Behind the Scene Penas 2014; Kreasi Kusnan dkk Mendapatkan Banyak Apresiasi

Kepala Badan Litbang PertanianHadi Mulyanto (teknisi Balitjestro) termenung ketika seorang ibu di sebelah pagar pembatas “Saung Agro Inovasi” bertanya; “Ini jeruk asli kan pak? Beneran ini jeruk asli?”. Pertanyaan itu diulang tiga kali. Dan Hadi Mulyanto pun masih saja bingung. Baru ketika si ibu melanjutkan pertanyaannya dengan penjelasan, arah pertanyaan pun tertebak. Si Ibu bercerita bahwa dia adalah warga sekitar lokasi gelar teknologi: “Dua hari yang lalu disini masih kosong, tidak ada jeruknya, kok sekarang mendadak banyak jeruk menguning seperti ini? Sejak kapan nanamnya?” Ibu itu terus saja heran dan Hadi Mulyanto pun tersenyum.

Semua tidak tiba-tiba terjadi begitu saja. Kusnan, Kepala Kebun Percobaan Punten bersama teman-teman telah menyiapkan jeruk dalam tabulampot sejak 6 bulan sebelum Penas berlangsung. Jika dihitung mundur berarti sudah dipersiapkan sejak awal Desember 2013. Dari ratusan (800-an) koleksi jeruk dalam tabulampot usia 3 tahun, dipilih setidaknya 100 tabulampot terbaik yang terdiri dari berbagai varietas unggulan.

Aneka jenis jeruk dalam tabulampot yang sudah dipilih tersebut kemudian dipelihara secara intensif agar buahnya tidak rontok atau diambil oleh tangan jahil. Pagar keliling dibuat, bahkan paranet hitam dipasang ketika sinar matahari dirasa terlalu panas. Pemeliharaan yang intensif ini membuat jeruk dalam tabulampot tumbuh dengan cantik dan menawan hati.

Polting untuk tanaman jeruk dilakukan jauh hari (gambar kiri). Pembuatan “Saung Agro Inovasi” terus dikebut menjelang pembukaan Penas 2014 (gambar kanan)

Satu bulan menjelang Penas, persiapan fisik di Kepanjen pun dimulai. Kusnan bersama crew Kebun Percobaan Punten mendapatkan mandat untuk mempersiapkan “Saung Agro Inovasi” yang akan menjadi veneu andalan Badan Litbang Pertanian. Balitjestro menjadi salah satu pengisi bahan gelar teknologi di “Saung Agro Inovasi” ini. Hampir semua UPT berpatisipasi seperti Balitkabi, BPTP Jatim, BB Pasca Panen, BB Mektan, BB Padi, Balitbu Tropika, Balitsa, Balithi, dll.

Tanpa membuang waktu, Kusnan segera melakukan persiapan di lokasi gelar teknologi. Pembuatan saung bambu membutuhkan waktu yang cukup lama. Disisi lain, persiapan lahan untuk tanam jeruk dalam tabulampot pun dilakukan. Setelah posisi saung bambu tersebut jelas, taman pun dibuat. Begitu juga dengan kolam air. Pekerjaan bertambah di hari-hari terakhir ketika tanaman hias dan sayuran belum siap. Lahan yang kosong itu harus segera diisi. Secara mendadak Kusnan pun menyiapkan display benih berbagai varietas jeruk. Dan ternyata, pengunjung pun membludak dan membeli benih jeruk yang tersedia.

Tanaman jeruk tidak bisa dibongkar dan langsung ditanam begitu saja karena pasti akan layu, buah pun rontok. Pembuatan lubang tanam untuk tabulampot dilakukan untuk membuat kesan bahwa tanaman jeruk tersebut telah lama ditanam. Tentu saja rumput di sekitar harus rapi dan sudah disiapkan jauh hari.

Crew Kebun Percobaan Punten sedang menanam rumput dan membuat lubang tanam untuk tabulampot jeruk

Jika jeruk ditanam di lapang sejak jauh-jauh hari, sebagaimana tanaman jagung, padi atau komoditas hortikultura lainnya, saat acara berlangsung dipastikan sudah tidak ada buahnya karena sudah dipetik orang lain. Maka cara inilah yang paling tepat dan menjadi pilihan.

