Bertukar Pengalaman bersama Komunitas Pencinta Tanaman Anggur Indonesia

Komunitas Pencinta Anggur Indonesia-001

Perwakilan “Komunitas FB Pencinta Tanaman Anggur” dengan anggota 1.852  (Per 19 Agustus 2014) mendatangi  Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) untuk betukar informasi dan pengalaman pengembangan anggur di Indonesia. Rombongan yang terdiri dari Fredy Siswanto, Sri Lestari, Andjar dan Agung Puji diterima oleh Anis Andrini (peneliti anggur), Zainuri Hanif dan Hasim Ashari.

Komunitas Pencinta Tanaman Anggur ini sangat konsen dalam mengembangkan anggur di Indonesia. Ratusan varietas anggur dari dalam dan luar negeri sudah dicoba dikembangkan anggotanya. Dalam perkembangannya komunitas ingin mengkoordinasi diri agar mempunyai program yang lebih jelas dan arah pengembangan tanaman anggur yang lebih terencana sehingga apa yang dilakukan anggotanya mempunyai kontribusi yang lebih besar.

Fredy Siswanto yang datang dari Jogja banyak menanyakan mengenai perkembangan penelitian anggur di Balitjestro yang berjalan di tempat. Banyak masukan yang diberikan dan itu merupakan cambukan bagi kami. Perlu diketahui bahwa dalam 10 tahun terakhir tidak ada penelitian anggur yang berdiri sendiri dalam 1 RPTP (Rencana Penelitian Tim Peneliti). Dari penelitian yang ada, anggur masuk dalam RPTP Plasmanutfah bersama 4 komoditas lainnya (jeruk, apel, lengkeng dan stroberi). Namun begitu, penelitian anggur tetap berjalan dan beberapa varietas sudah masuk kultur jaringan.

Kultur Jaringan Anggur-001

Sri Lestari yang jauh-jauh terbang dari Medan mengaku senang bisa berkunjung ke Balitjestro dan melihat koleksi yang ada. Meskipun tidak semua tanaman anggur ada buahnya, ia terlihat begitu menikmati berkeliling di visitor plot anggur Balitjestro yang sudah berusia 12 tahun. Begitu pula dengan Andjar dari Nganjuk yang sudah ke-2 kali ini berkunjung ke Balitjestro. Ke depan, perkembangan pertumbuhan anggur di berbagai daerah yang dilaporkan oleh komunitas pencinta anggur ini dapat menjadi tambahan data penunjang bagi penelitian untuk mengembangkan varietas anggur yang lebih adaptif di Indonesia.

Menanam anggur memang tidak semudah kelihatannya. Budidaya yang sesuai anjuran dan tepatnya perlakuan tiap varietas akan membuat tanaman anggur berbuah optimal. Untuk itulah paket teknologi Balitjestro ditunggu karena telah sekian tahun berpengalaman dalam merawat koleksi anggur yang sudah ada. Untuk benih, Balitjestro memang tidak menjual bebas. Kita masih terkendala sertifikat BPSB apalagi institusi pemerintah dipantau lebih ketat. Sehingga secara individual banyak yang memesan benih 1-2 polybag tidak bisa terlayani.

Menurut Fredy ada beberapa pengalaman petani yang kesulitan masalah pemasaran sehingga anggur yang sudah begitu bagus terpaksa diganti tanaman lain seperti padi. Adalah Nur Kudus dari Desa Cangkringan Sleman yang tahun 2008 mempunyai 8000 meter varietas kediri kuning dan mampu panen 1,3 ton saat ini anggurnya sudah tidak ada lagi. Petani anggur di Buleleng Bali saat ini juga memilih menjadi plasma bagi perusahaan besar di wilayahnya. Permasalahan ini tentunya menjadi tugas kita bersama dan pelibatan pemerintah di daerah menjadi salah satu solusi agar mendapat dukungan baik dari sarana prasarana maupun sistem pemasaran.

Pengembangan anggur di Indonesia memang belum ada dalam skala masif dan terintegrasi. Anis Andrini mengungkapkan bahwa koordinasi dan kerjasama dengan komunitas masyarakat seperti ini mampu menjadi sebuah terobosan akan minimnya anggaran penelitian yang ada. Peneliti anggur Balitjestro siap untuk berkolaborasi untuk mengembangkan anggur nusantara. [zh/balitjestro]

 

Tinggalkan Balasan