Dukungan Vitroplant Balitbangtan untuk Kemajuan Agrowisata Stroberi di Bedugul Bali

stroberi.4a

Bedugul, Bali identik dengan stroberi. Bila kita menyusuri jalan di kawasan bedugul, buah berbentuk merah hati itu akan menjadi pemandangan dan dijajakan pedagang. Wajar saja karena alam bedugul yang diatas 1000 m dpl, sangat sesuai untuk budidaya stroberi. Kelompok tani yang kami pilih, di Desa Pancasari, bertani di ketinggian 1100-1200 m dpl. Sejak 1989 mereka mulai berkebun stroberi, dari benih sisa pengembang swasta yang berlokasi di sekitar kawasan mereka.

 

Sistem pertanian tradisional itu selama ini tanpa sentuhan bioteknologi perbenihan, menyebabkan produktivitas stroberi semakin menurun dari waktu ke waktu dan biaya produksi yang semakin besar. Ini tentu meresahkan petani. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengimpor benih, namun gagal. Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) melalui unitnya di Kota Batu yaitu Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) sejak setahun terakhir telah mentransfer vitroplant (tanaman dari in vitro) stroberi kepada kelompok tani Pancasari, Bedugul di Bali.

Tim peneliti stroberi balitjestro, Dita Agisimanto (Pemulia), Yunimar (HPT) dan Oka Banaty (Ekofisiologi Tanaman) yang mengamati perkembangan tanaman akhir Oktober ini  melihat progress yang mengesankan. Penggantian tanaman stroberi di kawasan produksi yang selama ini menggunakan benih dari stolon dari pohon induk “tua” dengan benih hasil kultur jaringan Balitjestro, kedepan akan menjadi target petani.

Perkembangan vitroplant dan turunannya (V1-V5) yang ditanam di lahan tadah hujan (irigasi PDAM) sejauh ini menggembirakan dan mengesankan bagi petani dan peneliti. Tanaman generasi baru hasil kultur jaringan tumbuh lebih vigor, lebih cepat dan banyak menghasilkan stolon dan bunga dibanding tanaman lama pada kondisi kekeringan. Dari pengamatan petani, dengan jumlah populasi yang sama, tanaman stroberi dari Balitbangtan yang diserahkan Balitjestro menghasilkan 3-4 kali lebih banyak dari pada tanaman lokal artinya terjadi hingga 400% kenaikan pendapatan petani partner. Ini terjadi pada tanaman generasi V3-V4.

Pada musim kemarau ini sebagian besar anggota petani partner kehilangan tanaman karena keterbatasan  sumber air. “Keripik” stroberi mudah ditemukan dimana-mana. Nasib vitroplant lebih baik. Pada Gambar 1 dapat kita lihat kondisi vitroplant dan tanaman lokal yang tumbuh berseberangan dalam plotnya. Menurut pengamatan petani, vitroplant lebih tahan kekeringan karena sistem perakaran yang lebih baik, luas dan dalam. Vitroplant di Desa Pancasari yang berada pada ketinggian 1100 dpl  90% survive (Gambar 2). Sementara di kawasan yang lebih tinggi >1200 dpl umumnya tanaman lokal dan vitroplant kekeringan karena panas matahari tidak dapat “dilawan” oleh irigasi dari sumber PDAM (Gambar 3). Kondisi ini sangat berbeda bila dibandingkan saat pengamatan di bulan Mei pada saat musim hujan sedang berlangsung.

stroberi1
Gambar 1. Kebun Ketua Kelompok Tani, yang memelihara V0 dari hasil kultur jaringan (kiri) dan tanaman local (kanan)
stroberi2
Gambar 2. Tanaman vitroplant V1 sehat di kebun Ketua Kelompok Tani (1100 m dpl) dipelihara dengan irigasi PDAM, stolon dan buah berlomba meski di musim kemarau

