Eko Santoso: Anak Muda Jutawan Jeruk

Trubus 570 – Mei 2017/XLVIII: 38-39

Anak muda yang serius mengebunkan jeruk berkualitas. Omzet mencapai Rp684-juta per 1,5 tahun.

Setiap 1,5 tahun Eko Santoso meraih omzet Rp684-juta atau Rp38-Juta per bulan. Itu hasil perniagaan 40 ton jeruk keprok batu 55, 12 ton siam madu, dan 30 ton baby pacitan. Pekebun jeruk di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu menjual jeruk langsung ke pengepul. Pengepul yang, memanen. Tidak ada sortir buah karena pengepul membeli secara borongan.

Itulah sebabnya pengepul menentukan harga yang sama untuk buah berkualitas bagus dan rendah. “Harga jeruk keprok saat ini Rp9.000 per kg, siam madu Rp 12.000 per kg, dan baby pacitan Rp6.000 per kg;’ kata pria kelahiran Malang, 8 Agustus 1992, itu. Pemuda itu menuturkan biaya produksi per kilogram saat ini Rp7.000 untuk keprok, Rp6.000 (siam rnadu). dan Rp3.000 (baby pacitan). Setelah mengurangi biaya produksi itu, laba bersih Eko Rp13-Juta per bulan.

Budidava intensif

Penghasilan itu tergolong besar untuk Eko yang hidup di desa. Pemuda 24 tahun itu memanfaatkan keuntungan berkebun jeruk untuk memperluas tanah. Jeruk bukanlah barang baru bagi Eko. Sejak menjadi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) ia kerap membantu orang tua berkebun jeruk. Ketika anak seusianya bermain selepas pulang sekolah, Eko malah mencabuti gulma dan menyemprotkan pestisida ke tanaman buah anggota famili Rutaceae itu.

“Saya senang karena bisa bermanfaat kepada orangtua,” kata anak kedua dari dua bersaudara itu. Pekerjaan membantu orang tua di kebun yang hampir setiap hari itu membawa berkah tersendiri. Eko memahami cara membudidayakan jeruk dengan benar. Eko menuturkan, “Lebih enak rnenjadi petani jeruk karena lebih mudah dan sederhana untuk mendapatkan uang. Selain itu badan juga lebih sehat karena bergerak terus”

Setelah mampu mengelola kebun jeruk, ayahnya, Paniri-pun menyerahkan 3 hektare kebun jeruk kepada Eko. Lahan di Kecamatan Dau dan Karangploso, keduanya di Kabupaten Malang, itu terdiri atas 1,5 ha kebun jeruk keprok batu 55, 1 hektare siam madu, dan 0,5 hektare baby pacitan. la menanam 1.000 pohon per hektare hasil grafting. Bibit jeruk keprok batu 55 ia dapatkan dari Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro).

Kesuksesan Eko menanam jeruk bukan tanpa aral. Pada 2002 ia pernah merugi jutaan rupiah. Musababnya jeruk siam melimpah sehingga harga jeruk keprok jatuh menjadi Rp6.000 per kg, semula Rp 10.000 per kg. Namun Eko tak patah arang dan terus menekuni profesinya. Eko rnengebunkan jeruk secara intensif. la memberikan 1 kg pupuk kandang sapi terfermentasi per tanaman sebagai pupuk dasar.

Jeruk kampiun

Dosis pupuk kandang itu meningkat saat tanaman berumur 2 tahun dan frekuensi pemberian sekali setahun. Ketika tanaman berumur 3 tahun, Eko menambahkan 5 genggam pupuk NPK berimbang 16-16-16 per tanaman setiap 6 bulan sekali. Untuk mengendalikan hama dan penyakit. Eko mengandalkan insektisida berbahan aktif abamektin ketika tanaman mulai berbunga.

“Caranya saya mencampur 1 liter insektisida dengan 1.100 liter air,” kata Eko yang juga menanam cabai besar itu. Ia memberikan pestisida itu 3-7 hari sekali tergantung tingkat serangan organisme pengganggu tanaman. Untuk menghalau cendawan Eko memanfaatkan fungisida berbahan aktif mankozeb. Dengan perawatan intensif itu, tanaman berkembang optimal sehingga mendatangkan laba besar.

Bahkan buah jeruk hasil budidayanya berkualitas tinggi. Pada 2016 ia mengikutsertakan jeruk keprok batu 55 pada ajang bergengsi Lomba Buah Unggul Nusantara (LBUN). Penyelenggara perhelatan nasioanal itu kerja sama tiga lembaga, Majalah Tnibus, Institut Pertanian Bogar, dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Pada ajang bergengsi itu, jeruk keprok milik Eko meraih juara pertama pada kelas jeruk manis dengan nilai 92,06. Kini Eko makin bersemangat menghasilkan jeruk-jeruk berkualitas terbaik di tanah air. (Bandan, Setyawan)