Evaluasi Aspek Sosial Ekonomi Sitara di Banyuwangi

Peneliti dan teknisi Balitjestro yang tergabung dalam Tim Penelitian SITARA (Sistem Tanam Rapat) melakukan survei sosial ekonomi dampak SITARA terhadap pendapatan petani jeruk Banyuwangi pada Senin-Kamis, 1-4 Juli 2019. Selain survei dilakukan juga kawalan budidaya jeruk yaitu pemupukan dan pemangkasan jeruk saat ini menginjak tahun ke-3. Tim ini terdiri dari Sutopo, Lizia Zamzami, Lyli Mufidah, Zainuri Hanif, Agus Basman dan Supriyanto.

Panen jeruk pertama biasanya hanya sekitar 5 – 10 kg per pohon bergantung pada ukuran pohon sehingga secara ekonomi nilainya masih belum berarti. Buah ini biasanya terdapat di ranting bagian bawah. Dengan jumlah pohon per luasan lahan dua atau tiga kali lebih banyak maka pendapatan yang diperoleh pada awal tanaman berbuah juga berlipat.

Petani yang terlibat dalam kegiatan SITARA perlu dipastikan agar mampu mengukur sejauh mana modal yang dikeluarkan (termasuk saprodi yang berasal dari Balitjestro) dan hasil panen yang sudah dan akan dicapai pada tahun 2019 ini. Tahun ini merupakan tahun perdana panen buah jeruk hasil teknologi SITARA.

Sutopo sebagai penanggungjawab kegiatan Sitara mengemukakan bahwa kepemilikan lahan yang sempit seringkali menjadi halangan untuk menghasilkan volume buah panen yang besar. Dengan jeruk SITARA, masalah tersebut menjadi tidak berlaku karena populasi pohon jeruk SITARA bisa dilipatgandakan atau bahan bisa tiga kali lebih banyak dibandingkan menggunakan jarak tanam normal.

Menanggapi beberapa pertanyaan mengenai tingginya kelembaban dan biaya pemangkasan yang besar akibat rapatnya jarak antar pohon, Sutopo menjawab bahwa SITARA dilakukan dengan teknik menamam yang berbeda dari jarak dan kerapatan normal sehingga ruang masih terbuka untuk masuknya cahaya, bahkan jika lokasinya datar, traktor pun bisa masuk kebun jeruk.

Pengalaman berkebun sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja untuk satu hektar yang ditanami 400 pohon jeruk dibandingkan dengan satu hektar ditanami sekitar 1.000 pohon jeruk ternyata tidak jauh berbeda. Oleh karena itu, setelah diolah, analisa ekonomi yang komplit ini akan dipublikasikan juga agar manfaat SITARA benar-benar bisa dirasakan petani. (zh)