Beberapa Varietas Stroberi yang Layak Dikembangan di Kota Batu

[cml_media_alt id='1535']Stroberi PlasmaNutfahKoleksi Balitjestro Litbang[/cml_media_alt]

Pengembangan agrowisata perkotaan akan melibatkan banyak instansi. Agrowisata di perkotaan memerlukan kerjasama yang erat antar berbagai sektor, yaitu sektor perhubungan, sektor pariwisata, sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor pembangunan daerah dan sebagainya. Hubungan kelembagaan yang melibatkan banyak sektor tersebut mungkin akan menjadi rumit realisasinya dalam bentuk pelaksanaan (Sulistiyantara, 1990). Agrowisata perlu dipersiapkan dengan tataguna lahan yang baik. Tataguna lahan seharusnya dilakukan bukan dengan metode gebrakan. Diperlukan waktu yang panjang oleh pembuat keputusan dan dijabarkan dalam bagian-bagian kecil dengan perencanaan yang baik (Catanesse dalam Khadiyanto, 2005). Manfaat yang dapat diperoleh dari agrowisata adalah melestarikan sumber daya alam, melestarikan teknologi lokal, dan meningkatkan pendapatan petani/masyarakat sekitar lokasi wisata (Subowo, 2002).

Kota Batu menawarkan konsep agrowisata yaitu petik apel, petik stroberi, petik jeruk dan petik sayur mayur. Wisata petik stroberi dapat ditemui di wilayah Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji dan di kawasan wisata Kusuma Agro. Beberapa desa lainnya terutama di Kecamatan Bumiaji pun mulai mengembangkan wisata petik stroberi. Memetik stroberi langsung dari pohonnya memiliki kenangan tersendiri yang tidak terlupakan. Bukan hanya memetik, wisatawan akan mendapatkan pengetahuan tentang budidaya stroberi. Kota Batu pun mulai membangun identitas diri sebagai salah satu tujuan wisata petik stroberi dengan berbagai ikon seperti bangunan stroberi di Alun-alun Batu dan penataan kawasan wisata di Desa Pandanrejo.

Varietas stroberi yang berkembang di Kota Batu saat ini adalah Lokal Batu, Sweet Charlie, Festival, California, Kalibrate dan Rosalinda. Festival dan Kalibrite merupakan varietas pengembangan baru yang didatangkan dari Bandung sejak tahun 2011. Luas lahan stroberi di Batu masih pasang surut. Di Pandanrejo pada tahun 2013 terdapat total luasan 8 hektar dari sebelumnya 15 hektar. Beberapa petani memilih pindah ke tanaman lain karena varietas stroberi yang dikembangkan dirasa kurang ekonomis dan belum adanya paguyuban atau kelompok tani yang kokoh sehingga ada transfer teknologi budidaya sampai pasca panen yang tepat.

Tabel 1. Klasifikasi dan standar mutu buah stroberi FFV-35

[cml_media_alt id='1533']StandarStroberi[/cml_media_alt]

Pada penelitian sebelumnya (Hanif, Z dkk, 2012);  Dorit, Rosalinda, Aerut, dan Chandler dari 10 varietas masuk pada kategori kelas 1. Sedangkan L. Berastagi masuk pada kelas 2. Penelitian saat itu dilakukan di Tlekung (950 mdpl) dimana kondisi stroberi belum mencapai ketinggian optimal. Pada penelitian lanjutan di tahun 2012 dilakukan uji terhadap 14 varietas stroberi yang ditanam di KP Sumberbrantas (1400 mdpl). Berikut rerata berat buah (grade A), rerata diameter, dan rerata panjang ke-14 varietas stroberi yang diamati sebagaimana tampak pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil pengamatan produksi 14 varietas stroberi (tahun 2012)

[cml_media_alt id='1534']DataStroberiPenelitianBalitjestro[/cml_media_alt]

Semua varietas stroberi cocok untuk buah olahan. Buah dengan ukuran besar lebih menguntungkan jika dijual segar. Petani mensiasati buah sortiran menjadi bahan utama olahan minuman sari stroberi dan selai stroberi. Buah yang ukuran kecil yang kurang ekonomis jika dijual segar pilihannya hanya menjadi bahan baku produk olahan, yaitu SB12 (Anna) dan SB15 (Tristar).

[cml_media_alt id='1532']Stroberi hasil aklimatisasi oleh Ahmad Syahrian Siregar untuk regenerasi koleksi plasma nutfah[/cml_media_alt]
Stroberi hasil aklimatisasi oleh Ahmad Syahrian Siregar untuk regenerasi koleksi plasma nutfah
Pengembangan kawasan agrowisata stroberi di Kota Batu masih dalam tahap perintisan. Sampai saat ini (Agustus 2013) berdasarkan survey di lapang, kebutuhan mendasar masih belum siap. Infrastruktur belum mendukung yaitu jalan yang lebar dan bisa diakses bus besar untuk petik stroberi di lahan petani, organisasi atau koperasi stroberi belum terbentuk sehingga promosi belum bisa dilakukan secara terpadu. Potensi lahan tanam stroberi seluas 8 hektar di Desa Pandanrejo yang dilakukan secara individu perlu terus dibina dan diintegrasikan dalam satu wadah yang kokoh. Beberapa petani belum menjadikan stroberi sebagai mata pencaharian utama. Penelitian ini merekomendasikan 8 varietas yang potensial dikembangkan di Batu Jawa Timur.

Kesimpulan dan Saran

Varietas stroberi yang layak untuk dikembangkan di Batu Jawa Timur adalah Dorit, California, Rosa Linda, Aerut, Sweet Charlie, Chandler, Lokal Berastagi dan Erlybrite. Perlu adanya rancang bangun pengembangan stroberi spesifik lokasi yang dijabarkan dalam bagian-bagian kecil dengan perencanaan yang baik.

 

Oleh: Zainuri Hanif
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Related Post

Tinggalkan Balasan