Dukungan Balitjestro untuk Perbenihan Jeruk di Sambas

Kabupaten Sambas provinsi Kalimantan Barat merupakan salah satu sentra agribisnis jeruk penting di Indonesia yang kini keberlanjutannya terganggu dengan kehadiran serangan penyakit Huanglongbing (HLB) sejak sebelum tahun 2010 yang disebabkan oleh penggunaan 70% bibit jeruk liar atau bibit yang tidak berlabel biru yang beredar luas di kawasan ini.

Di kecamatan Tebas yang memiliki sekitar 46% luas pertanaman jeruk di kabupaten Sambas, pada tahun 2015 luasan areal jeruk mencapai lebih dari 8.000 ha, sekitar 67% tanamannya sudah terinfeksi HLB dan sekitar 26%-nya telah dibongkar oleh petani secara mandiri dan ditanami dengan komoditas tanaman semusim.

Menurut penelitian Arry Supriyanto dkk, kondisi ini secara signifikan telah mempengaruhi kehidupan perekonomian sekitar 20% penduduk kabupaten Sambas yang terlibat dalam usaha perjerukan.

Otto Endarto, Setiono, Lizia Zamzami dan Zainuri Hanif pada 19-22 Maret 2019 berkunjung ke Sambas untuk melakukan penelitan diseminasi “Percontohan Model Perbenihan Jeruk Bebas Penyakit di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.” Kegiatan Balitjestro di tahun 2019 ini merupakan tindak lanjut dari tahun-tahun sebelumnya yang bertujuan membangun percontohan produksi benih sebar jeruk bebas penyakit (berlabel biru) modern dalam polybag yang dapat diadopsi oleh pelaku perbenihan jeruk (penangkar).

Dalam kegiatannya, temu lapang, training dan survei dilakukan untuk mendorong pengembangan kapasitas (pengetahuan dan keterampilan) kelembagaan pelaku perbenihan jeruk dari proses produksi sampai distribusi benih jeruk bebas penyakit.

Otto Endarto dan tim melakukan tinjauan mendadak di lapang dan melihat langsung bagaimana ke-5 penangkar yang tergabung kelompok dan beberapa lainnya yang di luar kelompok dalam menjalankan perbenihan jeruk. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan pemaparan tentang tantangan dan peluang pemasaran benih dan jeruk Siam Pontianak di Sambas.

Temuan di lapang, ternyata mayoritas penangkar masih menjalankan perbenihan jeruk menyalahi prosedur yang dianjurkan Balitjestro. Penanaman batang bawah JC dilakukan di bedengan yang lokasinya bersebelahan langsung dengan tanaman jeruk produksi yang terserang HLB.

Kondisi ini menyebabkan masalah serius yang selama ini merugikan petani, yaitu serangan HLB tidak akan tertangani. Jika ini terjadi petani dipastikan terus merugi karena tanaman jeruk mati atau harus dibongkar pada usia 4-6 tahun. Bahkan lebih mengkhawatirkan lagi, jika benih jeruk dari daerah ini keluar ke daerah lainnya, serangan HLB akan menyebar di daerah tersebut.

Keterbatasan benih jeruk berlabel bebas penyakit mengakibatkan petani terpaksa membeli benih liar (tidak berlabel biru). Disisi lain, program perbenihan yang dilakukan pemerintah di tahun-tahun sebelumnya ternyata tidak cukup kuat mendorong penangkar memproduksi benih jeruk berlabel bebas penyakit karena minimnya nilai tambah yang mereka dapatkan.

Kondisi ini harus disadari bersama, terutama pemerintah daerah setempat selaku pelaksana program di lapang. Balitjestro selaku salah satu representasi dari pemerintah pusat senantiasa siap mendukung dengan program pengawalannya.

Pada tahun 2018, Balitjestro sudah membantu penyediaan BPMT dengan membangun screenhouse BPMT jeruk yang dikelola secara modern yang akan menjadi sumber mata tempel jeruk bagi penangkar yang mau mengadopsi teknologi Balitjestro. Tentunya, bagi penangkar yang telah menjalankan proses perbenihan jeruk bebas penyakit sesuai anjuran akan mendapatkan berbagai nilai tambah, salah satunya yaitu adanya dukungan pemasaran benih. (Hnf_2019)