BITE 2016 Dongkrak Daya Saing Buah Lokal

ZHF_0150

Kota Batu, Bhirawa. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian Dr Ir Muhammad Syakir,MS membuka Balitjestro Innovation Technology Expo (BITE) 2016. Pembukaan acara yang dilaksanakan Kamis (4/8) di Badan Penelitian Jeruk dan Stroberry (Balitjestro) Batu ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing buah lokal dengan buah import.

Para peneliti pertanian saat ini jangan hanya berada di atas kertas saja. Tetapi juga harus membantu petani yang kini dituntut memperbanyak produksi buah dan kualitas yang bagus saja. “Karena saat ini petani juga harus mengikuti trend keinginan konsumen. Sehingga tercipta daya saing produk melalui peningkatan mutu buah, efisiensi usaha tani dan kontinuitas produksi,”ujar Syakir dalam sambutanya.

Tidak ada pilihan lain untuk petani untuk meninggalkan teknologi budidaya konvensional dan menerapkan berbagai inovasi budidaya jeruk. Bite 2016 adalah salah satu cara Balitjestro untuk memperkenalkan inovasi-inovasi pertanian kepada para petani.

“Daya saing bisa ditingkatkan kalau ada inovasi, kita ciptakan varietas unggul dengan menggunakan teknologi perbanyakan dan teknologi budidaya. Tidak hanya memiliki pertumbuhan yang baik, tapi juga memiliki rasa yang enak dan warna yang bagus,”jelas Syakir. Dan kemarin Balitjestro membagikan 7 varietas unggul yang baru untuk para petani di beberapa daerah, seperti Padang Alam, Bali dan Batu.

Syakir mengatakan jeruk lokal dengan jeruk import sebenarnya memiliki kelebihan yang sama. Hanya saja jeruk import memang mampu beradaptasi dengan berbagai musim. Sementara di beberapa daerah masih banyak mengalami kekurangan jeruk karena serangan penyakit.

“Karena itu Balitjestro, basis pertama menghasilkan jeruk yang bebas penyakit, kedua menghasilkan jeruk yang adaktif dan perbanyakannya beragam,” ujar Syakir didampingi Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko. Salah satu proteksi yang dilakukan Kementerian Pertanian adalah menyebarkan benih yang sudah bebas dari penyakit. Karena biasanya serangan hama penyakit disebabkan benih yang dikembangkan sudah tertular penyakit.

Untuk mengenjot daya saing buah lokal, lanjut Syakir, yang harus dilakukan adalah menggenjot promosi yang ada. Karena cita rasa konsumen pun beragam, ada yang senang dengan jeruk lokal ada juga yang senang jeruk import. “Secara bertahap Kementerian Pertanian mengembangkan jeruk untuk menahan serbuan jeruk import,” ujar Syakir.

Sementara, Kepala Balitjestro Batu, Joko Susilo Utomo mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan di Kantor Balitjestro Jl Raya Tlekung ini akan diisi berbagai kegiatan. Seperti pameran inovasi, workshop, hingga kontes buah.
“Workshop sampai tanggal 6 Agustus, setelah itu dibuka untuk umum, agar bisa melihat lahan panen, sementara kontes buah jeruk nasional dibuka sampai akhir, selain kita siapkan dewan juri, masyarakat juga bisa menilai,” ujarnya.

Dalam kegiatan yang sama, Balitjestro juga mengadakan pelatihan penanganan hama secara gratis. “Kita terbuka kepada masyarakat, anak-anak TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi bisa belajar untuk mensukseskan Agro Ekowisata, dimana anak-anak tidak hanya rekreasi, tapi bisa juga belajar budidaya jeruk,”pungkas Joko. [nas]

Sumber; Bhirawa Online

Related Post

Tinggalkan Balasan