“Buah Amanat” Memberi Harapan Besar Bagi Petani

buah amanat

“Buah Amanat” itulah sebutan buah jeruk siam yang ada di desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Tanaman jeruk ini pertama kali ditanam didaerah ini ketika kerjasama dengan orang dari luar daerah untuk menanam jeruk. Sehingga warga sekitar menyebut dengan “buah amanat” karena dititipi amanat oleh orang tersebut untuk mengembangkan jeruk.  Setelah ditanami jeruk ternyata hasilnya cukup besar sehingga sekarang banyak petani menanam jeruk siam disini.

Menurut keterangan H. Mansyur salah seorang petani disini jeruk merupakan komoditas utama dari desa ini. Beliau ini merupakan salah satu pionir yang menggunakan benih jeruk berlabel bebas penyakit.  Dari pengalaman beliau tanaman jeruk miliknya yang berumur 5 tahun telah beberapa kali panen yang hasilnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada mulanya dengan luas area 1 ha dan jumlah tanaman 600 pohon menhasilkan 16 juta rupiah. Kemudian panenan yang ke 2 meningkat menjadi 75 juta rupiah sampai panenan terakhir 205 juta rupiah. Hasil panen yang begitu besar ini bisa digunakan untuk biaya anak sekolah, kebutuhan keluarga dan terakhir untuk ibadah haji.

Sekarang ini luas area tanaman jeruk  miliknya telah bertambah menjadi 4 ha dengan jumlah tanaman 1800 pohon.  Bisa kita lihat hasil yang didapat ketika buah mulai panen. Dengan produktivitas per pohon mencapai  ± 70 kg maka petani mendapatkan keuntungan yang cukup besar. Itulah mengapa para petani disini mulai mengikuti jejaknya untuk menanam benih berlabel yang bebas penyakit.  Sampai saat ini jumlah benih berlabel yang telah ditanam disini mencapai ±50000 pohon dengan luas area mencapai 80an ha.

Dalam menanam jeruk kendala yang dihadapi adalah penyediaan benih berlabel yang  berkualitas  dan bebas penyakit. Hal ini dapat dilihat dari beredarnya  benih tanpa label yang banyak ditanam. Benih jeruk tanpa label dikhawatirkan terinfeksi  penyakit sistemik karena tidak melalui alur perbenihan yang berlaku. Banyak petani cenderung memilih benih tanpa label yang harganya lebih murah dan cepat mendapatkannya. Karena rata-rata petani masih belum tahu proses pembuatan benih berlabel yang bebas penyakit yang membutuhkan waktu 6-8 bln. Untuk itu perlu adanya sosialisasi ke petani tentang alur perbenihan yang benar, sehingga ke depan petani dapat merencanakan tanam dengan memesan terlebih dahulu benihnya agar pada saat mulai tanam benih sudah siap.

Harapan dari H. Mansyur dan petani disini adalah tersedianya benih berlabel yang cukup karena permintaannya selalu meningkat. Selanjutnya diharapkan ada pendampingan teknologi mengenai budidaya jeruk, yang meliputi pemupukan, pemeliharaan, dan pengendalian hama penyakit. Dengan adanya penerapan teknologi akan meningkatkan produksi dan pendapatan bagi petani sekaligus menjaga kelestarian dari “buah amanat” untuk tetap menjadi produk andalan daerah ini. [fajar/balitjestro]

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event