertekstur lunak.
  3. Teknik 𝘤𝘶𝘳𝘪𝘯𝘨 dapat digunakan untuk memperbaiki kulit buah ataupun sayur. Langkah ini dilaksanakan dengan membiarkan produk di dalam suhu ruang selama beberapa hari. Selain itu, proses 𝘤𝘶𝘳𝘪𝘯𝘨 juga memiliki manfaat untuk menurunkan kadar air di dalam buah guna mencegah pertumbuhan jamur dan bakteri yang merugikan.
  4. Sortasi atau pemilahan produk perlu dilakukan untuk mengelompokkan komoditas sesuai mutunya. Selain kualitas, sortasi juga didasarkan pada ukuran, tingkat kematangan, kerusakan, warna, dan lain-lain.
  5. Penyimpanan dan pengemasan dilakukan sedemikian rupa supaya buah bisa tahan lama tanpa adanya pengawet. Penyimpanan dapat dilakukan di lemari pendingin untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang merugikan. Sementara itu, pengemasan harus dilaksanakan dengan teliti dan cermat agar proses pengemasan maupun kemasan tidak merusak fisik buah.
  6. Semua langkah yang telah disebutkan harus dilaksanakan dengan saksama agar tidak memicu kerusakan pada buah.
    Dengan keadaan alam nusantara yang mendukung, penulis menyimpulkan bahwa 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 sangat berpeluang untuk diterapkan di Indonesia. Dengan banyak keunggulan, perintisan 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯 di daerah dataran tinggi merupakan fasilitas yang baik untuk menunjang produksi komoditas jeruk keprok dan buah subtropika, beserta berbagai produk lainnya. Apabila ditunjang dengan penanganan pascapanen yang optimal, produk akan memiliki mutu yang sangat baik, dan bahkan layak untuk diekspor.

Demikianlah paparan yang dapat disampaikan oleh penulis mengenai upaya pengembangan produksi buah jeruk dan subtropika melalui 𝘧𝘰𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘥𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨 beserta penanganan pascapanennya. Harapan dari penulis adalah esai ini dapat membuka wawasan pembaca tentang metode baru yang dapat diterapkan untuk pengembangan usaha perkebunan di Indonesia.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗴𝗲𝗻𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗺𝘂𝗱𝗮, 𝗺𝗮𝗿𝗶 𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗹𝗺𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗼𝗹𝗲𝗵 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗼𝗻𝘁𝗿𝗶𝗯𝘂𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝘀𝗲𝗷𝗮𝗵𝘁𝗲𝗿𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮, 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘀𝗶𝘀𝗶 𝗮𝗴𝗿𝗶𝗸𝘂𝗹𝘁𝘂𝗿, 𝗻𝗮𝗺𝘂𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘀𝗲𝗴𝗮𝗹𝗮 𝗮𝘀𝗽𝗲𝗸 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻. [Jestro2020]

Agenda

no event