Dampak Adopsi Benih Jeruk Bebas Penyakit dan Kebangkitan Jeruk Keprok Garut

POSTER keprok garutDalam rangka kegiatan Evaluasi Outcome dan Potensi Dampak Adopsi Benih Jeruk Bebas Penyakit, pada tanggal 10 – 13 Juni 2014 tim outcome Balitjestro yang terdiri dari Lizia Zamzami, Hadi Mokhamad Yusuf dan Didiek Kristianto beserta tim Puslitbanghorti berkesempatan untuk melakukan survei dan wawancara kuisioner kepada petani jeruk keprok di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi status outcome terhadap adopsi benih jeruk bebas penyakit oleh pengguna, dan menganalisis potensi dampak dari adopsi benih jeruk bebas penyakit.

 

Kabupaten Garut sendiri merupakan salah satu daerah sentra produksi jeruk di Indonesia. Kabupaten Garut memiliki dua varietas jeruk keprok unggulan yaitu Keprok Garut dan Keprok Konde. Jeruk keprok Garut pernah mengalami masa keemasan pada tahun 1980-an, dimana saat itu terdapat 1,3 juta pohon dalam lahan seluas 2.600 hektar dengan produksi sekitar 26.000 ton per tahun. Namun, pada tahun 1990-an populasinya merosot tajam akibat serangan penyakit CVPD.

 

Saat ini, jeruk keprok Garut sedang berada dalam masa kebangkitan sehingga jumlah tanamannya masih belum meluas dan belum berada dalam hamparan (Tabel 1). Meskipun demikian, potensi lahan untuk pengembangan jeruk keprok Garut masih sangat luas, yaitu 4.850 ha yang tersebar di 88 desa di 17 kecamatan. Sedangkan musim panen jeruk keprok Garut terjadi pada bulan Maret sampai Desember.

 

Untuk pelaksanaan budidaya, Kabupaten Garut sebenarnya sudah mempunyai SOP Jeruk Keprok Garut dan saat ini sedang dalam tahap implementasi di lapang. Dinas Pertanian Kabupaten Garut sudah melaksanakan pembinaan penerapan GAP/SOP melalui pendampingan, SL-PHT dan SL-GAP. Upaya ini juga sekaligus untuk menumbuhkan minat petani dalam pengembangan kembali jeruk keprok Garut.

 

Tabel 1. Data Perkembangan Tanaman Jeruk Keprok Garut Tahun 2006 – 2010

Tahun Luas Panen (Pohon) Produksi  (Ton) Produktivitas (Kg/Pohon)
2006 162.374 8.119 50,00
2007 191.201 9.614 50,28
2008 215.555 10.975 50,92
2009 208.308 10.759 51,65
200.622 9.180 45,69

Sumber : UPTD Data, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Garut 2011

Keunggulan jeruk keprok Garut sehingga disukai oleh konsumen adalah aromanya yang wangi dan rasanya yang manis. Daging buahnya tebal dan berair banyak serta memiliki kandungan vitamin C yang tinggi. Jeruk keprok Garut sudah ditetapkan sebagai varietas unggulan khas Kabupaten Garut dan telah dilepas berdasarkan SK Menteri Pertanian No.760/ Kpts/TP.240/6/99 tanggal 22 Juni 1999 dengan nama varietas Jeruk Keprok Garut 1.

Untuk perbenihan jeruk keprok Garut didukung dengan adanya Blok Fondasi (BF) dan Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT). Benih sumber jeruk keprok Garut tersebut berasal dari Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) dan dikembangkan di Balai Benih Hortikultura (BBH) Cisurupan di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut.

Dari sekitar 700 pohon BPMT jeruk yang ada di BBH Cisurupan mampu memproduksi 247.000 mata tempel per tahun. Sedangkan jenis batang bawah yang digunakan untuk tanaman jeruk keprok adalah Rough Lemon (RL) dan Japansche Citroen (JC).

Mata tempel yang dihasilkan BPMT digunakan oleh penangkar untuk perbanyakan benih jeruk keprok Garut. Asosiasi/Gabungan Penangkar Benih Jeruk berada di Kecamatan Karangpawitan dan merupakan penangkar benih jeruk andalan. Asosiasi penangkar jeruk ini telah mendapatkan pembinaan dari BPSB. Kapasitas produksi benih jeruk dari Asosiasi Penangkar Benih Jeruk ini sebanyak 150.000 – 250.000 benih jeruk keprok Garut dan 50.000 benih jeruk varietas lainnya. [lizia/balitjestro]

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event