Fieldtrip Peserta Rakor BBSDL di Kebun Bujangseta Banyuwangi

BBSDL (Balai Besar Sumber Daya Lahan) Balitbangtan menyelenggarakan rapat koordinasi di Banyuwangi pada tanggal 20-23 Maret 2019. Kegiatan ini diikuti oleh balai penelitian lingkup BBSDL: Balitklimat, Balingtan, Balitra, Balittanah dan BBSDL. Acara dibuka oleh Kepala Balitbangtan Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si dengan tema “Akselerasi Penciptaan dan Hilirisasi Inovasi Teknologi Sumber Daya Lahan untuk Mendukung Kegiatan Strategis Balitbangtan Menuju Era Industri 4.0.”

Salah satu acara dalam rakor tersebut adalah fieldtrip ke kebun jeruk petani di Banyuwangi yang sudah menerapkan teknologi Bujangseta yang dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2019. Dalam acara ini tim Balitjestro diwakili oleh Buyung Al Fanshuri, Ady Cahyono dan Agung Dwi S. Tim Balitjestro mempresentasikan teknologi Bujangseta pada para peserta rakor BBSDL di Hotel Illira sebelum para peserta menuju lokasi field trip. Lokasi fieldtrip di kebun Mislan Desa Plampangrejo Kecamatan Cluring. Lokasi ini dipilih karena tanaman jeruknya mempunyai beberapa tahap buah dan ada buah yang siap panen. Peserta fieldtrip berjumlah sekitar 127 orang yang berasal dari lima instansi dibawah lingkup BBSDL.

Pelaksanaan fieldtrip dibuat dengan konsep eduwisata petik buah jeruk. Sebelum memasuki kebun, para peserta diberikan penjelasan tentang hasil pendampingan Balitjestro oleh petani yang diwakili oleh H Mansur dan Sulaiman. Petani tersebut menyampaikan tentang teknis teknologi Bujangseta dan peningkatan hasil yang diperoleh setelah diterapkannya teknologi tersebut.

Peserta fieldtrip lebih jelas setelah memasuki area kebun dan melihat langsung tanaman jeruknya. Di dalam area kebun dijelaskan juga tentang cara memetik jeruk yang benar dan ciri-ciri buah jeruk yang siap petik. Peserta dikenai biaya 10 ribu per orang untuk masuk ke lokasi dengan fasilitas makan buah jeruk sepuasnya di dalam kebun dan diperbolehkan membeli buah jeruk dengan harga 10 ribu/kg. Dengan kegiatan ini petani merasa senang dikarenakan buah yang dipetik dihargai lebih mahal dibandingkan dijual dipasar dan peserta puas dengan bertambahnya pengetahuan. (BAF_2019)