Buah Jeruk Tuban Mulai Jadi Primadona

Sunarko dan Jeruk TubanBanyak yang menyangsikan ketika Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) di tahun 2010 mulai menggalakkan penanaman jeruk di Mulyorejo, Singgahan, Tuban. Pertanyaan pun terlontar; “Apakah jeruk bisa tumbuh dengan baik di lahan sub optimal (dimana penuh dengan batu kapur)? Bagaimana pula mengajak petani yang sama sekali belum mengenal jeruk kemudian beralih dan menanam jeruk dengan baik?”

 

Keraguan itu pun terjawab di tahun ke-4 setelah tanam. Dengan pemilihan varietas yang tepat dan pemeliharaan sesuai anjuran teknologi, Petani Jeruk di Tuban saat ini mulai memetik hasilnya.

 

Sunarko, Ketua Kelompok Tani Mulyo di Desa Mulyorejo saat ini bisa mulai tersenyum. Apalagi pasca lahan jeruk yang dikelola oleh Kelompok Tani Mulyo ini dikunjungi oleh Bupati Tuban Fathul Huda. Bupati Tuban mendukung penuh inovasi yang dilakukan Balitbangtan untuk pertanian yang sudah menjadi mata pencaharian terbesar masyarakat Bumi Wali ini. Bahkan beberapa bantuan akan diberikan untuk merangsang minat petani menanam jeruk, salah satunya bantuan pupuk kandang.

 

Lebih lanjut, Bupati Tuban Fathul Huda ketika melihat lahan bebatuan bisa ditanami jeruk menyatakan bahwa “Tidak ada yang tidak mungkin selama digarap dan ditemukan cara yang tepat.”

 

Pengembangan kawasan hortikultura ini difasilitasi oleh Direktoral PLA, Dirjen Hortikultura, Dinas Pertanian Tuban dan Balitjestro Badan Litbang Pertanian dimana di wilayah ini ditanam jeruk varietas keprok tejakula dan keprok madura.

Jeruk masak fisiologis (kiri) dan jeruk masak optimal (kanan) 

Panen yang dilakukan di Mulyorejo memang tidak serentak. Ada buah jeruk yang sudah matang optimal, sebagian masih matang fisiologis. Hal ini disebabkan karena pembungaan yang juga tidak serentak akibat kemiringan lahan yang berbeda dan akses terhadap air. Kebun yang dekat dengan sungai atau berada di bagian bawah dan mendapat lebih banyak air tidak mengalami stres kering yang cukup sehingga jumlah bunga juga tidak terlalu banyak.

 

Tahun ke-4 ini, petani jeruk di Tuban mulai mencicipi buah dan hasil panennya. Namun, pemasaran masih belum optimal. Petani masih menjual secara pribadi dengan harga di bawah standar, yaitu Rp 15.000,-/kg. Ke depan fungsi Kelompok Tani perlu dioptimalkan agar jerih payah selama setahun merawat jeruk terbayar.

 

Sulasno, dengan 3 pohon jeruk umur 4 tahun mampu panen jeruk sebanyak 1 kuintal. Dan dalam sehari, di pasar lokal buah jeruk itu langsung habis. Di hari berikutnya, panen jeruk dilakukan dengan lebih banyak pohon dan ternyata tetap diminati. Saat ini petani masih menjual seharga Rp 10.000,-/kg.

Jeruk yang tumbuh di bebatuan (kiri) dan uji brix di lapang menunjukkan bahwa keprok tejakula di Tuban mempunyai derajat brix  9-10. 

Pasca dikunjungi oleh Bupati Tuban dan dimuat oleh media lokal, banyak pihak yang menghubungi Sunarko untuk mencicipi buahnya. Bahkan dari luar Tuban ada pengusaha yang mulai meraba-raba membuka perkebunan jeruk di Tuban. Sebuah peluang yang perlu direspon dengan baik oleh semua pihak yang berkepentingan di Tuban. [zh/balitjestro]

perlakuan daya simpan dan analisa

Setiono menata jeruk yang matang optimal dan matang fisiologis untuk perlakuan daya simpan dan secara periodik jeruk keprok tejakula Tuban dianalisa.

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event