Bedah Buku Jeruk, Tradisi Bagus Keilmuwan untuk mendapatkan Umpan Balik Pengguna

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) pada 19 Oktober 2021 memperkenalkan buku jeruk terbaru yang diluncurkan secara resmi oleh Menteri Pertanian Syahtul Yasin Limpo (SYL). Menindaklanjuti peluncurkan buku tersebut, pada rabu 27 Oktober 2021 diadakan bedah buku untuk mengupas tuntas berbagai aspek dalam buku tersebut. Bedah buku ini dilaksanakan melalui daring dan diikuti oleh 301 peserta. Rekaman selama acara dapat disimak melalui https://youtu.be/lT-_uNAOFX4?t=1498

Dalam sambutanya, Kepala Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Balitbangtan, Dr. Harwanto, mengatakan bahwa Balitjestro sudah bertahun-tahun melaksanakan penelitian jeruk mulai dari perbenihan, budidaya, penyakit hingga pascapanen. Buku ini menyuguhkan informasi lengkap dari A-Z terkait tanaman jeruk oleh peneliti langsung yang sekian tahun telah bergelut dengan jeruk. Buku ini diharapkan mampu diadopsi sesuai dengan kondisi lokasi pengembangan jeruk di berbagai daerah di Indonesia.

Ketua Perhorti Komda Jawa Timur, Prof. Moch Dawam Maghfoer mengatakan bahwa buku tersebut membahas tanaman jeruk yang ada di Nusantara secara tuntas. Buku tersebut akan sangat bermanfaat untuk dapat digunakan sebagai acuan para praktisi hortikutura khususnya yang berkecimpung di dalam usaha budidaya tanaman jeruk.
“Dengan makin berkembangnya teknologi penanganan tanaman jeruk yang dimuat dalam buku tersebut, jika diterapkan dengan benar, saya yakin produksi buah jeruk yang berkualitas akan semakin meningkat dan mampu bersaing dengan buah jeruk impor. Hal tersebut sekaligus bisa meningkatkan nilai ekonomi jeruk dan kesejahteraan petani jeruk di Indonesia,” tutur Dawam.

Dosen Universitas Brawijaya, Prof. Nurul Aini sebagai salah satu pembedah buku memaparkan bahwa buku setebal 388 + 22 halaman ini sangat sistematis, runtut sehingga mudah dipahami. Dimulai dari sebaran dan produksi jeruk Nusantara, dilengkapi data yang akurat. Buku ini juga memuat informasi mengenai marga jeruk, varietas unggul, dan bibit jeruk sehat yang dihasilkan Balitjestro. “Invasi teknologi di bidang pemuliaan jeruk yang sehat disajikan secara rinci mulai dari pemuliaan konvensional, pemuliaan mutasi, dan pemuliaan in vitro, yang semuana dilengkapi dengan skema dan foto-foto sehingga mudah diikuti,” terang Nurul.

Manajemen sistem perbenihan jeruk bebas penyakit juga dijelaskan secara rinci tentang metode membersihkan benih jeruk dari 7 patogen sistemik menggunakan isolasi dengan penyambungan melalui teknologi Shoot Tip Grafting (STG) atau penyambungan tunas pupuk (PTP). Teknologi produksi jeruk dijelaskan mulai dari perencanaan kebun jeruk, faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh, penanaman, pemeliharaan (pemupukan, pengairan, dan pemangkasan), hingga panen.

Buku ini juga memuat manajemen pengendalian hama dan penyakit tanaman jeruk, hingga penanganan pascapanen dan pengolahan hasil jeruk. “Jeruk adalah buah non klimaterik, namun umumnya dikonsumsi dalam bentuk segar, sehingga menentukan saat panen, cara panen, penanganan pascapanen perlu mendapat perhatian. Dalam buku ini dibahas dengan jelas,” tuturnya.

Menurut Nurul, buku ini sangat layak digunakan sebagai buku referensi di kalangan akademisi baik dosen/peneliti maupun mahasiswa, praktisi, serta masyarakat umum karena mudah dipahami dan diadopsi. “Buku ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang cukup lama yang dilakukan oleh masing-masing peneliti yang berkompeten sehingga apa yang disampaikan dalam buku ini sudah teruji kebenarannya,” kata Nurul.

Disisi lain, Melisnawati dari LIPI BRIN mengungkapkan bahwa buku jeruk ini plus-plus. Ibarat beli 1 dapat paket komplit. Dari sisi pemuliaan membuka banyak peluang kolaborasi karena varietas jeruk di Indonesia timur khususnya masih banyak yang belum digali dan bahkan beliau sebagai orang Gorontalo tidak tahu informasi jeruk dari daerah tersebut. Buku ini layak dibaca oleh peneliti, akademisi, mahasiswa dan masyarakat umum. Namun, karena buku ini berat, tidak praktis untuk dibawa ke lapang.

Sementara itu, Vendi Tri Suseno, Business Development Manager PT Laris Manis Utama mengungkapkan permasalahan jeruk di tingkat nasional mengenai tampilan luar seperti karat, jeruknya tidak tahan lama, hingga proses panen yang tidak optimal sehingga tidak bisa bersaing dengan jeruk impor yang ada pasaran. Selain itu, masih banyak jeruk di Indonesia yang belum layak ekspor.

Sebagai pelaku usaha, Vendi menilai buku ini sangat komplit informasinya mulai dari pemuliaan dan perbenihan, varietas unggul, cara menanam, pemupukan, penanganan hama dan penyakit, hingga pasca panen. Buku ini pas untuk pelaku usaha yang bisa mendapatkan manfaat jeruk seperti petani atau pengusaha jeruk. “Buku ini bisa menjadi pengantar untuk kita bisa benar-benar mendalami tanaman jeruk,” pungkasnya.

Sumber: technology-indonesia.com