BPPT Pusat Teknologi Produksi Pertanian Gagas ATP di Gunung Kidul

Pada hari Rabu, 29 April 2015, Balitjestro kedatangan tamu peneliti dan perekayasa dari BPPT Pusat Teknologi Produksi Pertanian, Tangerang Selatan yaitu Dr. Dodo Rusnanda Sastra, Dra. Jeni Haryanti dan Rikania Reninta, SP. Maksud dan tujuan kunjungan tersebut adalah konsultasi tentang pengembangan jeruk di daerah Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Program Agro Techno Park (ATP).

 

Kunjungan diterima oleh Koordinator Jasa Penelitian, Ir. Agus Sugiyatno, MP dan Ketua Kelti Ekofisiologi, Ir. Sutopo, MSi.  Dr. Dodo Rusnanda Sastra mewakili BPPT menyampaikan bahwa saat ini BPPT sedang menyiapkan Program Agro Techno Park di Gunung Kidul sebagai salah satu kawasan pemasyarakatan teknologi pertanian, salah satu kegiatannya adalah untuk meningkatkan produksi pangan dan hortikultura. Lahan yang disediakan seluas 28 ha. Tujuan kedatangan ke Balitjestro adalah untuk konsultasi tentang pengembangan jeruk di Gunung Kidul yang merupakan bagian dari Agro Techno Park.

 

Ir. Agus Sugiyatno, MP dan Ir. Sutopo, MSi menyampaikan bahwa Balitjestro mempunyai 238 asesi jeruk yang berasal dari wilayah seluruh Nusantara, beberapa diantaranya habitatnya di dataran rendah yaitu jeruk siam, jeruk keprok dataran rendah dan pamelo, masing-masing kelompok terdiri dari puluhan asesi. Jeruk siam yang populer di dataran rendah adalah siam Banjar dan Pontianak, jeruk keprok dataran rendah adalah keprok Madura, Tejakula, Terigas dan Borneo Prima, sedangkan jeruk pamelo dataran rendah adalah pamelo Magetan, Nambangan, Sri Nyonya dan Ratu.

Pada umumnya, budidaya tanaman jeruk memerlukan penanganan yang maksimal dalam perkembangannya, ada beberapa persyaratan tumbuh yang harus dipenuhi diantaranya adalah kecukupan air. Untuk daerah Gunung Kidul yang airnya sangat terbatas, untuk budidaya tanaman jeruk disarankan untuk membangun beberapa titik embung sebagai tandon air. Air dari embung dapat disalurkan ke tanaman dengan sistem gravitasi atau sistem pompa.

Mengingat tanah di Gunung Kidul didominasi tanah kapur, maka untuk pengembangan tanaman jeruk di daerah tersebut disarankan untuk menanam jeruk kelompok pamelo karena jeruk pamelo relatif mudah penanganannya, lebih tahan terhadap CVPD dan kulit buahnya bisa dimanfaatkan menjadi manisan kulit pamelo. Peluang tanaman lain untuk dikembangkan di daerah tersebut adalah menanam lengkeng dan apokat, karena tujuan utama Agro Techno Park ini selain peningkatan produksi pangan sekaligus juga untuk konservasi sehingga tanaman-tanaman tersebut sangat cocok untuk konservasi lahan.

Dari hasil diskusi, BPPT menyampaikan terima kasih untuk informasinya karena hasil diskusi akan dijadikan bahan untuk pembuatan master plan pembangunan Agro Techno Park di Gunung Kidul. Dan diharapkan nanti akan ada kerjasama antara BPPT dengan Balitjestro, kerjasama awal yang paling memungkinkan adalah penyediaan materi tanaman jeruk, lengkeng dan apokat dari “Koperasi Citrus” Balitjestro, selanjutnya adalah kerjasama dalam pendampingan teknologi di lapang.

Berita: Agus Sugiyatno, Foto: Budianto / Balitjestro

Tinggalkan Balasan