Balitjestro Mendukung Program “Go Organik”

Harwanto Balitjestro

Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) di Kota Batu serius dalam mengembangkan potensi jeruk nusantara. Guna membangkitkan potensi jeruk di kancah persaingan global, Balitjestro mengembangkan berbagai inovasi dan paket teknologi unggulan. Open House Balitjestro yang dibuka kepada masyarakat umum adalah salah satu langkah dalam mendekatkan berbagai produk unggulan Badan Litbang Pertanian kepada masyarakat.

Dr. Harwanto, Kepala Sie Pelayanan dan Teknis (Yantek) Balitjestro menegaskan bahwa saat ini trend yang muncul adalah program pengembangan jeruk nusantara menggunakan inovasi teknologi yang ramah lingkungan. Diakui untuk 100% organik memang perlu proses yang panjang, namun Balitjestro terus melakukan terobosan salah satunya dengan sistem monitoring dan menggunakan biopestisida.  Petani jeruk masih ada yang menyemprot jeruk hampir 1 pekan sekali dan tentunya bagi konsumen hal ini cukup mengkhawatirkan kesehatan.

Agar produk buah nusantara kita dapat bersaing tentunya kita harus memiliki banyak keunggulan. Dari sisi rasa buah jeruk kita jauh lebih unggul dan lebih segar, dari sisi penggunaan bahan kimia tentunya kita juga bisa lebih baik lagi dengan meminimalkan penggunaannya. Jeruk dari luar negeri telah melalui berbagai perlakuan sehingga lebih awet dan tahan lama. Penelitian yang pernah dilakukan Setyabudi, dkk (2008) di Bogor , menyebutkan bahwa buah-buahan impor terindentifikasi mengandung formalin dan pestisida yang dilarang dalam penggunaannya. Penggunaan formalin dan pestisida pada buah-buahan impor dapat terjadi di negara produsennya maupun setelah sampai di Indonesia. Perlu stándar mutu yang lebih luas terhadap buah impor guna melindungi konsumen terhadap dampak negatif dari penggunan bahan kimia terlarang.

Selain Apel, Batu mulai dikenal dengan sentra jeruk. Pengembangan Jeruk Keprok Batu 55 di Batu telah mencapai 300 hektar. Balitjestro siap mendukung program Pemkot Batu yang sekarang ini gencar mengkampanyekan “Go Organic”. Dengan pengelolaan jeruk yang ramah lingkungan tentunya kita optimis jeruk nusantara semakin dekat di hati masyarakat Indonesia.

Program pengembangan jeruk nusantara perlu sinergi dari semua pihak. Balitjestro tidak mungkin untuk mengembangkan di berbagai wilayah Indonesia tanpa melibatkan pemerintah daerah setempat. Dengan kewenangan otonomi daerah, pemerintah daerah diberi kesempatan lebih besar untuk mengembangkan potensi daerahnya. Saat ini beberapa pemerintah daerah telah mengadakan kerjasama dengan Balitjestro untuk mengembangkan jeruk seperti Kabupaten Nunukan (Kaltim-Kaltara), Kabupaten Banjarnegara (Jawa tengah). [zh/balitjestro]

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event