Benih Berlabel Biru Sangat Diharapkan oleh Petani

Benih sebar berlabel biru bebas penyakit yang telah siap siar
Benih sebar berlabel biru bebas penyakit yang telah siap siar

Benih jeruk berlabel dan bebas penyakit sangat diharapkan oleh petani. Ini terbukti dengan begitu besarnya permintaan benih jeruk berlabel di sentra-sentra jeruk di Jawa Timur. Kondisi ini dikarenakan  dengan banyaknya benih tanpa label yang tidak jelas mata tempelnya yang beredar. Dari pengalaman petani benih-benih tersebut mudah terserang penyakit dan umur produksinya tidak panjang.

Hal ini disampaikan oleh Darmawan, petani jeruk dari Desa Rowotengah, Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember. Dalam kurun waktu 10 tahun dia mulai mengembangkan jeruk siam pontianak di lahannya. Awalnya dia menanam benih tanpa label namun hasilnya kurang memuaskan. Kemudian 5 tahun terakhir dia mulai mencari benih yang bersertifikat dengan label biru yang jelas kualitas dan varietasnya.

Dari 90 pohon benih berlabel biru yang ditanam, hasil panen terakhir dia mendapatkan 8,6 ton dengan harga waktu itu 6700 rupiah per kilonya hasil yang dia dapat sekitar 60 jutaan. Itulah mengapa sekarang ia bersama kelompok tani mengajak petani yang lain untuk menggunakan benih berlabel biru.

Balitbangtan melalui UPT Balitjestro telah menghasilkan benih sumber BF (Blok Fondasi) dan BPMT ( Blok Penggandaan Mata Tempel) yang telah diindeksing atau dibersihkan dari penyakit. Saat ini benih sumber telah didistribusikan di 28 propinsi di Indonesia.  Dengan kondisi tersebut para penangkar benih dapat menghasilkan benih sebar dengan sumber mata tempel yang jelas dan berkualitas. Perawatan benih BF maupun BPMT harus terus di lakukan agar tidak terserang penyakit karena benih bebas penyakit namun tidak tahan terhadap penyakit terutama yang sifatnya sistemik.

Harapan dari petani adalah pendampingan teknologi budidaya jeruk dari Balitbangtan dalam pengelolaannya agar petani mengerti teknis budidaya dan dapat mengadopsi inovasi teknologi yang dihasilkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.Selain itu gapoktan dapat memiliki BPMT sendiri dan bisa menjadi penangkar bersertifikat dengan pembinaan dan pendampingan  dalam teknologi pengelolaan BPMT sehingga dapat menghasilkan benih untuk di perbanyak sesuai alur perbenihan yang berlaku.[fajar/balitjestro]

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event