Dukungan Balitjestro Melalui Program Pengembangan Kawasan Agribisnis Hortikultura (PKAH)

PKAH

Kondisi agribisnis jeruk di Indonesia sampai dengan saat ini dalam posisi yang sangat  memprihatinkan. Menurut Harwanto, Kasie Yantek Balitjestro (16/10/2014), hal ini karena secara umum budidaya jeruk yang dilakukan oleh sebagian besar petani belum didukung sepenuhnya oleh penerapan teknologi yang memadai. Baik di sektor hulu maupun hilir, penerapan teknik budidaya masih belum memanfaatkan inovasi teknologi yang telah dihasilkan oleh Balitbangtan. Untuk itulah melalui diseminasi, tim peneliti dilakukan di berbagai daerah sentra untuk melakukan survei ke petani jeruk.

Hal yang sama juga terjadi pada sektor kelembagaan petani yang masih lemah, yang menyebabkan akselerasi adopsi teknologi lambat. Dampak yang timbul dari kondisi tersebut di atas adalah produktivitas dan produksi yang dihasilkan kurang optimal, kualitas produk umumnya dibawah standard yang dipersayaratkan, dan tidak ada jaminan ketersediaan secara kontinyu. Selanjutnya juga berdampak terhadap rendahnya posisi tawar petani dalam pemasaran dan lemahnya daya saing buah jeruk nasional.

Potensi pengembangan agribisnis jeruk berorientasi ekspor di Indonesia cukup besar. Hal ini didasarkan pada keragaman/kekayaan akan varietas jeruk bermutu yang memiliki daya saing tinggi, potensi wilayah pengembangan yang masih tersedia cukup luas, potensi pasar yang sangat terbuka dan cenderung meningkat setiap tahun sebagai akibat dari peningkatan pendapatan, ketersediaan tenaga kerja, juga ketersediaan inovasi teknologi budidaya jeruk yang berkembang pesat selama sepuluh tahun terakhir.

Potensi besar ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan asumsi semua komponen-komponen agribisnis ini dapat diimplementasikan secara terstruktur dan efektif, maka secara optimis pembangunan kawasan agribisnis hortikultura dapat diwujudkan, sehingga pada saatnya ketergantungan terhadap produk buah impor akan semakin dapat ditekan meskipun tidak dapat dinyatakan bebas sama sekali.

Impor buah jeruk Indonesia pada lima tahun terakhir meningkat secara tajam, mencapai 180.000 ton dengan nilai sebesar 1,6 triliun rupiah pada tahun 2011, namun di 2013 menurun karena kebijakan pembatasan impor hortikultura. Kecenderungan angka impor ini mengindikasikan bahwa buah  jeruk domestik semakin tidak berdaya menghadapi  penetrasi buah jeruk impor yang menjadikan Indonesia sebagai pasar potensialnya.

Peningkatan buah impor seringkali diiringi  dengan laju penambahan pasar modern yang mencapai 26% per tahun. Jeruk impor yang banyak diminati masyarakat sebagian besar adalah dari kelompok keprok,  yang pada dasarnya memang tidak banyak dibudidayakan di Indonesia. Hampir sekitar 85 % jeruk di Indonesia adalah jeruk Siam yang berwarna kurang menarik dibandingkan penampilan buah jeruk impor meskipun jenis ini banyak disukai oleh masyarakat Indonesia.

Mempertimbangkan segi urgensi perkembangan permasalahan jeruk nasional selama satu dekade terakhir, serta perkembangan isu perdagangan internasional khususnya Asia Pasifik yang dalam waktu dekat ini diberlakukan, Kementerian Pertanian menyusun program strategis empat sukses yang salah satunya diimplementasikan oleh Ditjen Hortikultura melalui Program Pengembangan Kawasan Agribisnis Hortikultura (PKAH).

Dalam kaitan ini, Balitbangtan mengambil peran untuk mendukung keberhasilan program. Program terdiri dari lima kegiatan utama yaitu 1) Pengembangan kawasan, 2) Penguatan industri perbenihan, 3) Pemantapan penerapan GAP, 5) Penguatan kelembagaan, dan 6) Penataan rantai pasok. Sebagai implementasi dukungan Balitbangtan, maka Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) secara proaktif melakukan serangkaian kegiatan pendampingan teknologi dan penyediaan benih sumber jeruk bebas penyakit. [Harwanto | Balitjestro]

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event