Balitjestro Launching Empat Inovasi

Sumber: Malang Post, 31 Agustus 2017, halaman 19

BATU – Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) di Kota Batu kembali mengeluarkan inovasi teknologi dan produk unggulan tanaman jeruk. Empat inovasi sekaligus dikeluarkan lembaga berlokasi di Jalan Raya Tlekung Kota Batu dan langsung dipublikasikan, Rabu (30/8) kemarin.

Empat inovasi tersebut adalah sistem pakar untuk monitoring OPT jeruk, pukap jestro atau pupuk lengkap lepas lambat, KIT deteksi cepat sebagai solusi dalam penanganan penyakit CVPD daerah endemis, serta Bark Pesticide Aplikator (BPA).

“Sistem pakar merupakan teknologi rancang bangun menghasilkan sistem aplikasi untuk pemantauan organisme pengganggu tanaman (OPT) utama pada pohon jeruk. Dengan sistem ini, pemantauan bisa dilakukan secara real time dan dimana saja. Itu artinya petani atau petugas bisa melakukan pemantauan tidak harus berada di lokasi tanaman jeruk,” tegas Dr Ir Anang Triwiratno MP, Kepala Seksi Pelayanan Teknis dan Jasa Penelitian Balitiestro, kemarin.

Dengan sistem ini, alat akan dipasang pada lokasi tanaman. Alat itu bisa mengcover luas tertentu dan OPT akan bias terdeteksi. Data pemantauan tersebut langsung terlihat pada website. “Saat ini, alat masih berbasis pada Web. Nantinya alat ini juga akan berbasis android sehingga pemantauan bisa dilakukan dengan menggunakan HP,” ungkap SusiWuryantini, peneliti.

Sedangkan pukap jestro, pupuk ini menggantikan pupuk konvensional dan menjadi solusi tepat mengelola nutrisi tanaman. Pupuk ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain ramah lingkungan, hemat biaya dan mudah aplikasi, umur pupuk lebih panjang, dan nutrisi lengkap sesuai fase pertumbuhan tanaman.

Sedangkan BPA adalah alat aplikasi pestisida sistemik tanaman jeruk secara optimal. Dengan BPA, pestisida cukup dioleskan pada pohon jeruk. Dengan pengolesan itu, pestisida sangat efisien mengendalikan OPT utama dan aman bagi musuh alami dan pasti lebih ramah lingkungan.

“Agen hayati tidak akan hilang dengan inovasi ini karena hanya OPT utama yang mati. Begitu juga dengan kupu-kupu atau makluk hidup lain tidak akan mati. Kondisi itu berbeda jika pestisida yang biasa disemprotkan sehingga mematikan makluk lain,” tegas Otto Endarto, peneliti.

Balitjestro langsung melakukan workshop untuk mengenaIkan empat inonasi baru di YWI Kota Batu mulai Rabu (30/8) kemarin, hingga Kamis (31/8) hari ini. Workshop diikuti 100 orang terdiri dari berbagai stake holder seluruh Indonesia. Mereka berasal dari Puslitbang Hortikultura, Direktorat Perlindungan Hortikultura, BBATP, BadanĀ  SDM, BPOPT, BB Biogen, BPTP, BPTPH, POPT, Penyuluh, Kelompok Tani, PTPN, Perusahaan Pupuk dan calon mitra, peneliti dan teknisi, dan humas Balitbangtan. (feb)