Audiensi Evaluasi Kinerja Perbenihan Jeruk dengan Dirjend Hortikultura

[cml_media_alt id='2248']Audiensi dengan Dirjend Hortikultura[/cml_media_alt]Dalam rangka menindaklanjuti penelitian Crash Program Jeruk 2012 yang berjudul “Evaluasi Kinerja Perbenihan dan Revitalisasi Industri Benih Jeruk di Indonesia”, Balitjestro mengadakan audiensi dengan Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi dan Direktorat teknis lainnya di Jakarta. Penelitian ini mengambil lokasi di 9 provinsi sentra jeruk di Indonesia yaitu di Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan dan NTT.

Tujuan penelitian ini adalah untuk; (1) Mengevaluasi dan merumuskan   perbaikan  teknis pengelolaan  BF, BPMT, dan Blok Produksi Benih Komersial, dan sistem sertifikasi benihnya. (2) Mengevaluasi dan merumuskan penguatan kelembagaan pelaku perbenihan jeruk nasional dari   pusat-daerah dalam proses produksi dan distribusi benih jeruk nasional dan (3) Mengevaluasi dan merumuskan  kebijakan  perbenihan jeruk guna memperkuat kemandirian industri jeruk nasional.

Arry Supriyanto sebagai penangungjawab penelitian ini memaparkan kondisi riil terkini perjerukan di Indonesia yang perlu mendapat perhatian segera. Kondisi BF secara umum jelek sampai cukup baik. Kondisi BPMT 60 – 70% jelek. Dan selama ini penangkar yang ada di lapang 70 – 80% adalah penangkar liar.

Dalam audiensi ini hadir berbagai stakeholder perjerukan Indonesia yaitu Balitjestro,  Direktorat Benih Hortikultura, Direktorat Perlindungan Hortikultura, Direktorat Budidaya Buah dan Pasca Panen. Dalam diskusi didapat point penting strategi yaitu;

  1. Rasionalisasi BF di BBI dengan mengurangi jumlah BF atau BF hanya dilakukan di Balitjestro saja
  2. BBI difokuskan untuk mengelola BPMT
  3. Pengembangan industri benih jeruk nasional dengan membangun BPMT baru di sentra perbenihan utama tanpa harus membangun BPMT di setiap provinsi kawasan pengembangan agribisnis jeruk
  4. Fasilitasi BPMT akan diperbanyak di tingkat petani
  5. Meningkatkan kerjasama antara Direktorat Perlindungan dan Badan Karantina  dalam peredaran benih jeruk antar pulau
  6. Meningkatkan kerjasama antara Balitjestro dengan Direktorat Perbenihan dan Direktorat Pengembangan dalam penyediaan benih jeruk dan kawalan teknologi.

 

Tinggalkan Balasan