Tanaman jeruk dengan buahnya yang memikat hati membuat orang gemas untuk memetiknya. Ada yang dengan alasan mencicipi, penasaran, bahkan ada pula yang ngidam. Alasan ngidam ini adalah alasan yang paling sulit ditolak dan akhirnya dipenuhi. Jika dibiarkan begitu saja tanpa diawasi, semua jeruk yang ada habis dalam sekejap, sebagaimana jeruk Calamondin yang baru sehari (yaitu di pembukaan hari Sabtu 07/06/2014). Jeruk Calamondin yang telah dipasang di depan gerbang utama, buahnya langsung habis. Tentunya pengunjung di hari berikutnya tidak bisa menyaksikan tanaman jeruk itu. Pengunjung tidak mau tahu bahwa dalam pameran ada keterbatasan tempat dan persediaan, jika ingin memetik dipersilahkan datang ke kantor Balitjestro yang 1-2 bulan lagi membuka wisata petik jeruk.

Di sebelah “Saung Agro Inovasi” dibangun pula tempat untuk pameran benih jeruk untuk memanfaatkan lahan kosong. Pembuatan tempat ini mendadak kurang dari 1 pekan, maka wajar jika tanahnya masih gembur ketika pembukaan Penas 2014 berlangsung.

Suasana pusat penjualan benih jeruk saat pelaksanaan Penas 2014 berlangsung. Pengunjung memanfaatan untuk mengambil dokumentasi kenangan. Benih habis terjual dan pengunjung yang menginginkan varietas lain dipersilahkan mengunjungi Kebun Percobaan Punten di Batu. Koperasi Citrus siap melayani, benih bisa langsung dibawa pulang selama persediaan ada.

Pembuatan pagar pun dilakukan di sekeliling “Saung Agro Inovasi” untuk menambah menjaga keamanannya. Meskipun begitu, tetap saja banyak yang memetik tanpa ijin.  Hiks… T_T. Namun, usaha Kusnan dkk mendapatkan apresiasi luar biasa dari banyak pihak.

Bahkan Presiden  Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Ani beserta rombongan takjub dengan jeruk keprok Badan Litbang Pertanian dan menghabiskan waktu yang cukup lama disini. Buah jeruk yang ada dipetik dan dicicipi. Dua varietas yang dicicipi yaitu Keprok Batu 55 dan Keprok SoE. Dua jenis jeruk yang hampir punah dan sangat layak untuk dikembangkan kembali.

Jeruk Nusantara Siap Kalahkan ImportSBY pun berkomentar;  “Siapa bilang kalah sama negara lain?”, “Bismillah..”, “Dua Jempol”, “Luar negeri patah semua nanti”.

Video youtube bagian 1 dapat disaksikan disini

SBY: “Manisnya ada, sedikit kecutnya 5%,… 95% manis”, “Nendang-nendang!”, “Kalau saya coba 33 propinsi kenyang juga nanti”, “Bu, saya pensiun jadi presiden  tukang jeruk nanti”.

Video youtube bagian 2 dapat disaksikan disini
Bahkan Dr. Haryono Kepala Badan Litbang Pertanian langsung kembali ke “Saung Agro Inovasi” dan berterima kasih kepada seluruh panitia gelar teknologi Badan Litbang Pertanian. Satu per satu panitia dipetikkan jeruk dan tak lupa Kusnan juga mendapatkannya.

Presiden SBY menginstruksikan agar 2 varietas yang dicicipi tersebut dikembangkan. Keprok Batu 55 telah berkembang baik di Dau, Kabupaten Malang. Dan keprok SoE dari NTT perlu kerja yang lebih keras untuk mengembalikannya. Beberapa pemda di luar NTT sudah tertarik mengembangkannya.

Jeruk Keprok Batu 55 dan Keprok SoE sesaat sebelum dipetik oleh SBY dan rombongan

Peneliti Jeruk sudah bekerja memilihkan varietas yang terbaik, tinggal menunggu siapa yang menanam. Badan Ltibang Pertanian siap mengawal siapapun yang tertarik untuk menanam, demi kebangkitan jeruk nusantara. Paket teknologi PTKJS (Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat) yang diterapkan sudah terbukti berhasil.

Terima kasih pak Kusnan dkk atas kerja kerasnya. Semoga Balitjestro terus kompak dan mampu memperomosikan jeruk (khususnya) menjadi komoditas yang diminati petani. Petani Sejahtera, Bangsa Berjaya! [zh/balitjestro]

Penas 2014 - Badan Litbang Pertanian - Balitjestro (23)

Balitjestro “Satu Langkah Lebih Maju”

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event