Embung Sebagai Sumber Pengairan Tanaman Buah-buahan di Lahan Perbukitan

Salah satu kegiatan dalam penelitian plasma nutfah lengkeng adalah survey dan eksplorasi. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan survey di daerah produksi buah lengkeng dan mengeksplorasi hal-hal yang terkait dengan budidaya tanaman lengkeng dari hulu sampai hilir. Hasil dari kegiatan tersebut yang utama adalah mendapatkan varietas lengkeng yang belum dipunyai Balitjestro untuk kemudian dikonservasi di kebun percobaan.

Alih fungsi lahan pertanian pada daerah persawahan yang beririgasi teknis menjadi lahan non pertanian mengakibatkan berkurangnya lahan pertanian. Hal ini menyebabkan pengembangan pertanian ke daerah sub optimal, daerah yang memiliki keterbatasan namun mempunyai potensi yang besar jika dikelola dengan benar. Salah satu daerah tersebut adalah lahan perbukitan yang belum terkelola dengan optimal.

Sebagian besar tanah di lahan perbukitan termasuk subur karena termasuk tanah vulkanis. Selama ini daerah perbukitan hanya ditanami tanaman kayu saja yang secara pemeliharaan tanaman relatif mudah, namun tidak bisa meningkatkan perekonomian daerah secara umum. Masalah utama pada daerah perbukitan tersebut adalah sistem pengairannya yang tadah hujan.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Indonesia mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan penghujan. Masalah klasiknya adalah ketika kemarau kekeringan dan ketika penghujan kebanjiran. Dengan rata-rata curah hujan yang tinggi adalah potensi yang besar apabila kita mampu menampung airnya dan mengalirkannya di musim kemarau. Itulah tantangan yang harus bisa diseleseikan oleh semua pihak bukan hanya pemerintah.

Tantangan inilah yang dijadikan oleh PT. Zanzibar sebagai sebuah peluang untuk mengembangkan tanaman buah-buahan dengan mengoptimalkan lahan di perbukitan dan mengatasi masalah ketersediaan air. Tanaman buah-buahan dipilih karena selain menghasilkan juga mampu sebagai tanaman konservasi. Untuk mengatasi masalah ketersediaan air dibuatkan embung di puncak bukit.

Salah satu kebun milik PT Zanzibar adalah kebun Ngebruk yang berlokasi di Desa Sidokumpul, Kecamatan Patekan, Kabupaten Kendal, provinsi Jawa Tengah. Tanaman buah-buahan yang dikembangkan adalah lengkeng, durian, binjai, srikaya, jambu dan buah naga dengan total luas area 234 ha.

Sebuah kata bijak dari orang Thailand “Menanam buah-buahan tanpa adanya sumber air yang mencukupi sama saja dengan menanam kayu”. Kata-kata itulah yang digunakan sebagai dasar oleh pemilik perusahaan untuk membuat embung untuk menampung air di musim hujan dan mengalirkannnya di musim kemarau.

Embung dibuat di puncak bukit dengan maksud agar air dapat mengalir di musim kemarau dengan gaya gravitasi. Kedalaman embung tergantung rata-rata curah hujan setahun daerah setempat, apabila curah hujan rata-rata 2500 mm/tahun maka kedalaman embung 2,5 m, jika 3000 mm/tahun maka kedalaman embung 3 m, dan seterusnya.

Satu embung mampu mengairi tanaman dengan luas 20 ha pada musim kemarau. Embung dibuat dengan membuat cekungan dan memadatkan tanahnya. Tanah yang sudah berbentuk cekungan kemudian dilapisi plastik geomembran sebelum digunakan untuk menampung air. Plastik geomembran berwarna hitam perak dan mampu bertahan selama lebih dari 20 tahun.

Dengan embung itulah, tanaman buah-buahan di kebun Ngebruk mampu berproduksi secara optimal. Selain digunakan sebagai pengairan, embung juga mempunyai nilai estetika yang tinggi sehingga bisa digunakan sebagai tempat wisata karena tempatnya yang tinggi mempunyai pemandangan yang indah.

Konsep integrasi embung dan budidaya tanaman buah-buahan inilah yang dikembangkan oleh Bapak Budi Darmawan. Keberhasilan di Ngebruk ditularkan ke daerah lain lewat salah satu lembaga pemberdayaan masyarakat milik beliau yang bernama yayasan obor tani. Dengan modal kerjasama dana CSR dari beberapa instansi, diantaranya Bank BPD Jateng, Pertamina, Pemerintah daerah dan lain-lain konsep integrasi tersebut sampai sekarang sudah dikembangkan di daerah Kulonprogo, Gunungkidul, Temanggung, Kebumen, Banyumas dan Garut.

Harapan ke depan adalah dengan semakin banyaknya daerah yang mengadopsi teknologi integrasi embung dan tanaman buah-buahan maka daerah perbukitan yang sebelumnya sub optimal menjadi daerah yang optimal untuk pertanian dan meningkatkan produksi buah nusantara. Meningkatnya produksi buah nusantara maka impor buah mampu dikurangi atau bahkan distop dan bisa ekspor. Dengan potensi lahan yang subur, sinar matahari dan air yang melimpah maka cita-cita agar buah nusantara menjadi tuan rumah di negeri sendiri tidak mustahil terwujud asal kita semua mau berusaha dan tentunya berdoa sehingga sumber daya alam bisa terkelola dengan benar.

Gambar embung dan hamparan tanaman lengkeng yang diairi embung.

 

Oleh : Buyung Al Fanshuri
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Related Post

Tinggalkan Balasan