FGD Sinergitas LIPI – Balitjestro Tuntaskan Permasalahan Apel

[cml_media_alt id='1084']LIPI_Balitjestro_Apel[/cml_media_alt]

Peneliti dari LIPI Pusat Penelitian Sumberdaya Regional yaitu Gusnelly, SH, M.Si, Krisna,  Yudho Utomo dan Anang Wijaya bertemu dengan Ketua Kelompok Peneliti Balitjestro pada Jum’at 15 Mei 2015. Kedatangan ini untuk melakukan Forum Group Discussion (FGD) mengenai permasalahan pengembangan apel, khususnya di Malang Raya. Dalam makalahnya, peneliti dari LIPI mengangkat tema; “Sinergitas Pengembangan Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Melalui Transformasi Pengetahuan, Studi Peran dan Fungsi Petani Muda Mantan Program Magang di Jepang”.

Dr. Ir. Harwanto, MSi selaku Kasi Yantek dan Jaslit sekaligus Plh Kepala Balitjestro menerima dan menjelaskan posisi Balitjestro, dimana apel menjadi salah satu komoditas namun penelitiannya masih tertinggal jauh dibandingkan tanaman jeruk. Dalam kesempatan ini, hadir pula tim peneliti Ir. Agus Sugiyatno MS (Sie Jaslit), Ir. Sutopo, M.Si (Ketua Kelti Ekofisiologi), Dr. Chaireni SP, M.Si (Ketua Kelti Pemuliaan), Ir. Suhariyono (Peneliti Apel), dan Ir. Mutia Erti Dwiastuti, MS (Mewakili Kelti Entomologi).

Diskusi lebih dititikberatkan pada permasalahan diseminasi dan pemasaran apel, sejauh mana Balitjestro sudah melakukan program mengatasi permasalahan apel di Batu dan sekitarnya. Gusnelly dalam kesempatan ini menceritakan bahwa ada Ikatan Mantan Magang Jepang (IKAMAJA) yang ingin berpartisipasi menuntaskan persoalan pertanian di Indonesia, namun selama ini belum terberdayakan secara optimal. IKAMAJA merupakan diharapkan menjadi pasukan khusus atau force agent terutama dalam hal alih teknologi pertanian.

[cml_media_alt id='1085']LIPI_Balitjestro_FGD[/cml_media_alt]

IKAMAJA ini adalah program magang di Jepang sejak 1984 yang diselenggarakan oleh BPPSDMP Kementerian Pertanian dimana petani muda dikirim untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dari petani di Jepang selama 1 tahun. Hal ini juga untuk menarik minat pemuda yang akhir-akhir ini mulai menjauh dari sektor pertanian.

LIPI dalam penelitian berjangka waktu 3 tahun menitikberatkan pada kajian bidang UMKM dan Agroindustri apel. Kajian lebih dalam dalam bidang kewirausahaan dan pengembangan pasar. Sutopo menyarankan agar perlu dibuat batasan lebih cermat lagi mengenai permasalahan apel, karena petani apel di Batu dan di Nongkojajar berbeda karakteristiknya. Petani dan Struktur organisasi petani di Batu sudah lama menggeluti apel. Permasalahan lebih kompleks, namun dalam sisi organisasi petani juga lebih banyak dan matang.

Suhariyono yang menggeluti apel sejak tahun 1970-an paham sekali sejarah pengembangan apel. Apel di Batu mengalami kejayaan pada dekade 1980-1990an dan mengalami kemerosotan sejak krisis 1998. Sebelumnya dengan 3 kg apel petani dapat membeli pestisida, sekarang ini butuh setidaknya 10 kg apel untuk membeli pestisida. Apel Batu mulai jarang ditemukan di pasar luar kota karena selain produksinya merosot, petani ramai-ramai menggalakkan wisata petik apel. Apel yang semula harganya Rp 5000,-/kg bisa meningkat menjadi Rp 20.000,-/kg dengan sistem wisata petik.

Point penting dalam FGD kali ini adalah dibangunnya komitmen untuk mempererat kerjasama. Balitjestro akan bergerak di penelitian dasar dan budidaya, sedangkan LIPI dan yang lainnya bergerak di pengembangan pemasaran dan kewirausahaannya. Semoga permasalahan apel di Malang Raya ini dapat dicari solusinya segera dan program nyata dapat digulirkan tidak lama lagi.

[cml_media_alt id='1086']LIPI_Balitjestro[/cml_media_alt]

Berita dan Foto: Zainuri Hanif

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event