Dukungan Balitbangtan bagi Petani Stroberi di Serang Purbalingga

Rest Area Sentra Stroberi
Rest area yang menaikkan pamor agrowisata stroberi di Serang Purbalingga

Dua tahun yang lalu sebuah lokasi di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga ini hanyalah hamparan rerumputan dan alang-alang. Dengan gigihnya Sugito, Kepala Desa Serang yang didukung penuh petani stroberi di wilayah itu kemudian menyulap wilayah ini menjadi rest area yang nyaman dengan pemandangan Gunung Slamet yang elok menawan.

Tampak para pemuda menyiapkan sarana penunjang seperti flying fox, wisata berkuda, kids farmer, tracking, camping ground dan sarana outbound lainnya. Warung-warung pun berbaris rapi dan langsung menghadap gunung kebanggaan masyarakat Purbalingga dan sekitarnya ini. Desa Serang menjadi jalur penghubung antara wilayah Tegal, Pemalang, Purbalingga dan Banyumas.

Mereka pun menamakannya sebagai Agrowisata Lembah Asri Desa Wisata Serang. Tarifnya pun dipathok sangat terjangkau, cukup Rp 3000 untuk parkir mobil, Rp 1000 untuk sepeda motor dan setiap orang dewasa. Sepanjang jalan ke area ini, jalan aspal pun mulai dilebarkan 2 meter untuk memberi akses lebih kendaraan yang lebih besar.

Sugito yang mempunyai insting bisnis yang tajam ini menyadari bahwa semakin berkibarnya Purbalingga sebagai destinasi wisata di Jawa Tengah, Desa Serang ini pun mendapatkan imbasnya. Apalagi ikon stroberi yang diusung merupakan satu-satunya di wilayah Jawa Tengah. Stroberi di wilayah ini pun menjadi komoditas andalan. Luas tanam dan luas panen tanaman stroberi di kabupaten Purbalingga berkisar 50 ha dengan kondisi berfluktuasiasi tergantung jumlah tanaman yang harus dibongkar dan penanaman baru.

Permasalahan klasik stroberi

Setelah belasan tahun menanam stroberi, petani pun mulai mendapatkan masalah.
Permasalahan stroberi yang umum di Indonesia adalah ketersediaan benih berkualitas dan bebas penyakit. Penyediaan benih stroberi selama ini dilakukan secara konvensional dengan menggunakan stolon. Kelemahannya adalah volume perbanyakan relatif lebih sedikit dan tidak bebas penyakit karena infeksi patogen endogenous yang ditularkan dari tanaman induk. Bibit tertular patogen ini yang menyebabkan kualitas dan kualitas produksi buah semakin menurun setelah tiga periode penanaman.

Beberapa langkah sudah dilakukan, salah satunya adalah impor benih Osogrande pada 2011 yang ternyata hasilnya belum sesuai harapan. Berbagai pihak telah berkontribusi untuk mencari solusi persoalan ini, mulai dari Pemda, KKN tematik dari Universitas Jenderal Soedirman dan Universitas Gadjah Mada, dll.

Berbagai kegiatan pendampingan yang dilakukan tidak akan efektif selama akar persoalan yaitu ketersediaan benih yang berkualitas tidak teratasi. Balitjestro pun turut memberikan solusi dengan benih hasil dari kultur meristem. Kemandirian petani dalam ketersediaan benih harus dimunculkan. Impor memang bukan solusi yang bijak, karena belum tentu pula tanaman tersebut langsung adaptif dengan kondisi setempat.

MoU Pemda Purbalingga, Balijestro dan Puslitbanghorti

Pada 2015, Pemda Purbalingga, Balitjestro dan Puslitbanghorti menandatangani MoU untuk pengembangan stroberi. Perjanjian kerja sama ini dilandasi oleh komitmen pihak terkait untuk mewujudkan “Pengembangan Kawasan Agribisnis Stroberi Melalui Dukungan Inovasi Teknologi Hasil Penelitian dan Pengembangan dari Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian di Wilayah Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah.

Joko Susilo Utomo, Kepala Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Subtropika (Balitjestro) mengharapkan bahwa dukungan Balitbangtan yang tertuang dalam MoU selama 2 tahun ini mampu meningkatkan daya saing agribisnis stroberi di wilayah ini. Kegiatan ini meliputi penyediaan benih, pengawalan teknologi perbenihan, budidaya, panen, penguatan kelembagaan petani dan pengelolaan rantai pasok stroberi.

Kawasan Agrowisata Stroberi di Serang Purbalingga.
Kawasan Agrowisata Stroberi di Serang Purbalingga.
Trapsi Petani Stroberi - Benih Stroberi Balitjestro Purbalingga
Trapsi, petani stroberi di Purbalingga menunjukkan gambar dan data perkembangan benih stroberi dari 600 di awal pengiriman, saat ini menjadi 16.000 benih stroberi
Marhadi Petani Stroberi Purbalingga
Arry Supriyanto, Marhadi dan Trapsi selepas diskusi mengenai pengembangan stroberi. Marhadi dikenal sebagai “bapak stroberinya Purbalingga”. Beliau mengawali penanaman stroberi di lokasi ini. Saat ini di pekarangannya sudah ditanam stroberi varietas Dorit.
Benih Stroberi_Mou Pengembangan Stroberi
Tim dari Balitjestro, Puslitbanghorti, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan dan Bappeda Kabupaten Purbalingga dan Petani Stroberi

Arry Supriyanto sebagai penanggungjawab kegiatan ini pun memberikan perhatian yang serius agar program ini berhasil. Pada awal Mei 2016 ini, tim dari Balitjestro dan Puslitbang Hortikultura yaitu Arry Supriyanto, Zainuri Hanif dan Turyono berkunjung kembali ke Purbalingga untuk memonitor perkembangan benih stroberi V1 sebanyak 6 varietas yang telah ditanam sejak akhir tahun 2015 yang lalu. Dari 600 V1 stroberi, saat ini telah berkembang menjadi 16.000-an benih. Petani telah menanam benih siar generasi V3 di beberapa lokasi.

Pengamatan akan terus dilakukan, dari sekian varietas yang ditanam tersebut nantinya akan dipilih 1 atau 2 yang paling disukai petani dan konsumen untuk dikembangkan secara masif lagi.

Selama kunjungan ke Purbalingga kemarin, diskusi untuk perbaikan pelaksanaan kegiatan dilakukan antara tim dari Balitbangtan, para petani stroberi, dan tentunya dari Pemda dalam hal ini Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan dan Bappeda Kabupaten Purbalingga. (z@in/balitjestro)

Tinggalkan Balasan