BEM Pertanian Nusantara : “Wah, Ternyata Asyik Meneliti Jeruk”

BEM Pertanian Nusantara - Kebun Jeruk BalitjestroBadan Litbang Pertanian (Balitbangtan) mengundang BEM Pertanian Nusantara untuk mengikuti Penas XIV di Kabupaten Malang dan mengikuti rangkaian acara yang telah disiapkan Balitbangtan.

Kegiatan yang dilakukan antara lain kunjungan di Balai Penelitian lingkup Jawa Timur dan melakukan dialog nasional “Pembangunan Pertanian Indonesia Masa Depan” dengan tema: “Membangkitkan Kepedulian dan Peran Generasi Muda dalam Membangun Pertanian Indonesia untuk Mewujudkan Kesejahteraan Petani – Nelayan”

Kunjungan pada Selasa (10/06/14) dilakukan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi-umbian (Balitkabi), Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) dan Loka Penelitian Sapi Potong (Lolit Sapo) dan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro).

Mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia ini diajak mengenal tanaman jeruk dan buah subtropika lainnya melalui profil yang ditayangkan di aula dan kunjungan ke Kebun Percobaan Tlekung.

Harwanto, Kayantek Balitjestro sedang mempresentasikan Profil Balitjestro

 

Selama presentasi, beberapa mahasiswa baru tahu bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya genetik jeruk dan buah subtropika yang sangat banyak. “Kemana informasi ini selama tersimpan? Kok kami baru tahu ya?” Ternyata ada instansi pemerintah yang serius meneliti jeruk, apalagi sudah banyak leaflet, poster, dan bahkan telah memecahkan 2 rekor MURI.

Tampaknya memang sosialisasi dan publikasi perlu lebih digalakkan lagi agar generasi muda ini lebih tahu akan posisi dan potensi pertanian Indonesia. Agar mereka lebih semangat dan menatap peluang dengan lebih optimis.

 

 

Kunjungan mahasiswa BEM Pertanian Nusantara di plasmanutfah anggur dan suasana makan siang sembari menikmati pemandangan Kota Malang

Kunjungan ke lapang dibagi dalam 4 groups sesuai minat, yaitu jeruk, apel, anggur dan lengkeng. Tidak semua orang tahu seperti apa pohon apel itu? seperti apa pohon anggur itu? Kesempatan ini digunakan untuk belajar buah tersebut dari budidaya sampai panen. Banyak pertanyaan yang muncul dan dijawab oleh para peneliti dan teknisi yang bertugas. Waktu yang sangat sempit membuat kunjungan mahasiswa BEM ini tidak menyeluruh sampai laoratorium maupun pusat perbenihan jeruk di Kebun Percobaan Punten.

Meneliti buah-buahan ternyata mengasyikkan. Sambil meneliti bisa mencicipi buah yang diteliti. Begitulah komentar beberapa mahasiswa yang tertarik dengan koleksi tanaman jeruk. Sayangnya buah jeruk, apel, anggur, lengkeng dan lainnya tidak diperkenankan untuk dipetik kecuali atas seijin peneliti yang bersangkutan. Karena buah ini merupakan plasmanutfah bukan kebun produksi (visitor plot).

Beberapa mahasiswa mendapat kesempatan merasakan Jeruk Keprok Batu 55 di visitor plot yang dipakai untuk wisata petik. Diperkirakan 1-2 bulan lagi jeruk sudah menguning.

 

Buah jeruk yang bisa dipetik biasanya dikemas dalam bentuk wisata petik. Lokasinya ada di visitor plot (halaman depan), namun saat ini belum matang dan baru siap panen 1-2 bulan ke depan. Jadi mahasiswa dilarang untuk memetik dan mencicipi koleksi plasmanutfah yang ada karena buahnya masih digunakan untuk pengamatan dan konservasi penelitian plasmanutfah.

Jeruk merupakan komoditas buah yang sangat potensial dikembangkan karena mampu beradaptasi baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Nilai impor jeruk mencapai hampir Rp 2 Trilyun dan menjadi buah yang paling banyak diimpor. Petani di Dau dengan lahan 2500 m2 yang ditanami keprok Batu 55 mampu mendapatkan penghasilan bruto Rp 80 juta untuk 1 tahun masa panen. Tanaman jeruk di Dau tersebut masuk usia produktif yaitu 5 tahun setelah tanam. Sedangkan di Kalimantan dengan jeruk Borneo Prima, petani mampu mendapatkan penghasilan bruto mencapai Rp 500 juta untuk 1 hektar area jeruk produktif.

Kunjungan mahasiswa BEM Pertanian Nusantara di plasmanutfah lengkeng dan plasmanutfah  apel

Berkebun jeruk memang menjanjikan, namun perlu diingat bahwa tanaman jeruk relatif lebih “rewel” dan perlu perhatian yang lebih serius daripada tanaman buah tahunan lainnya seperti mangga, manggis, duren, dll. Kegagalan pengembangan kawasan jeruk selama ini karena tidak menerapkan konsep pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat.

Untuk itulah Balitjestro dengan paket teknologinya siap mengawal pengembangan jeruk nasional sesuai tugas dan fungsi yang sudah diamanatkan oleh Kementerian Pertanian. [zh/balitjestro]

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event