Desa Poncokusumo Andalkan Apel dan Wisata Alam

Apel Manalagi Batu di Pedagang Kaki LimaPada Masa Jaya Pernah Ekspor ke Tiga Negara

 

Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, sangat terkenal dengan produk apelnya. Selain itu, pemandangan alam pegunungan yang sejuk dan indah menjadikan desa itu banyak dikunjungi wisatawan.

 

LEBIH dari 250 hektare lahan di Desa Poncokusumo dipenuhi dengan tanaman apel. Dikalkulasikan, dalam sehari transaksi apel bisa mencapai rata-rata Rp 80 juta. Besarnya potensi apel itu juga menjadikan Desa Poncokusumo dikenal sebagai desa wisata agro petik apel. Di sana ada apel ana, manalagi dan romebeauty. Bambang Mulyono, 43, Kepala Desa Poncokusumo mengatakan, desa dengan ketinggian 1.400 di atas permukaan air laut itu memiliki luas lahan 686,8 hektare.

 

Dari luas itu, sebanyak 250 hektare untuk lahanapel, sedangkan 110 hektare lahan jeruk, dan 100 hektare lagi ditanarni tebu, selebihnya sayurandanpermukiman penduduk yang berjumlah 2.005 kepala keluarga. Hampir seluruh kepala keluarga di Desa Pocokusumo bekerja di sektor yang merniliki keterkaitan dengan apel. Mulai dari pembibitan, tanaman, perdagangan apel, hingga olahan minuman sari buah apel. “Mayoritas warga berpenghasilan utamanya dari bertani apel,” kata Bambang sewaktu dikunjungi di rumahnya setelah berkebun Jumat (4/7).

 

Menurut dia, besarnya potensi buah apel itu juga membuat desanya terkenal di seluruh Malang Raya. Bahkan saat jaya-jayanya di tahun 1990 an, apel Poncokusumo juga diekspor ke Malaysia, Singapura, dan Hongkong. Namun sayangnya, sekarang sudah tidak lagi. Saat ini, produksi apel Poncokusumo dikirim ke pasar Malang Raya dan beberapa daerah di Jatim.Sebagian dikirim ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Samarinda dan beberapa daerah di luar Jawa.

 

Selain dikenal sebagai sentra apel, Desa Poncokusumo juga kerap dikunjungi wisatawan untuk berwisata dan menikmati hawa segar Dikatakan Bambang, warga Desa Poncokusumo memproklarnirkan desanya Sebagai desa wisata agro petik apel pada 1990-an lalu. Selain berkunjung ke kebun apel dan memetik buahnya, mereka juga bisa membeli sari buah apel Poncokusumo. Saat ini juga sedang digalakkan olahan makanan dan minuman berbahan dasar apel dan keripik apel melalui Forum Komunikasi Petani Muda (FKPM) Poncokusumo.

 

Menurut dia, tanaman apel yang memenuhi lahan pertanian di Desa Poncokusumo ini bermula pada tahun 1960 yang dibawa oleh warga Belanda. Dan lambat laun para petani diberi bibit apel dan para petani Poncokusumopun berhasil hingga kini dipertahankan, Meskipun produktivitasnya menurun. “Saya ingin apel Poncokusumo jadi ikon dan terus ada,” harap Bambang. Untuk itu, kini masyarakat terus mempertahankan apel Poncokusumo. Salah satunya dengan membuat makanan dan minuman olahan berbahan apel. (cw1/lid) Jawa Pos, Minggu  6 Juli 2014

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event