Bakteri Listeria monocytogenes Tidak Menyerang Tanaman Apel di Indonesia

apel
Pertanaman apel di Kota Batu, Jawa Timur, buah segar siap panen, bebas bakteri Listeria monocytogenes

Penyakit pada tanaman apel akan terjadi apabila terdapat patogen/bakteri patogenik,  yang menyerang tanaman inang /buah dalam kondisi rentan, didukung oleh agroklimat yang menguntungkan bagi patogen. Bakteri Listeria monocytogenes tidak termasuk dalam “indeks inang” (host indices) yang menyerang tanaman atau buah apel di pertanaman, sehingga apabila ditemukan bakteri tersebut pada buah apel, berarti buah tersebut hanya sebagai pembawa (carrier) bagi bakteri tersebut tanpa bisa menyerang pada buah atau tanaman apel.

Bakteri  L. monocytogenes merupakan bakteri Gram-positif, dan motil/bergerak dengan menggunakan flagella. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa 1-10% manusia mungkin memiliki L. monocytogenes di dalam ususnya. Bakteri ini telah ditemukan pada setidaknya 37 spesies mamalia, baik hewan piaraan maupun hewan liar, serta setidaknya 17 spesies burung.  Bakteri ini dapat diisolasi dari tanah, silage (pakan ternak yang dibuat dari daun-daunan hijau yang diawetkan dengan fermentasi), dan sumber-sumber alami lainnya. Sebagai bakteri yang tidak membentuk spora, L. monocytogenes sangat kuat dan tahan terhadap efek mematikan dari pembekuan, pengeringan, dan pemanasan. Sebagian besar L. monocytogenes bersifat patogen pada tingkat tertentu (The bad bug book, 2015).

Kebutuhan konsumen di Indonesia yang mengetahui manfaat buah apel bagi kesehatan tubuh telah memilih buah ini sebagai konsumsi dalam bentuk segar setiap hari. Tingginya kebutuhan buah apel segar untuk konsumen di Indonesia yang tidak terpenuhi oleh buah apel dari dalam negeri menyebabkan pemerintah harus memenuhi kebutuhan tersebut dengan melakukan impor dari luar negeri. Jauhnya negara produsen apel yang dikirim ke Indonesia memerlukan penanganan pasca panen sekunder (pembersihan, grading, pengawetan/pelilinan, dan  selalu dalamrefrigerator), agar buah apel tetap dalam kondisi segar untuk sampai di Indonesia selama berbulan-bulan. Hal ini berbeda dengan buah apel yang dihasilkan dari Indonesia yang memiliki jarak lebih dekat sehingga hanya memerlukan penanganan pasca penen primer (Panen, grading, pembersihan, packing) untuk bisa sampai ke konsumen dalam beberapa hari sampai maksimal 3 minggu.

Perbedaan proses pasca panen antara apel impor dan apel nusantara tersebut menyebabkan perbedaan kualitas buah apel nusantara dapat diterima dalam kondisi lebih segar dibanding apel impor. Sehingga sebenarnya konsumen di Indonesia akan memilih apel nusantara dengan catatan buah tersebut tersedia cukup, kualitas baik, tersedia saat dibutuhkan, dan mudah didapat di pasar.

Apel impor asal Amerika Serikat jenis Granny Smith dan Gala diduga kuat tercemar bakteri L. monocytogenes.  Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan terkait pencemaran bakteri mematikan pada apel yang diproduksi di negaranya. Terkait kasus pencemaran itu, sebuah perusahaan asal California, Bidart Bros menarik produk-produknya yakni apel Granny Smith dan Gala. Produk-produk tersebut cukup populer di berbagai negara, termasuk di Indonesia (Kompas, 26-1-2015). Namun Kementan telah menjamin dan memastikan buah-buahan impor dari Amerika Serikat (AS) yang saat ini ada di Indonesia bebas dari bakteri L. monocytogenes karena buah impor dari AS di Indonesia bukan jenis Granny Smith dan Gala yang disebut terkontaminasi bakteri L. monocytogenes. Apel yang diimpor dari Amerika adalah apel Washington. Adapun jika ada jenis Granny Smith dan Gala di Indonesia, apel itu bukan masuk dari AS, melainkan negara lain. Kementan selalu melakukan pengawasan terhadap buah-buahan impor dengan uji laboratorium sebelum dipasarkan di Indonesia (Kompas, 27-1-2015).

Kontaminasi bakteri L. monocytogenes yang terjadi pada apel dari perusahaan Bidart Bros asal California, menjadi pelajaran penting bagi petani produsen apel di Indonesia agar tidak terjadi kontaminasi pada buah apel nusantara. Untuk itu tidak ada salahnya kewaspadaan tersebut diaplikasikan dengan melaksanakan pasca panen yang benar agar buah diterima konsumen masih dalam keadaan bersih tidak tercemar bakteri. Upaya yang dapat dilakukan adalah mengurangi peluang terjadinya kontaminasi bakteri patogen pada buah apel  dari saat panen sampai diterima konsumen dengan baik.

Beberapa langkah pencegahan  yang dapat dilakukan adalah :

  1. Menghindari waktu panen buah apel pada saat ada embun dan air hujan.
  2. Menggunakan keranjang panen yang bersih.
  3. Membersihkan atau mencuci buah apel setelah dipanen.
  4. Menyediakan gudang yang bersih bebas dari sumber patogen.
  5. Menggunakan bahan packing yang kering dan kuat.
  6. Transportasi yang cepat sampai konsumen.

[ Dr.Ir. Anang Triwiratno,MP/Balitjestro]

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event