Kemarau yang rutin setiap tahun menyebabkan kerugian 5 bulanan setiap tahun. Program pemuliaan akan memiliki tantangan baru. Introduksi stroberi tahan kering perlu dipertimbangkan. Sumber genetik stroberi tahan kering sudah tersedia yang dikoleksi dari petani yang menyakini dari pengamatan tahunannya. Selain tantangan kekeringan, stroberi yang disukai petani Desa Pancasari, Rosalinda, ditemukan dalam beberapa variasi. Sebagai contoh ada stroberi Roalinda yang dijumpai bertangkai bunga panjang dan pendek. Apakah ini pengaruh budidaya jangka-panjang yang mereka lakukan selama ini atau terjadi variasi somaklonal perlu dikaji lebih lanjut. Pengaruh metode in vitro perlu dikorelasikan dengan fenomena “baru” yang dijumpai petani yaitu bunga lebih banyak dan stolon yang keluar lebih cepat dan banyak meski di musim kering. Hal ini tidak umum terjadi.

Keunggulan lain dari vitroplant adalah lebih tahan terhadap serangan OPT dibandingkan tanaman lokal. Serangan hama maupun penyakit sangat kecil sekali dibandingkan dengan tanaman lokal yang diaplikasi pestisida setiap 12 hari sekali dengan bermacam-macam pestisida. Ketahanan vitroplant terhadap serangan OPT merupakan harapan baru bagi petani stroberi karena mengurangi penggunaan pestisida. Selain mengurangi biaya pemeliharaan, penggunaan pestisida juga memberikan keamanan bagi konsumen untuk konsumsi stroberi segar.

Ketahanan yang sama dijumpai pula di kebun indoor Wiwanda Agrow. Menurut pemiliknya, bahwa dari mulai tanam (Juli-Agustus) hingga sekarang (Oktober) penggunaan pestisida baru dilakukan sekali saja. Padahal, vitroplant yang diberikan kepada petani tidak diinfeksikan mikrob endofitik.

Keberadaan vitroplant dikawasan produksi Desa Pancasari telah melahirkan pemain baru dalam wisata petik stroberi. Dengan modal 160 juta, 4000 stroberi lokal dan vitroplant di tanam di dalam screen plastik semi permanen (Gambar 4). Dalam 6 minggu belakangan ini penghasilan dari “mainan ” barumya ini mencapai 4 juta per minggu. Capaian perkebunan di lapang dan indoor ini telah menginduksi geliat petani stroberi desa Pancasari akan potensi vitroplant.

stroberi.4b
Gambar 4. Stroberi indoor “wiwanda agrow” dipelihara dengan system hidroponik. Stroberi Rosalinda tumbuh agresif, stolon keluar bersama dengan produksi buah didominasi oleh grade Jumbo dan A

Progress vitroplant ini memberi pertimbangan positif untuk memasuki periode baru sistem perkebunan stroberi. Dimasa datang strategi dalam mengurangi penggunaan pestisida dan meningkatkan keamanan dalam mengkonsumsi stroberi segar dapat dilakukan dengan memanfaatkan mikroba endofit yang berasosiasi dengan tanaman. Pada tanaman lain mikroba endofitik telah terbukti mampu menekan serangan penyakit bahkan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman karena beberapa mikroba endofitik berperan sebagai pupuk hayati.

Keberadaan mikrob endofitik yang hidup didalam tanaman memberi peluang untuk menghasilkan vitroplant yang terimunisasi mikrob endofitik yang tahan terhadap beberapa OPT. Saat ini mikrob endofitik telah diuji sifat antagonisme terhadap OPT diinduksikan pada tanaman secara in vitro  dan nursery, sehingga kedepan diharapkan petani stroberi bisa mendapatkan benih stroberi hasil kultur jaringan yang telah terimunisasi oleh mikrob endofitik atau stolon yang berasal dari induk yang mengandung mikrob endofitik. Semoga dana on-top atau alternatif dana lain dapat mewujudkan ekspektasi ini.  *** [Tim Stroberi | Balitjestro]

 

 

Tinggalkan Balasan