Calon Varietas Unggul Lengkeng Poncokusumo

Saat ini, lengkeng yang sudah dilepas oleh pemerintah sebagai buah unggul  nasional adalah lengkeng varietas Batu (Temanggung) dan Selarong (Bantul). Jika dibandingkan dengan potensi lengkeng Indonesia yang berkembang mulai dari dataran medium sampai tinggi, jumlah varietas unggul ini masih sangat sedikit. Potensi unggul lokal yang dapat dipacu lagi perkembangannya menjadi buah unggul adalah lengkeng Bandungan, Ambarawa, Magelang, Tawangmangu, Blitar, Purworejo dan Tumpang, walaupun beberapa diantaranya hampir mengalami kepunahan karena perubahan jaman. Lengkeng Poncokusumo merupakan keturunan dari lengkeng Tumpang. Dibandingkan induknya, lengkeng ini mempunyai rasa buah yang manis agak masam, aroma wangi, buah berukuran lebih besar, daging buah tebal, ukuran daun lebih besar dan warna daun lebih gelap. Lengkeng ini telah dipersiapkan untuk diusulkan menjadi buah unggul baru mendampingi buah unggul yang telah ada.

Lengkeng (Dimocarpus longan Lour) sejak puluhan tahun yang lalu ditanam di Indonesia. Berdasarkan sejarah, asal-usulnya dari daerah subtropik di China Selatan kemudian mampu berkembang baik di Indonesia yang beriklim tropik. Daerah-daerah lengkeng berpola curah hujan subtropik yaitu terdapat dua puncak curah hujan. Daerah tersebut antara lain Ambarawa, Salatiga (Jateng) dan Tumpang (Jatim).

Di Indonesia jenis lengkeng yang berkembang pada dataran medium sampai tinggi. antara lain lengkeng Batu/Pringsurat (Temanggung), Tumpang (Malang), Bandungan, Ambarawa, Salatiga (Semarang), Tawangmangu (Karanganyar), Mbatu (Batu) dan Selarong yang merupakan lengkeng dataran rendah di Indonesia yang asal-usulnya dari lengkeng dataran tinggi Bandungan. Lengkeng-lengkeng tersebut biasanya awal produksinya lama (di atas 5 tahun), kontinuitas produksi tidak menentu, berbuah hanya pada musim tertentu saja dan terkadang sulit dibuahkan (harus ada perlakuan khusus) sehingga kondisi yang demikian ini yang menyebabkan lengkeng lokal tidak lama berada di pasar karena produksinya terbatas.

Geliat “perlengkengan” di Indonesia mulai semarak lagi sejak hadirnya lengkeng dataran rendah Pingpong, Itoh dan Diamond River sekitar tahun 2000-an yang lalu. Tanaman ini sebagian besar introduksi dari Thailand, Vietnam maupun Malaysia. Kelebihan lengkeng introduksi ini adalah umurnya genjah, cepat berbuah, perawatannya mudah dan penampilan buah menarik. Bibit hasil dari cangkokan dapat berproduksi setelah umur 8-12 bulan, dari okulasi atau grafting mampu berproduksi setelah 1-2 tahun, sedangkan dari biji mampu berproduksi setelah 2-3 tahun. Ukuran buah lengkeng dataran rendah introduksi relatif lebih besar jika dibandingkan lengkeng lokal,  terutama lengkeng pingpong yang mempunyai ukuran normal sebesar bola pingpong. Rasa buah pada umumnya manis sampai sangat manis dengan ukuran biji kecil, sedang dan besar. Produktifitas tanaman cukup tinggi, bahkan varietas Pingpong seolah-olah tidak mengenal musim karena buah terus ada sepanjang tahun.

Lengkeng Leci

Tabel Karakterisasi daun, tajuk, bunga dan buah lengkeng Leci, Malang 2007 (Characterization of leaves, canopy, flower and fruit of Leci, Malang 2007). [cml_media_alt id='868']Lengkeng Poncokusumo[/cml_media_alt]

Lengkeng Leci merupakan keturunan dari lengkeng Tumpang. Konon pada tahun 1940-an tumbuh semaian lengkeng liar di jalanan yang merupakan tumbuhan dari biji lengkeng Tumpang. Karena pertumbuhannya bagus, lengkeng tersebut dibawa dan berkembang di daerah yang bersebelahan dengan Tumpang yaitu Poncokusumo. Dari daerah tersebut kemudian berkembang menjadi ratusan pohon yang berasal dari cangkokan. Yang membedakan dengan lengkeng Tumpang adalah terletak dari rasa buahnya yang manis agak masam serta aromanya yang lebih wangi, sehingga petani setempat menyebutnya dengan lengkeng Leci. Buah berukuran lebih besar dibanding lengkeng Tumpang dan daging buah lebih tebal. Morfologi daunnya juga sedikit berbeda dibanding lengkeng Tumpang. Ukuran daun lebih besar dan warna daun lebih gelap. Varietas ini mempunyai potensi untuk diusulkan kepada Menteri Pertanian sebagai varietas unggul, terutama untuk habitat di dataran sedang/menengah (400 – 500 m d.p.l)

 

Oleh: Agus Sugiyatno
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event