Arry Supriyanto: Separuh Jiwa untuk SoE

ArrySupriyantoBalitjestro

Namanya Arry Supriyanto, dia berprofesi sebagai peneliti di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika  (Balitjestro), Tlekung, Kota Batu, Jawa Timur. Dari tangan dinginnya, pengembangan jeruk Keprok SoE di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) makin menggembirakan.

Putra Malang yang kalem tapi ‘kocak’ ini boleh dibilang separuh jiwanya untuk keprok SoE, telah lama bergaul dengan petani jeruk di daerah ini. Dia kadang tak peduli apakah kunjungannya didukung oleh anggaran pemerintah atau tidak, yang penting kepentingan petani akan inovasi teknologi  bisa terpenuhi. Begitu cintanya dengan petani, bisa dikatakan daerah SoE ini adalah kampung halaman keduanya.

Kendati usianya tidak muda lagi, semangatya untuk membangun jeruk SoE terus membara, dan dengan kesetiaannya mengawal tim jelajah, dia juga sempat berbagi informasi tentang pengembangan jeruk SoE.

Menurutnya, berkurangnya luas area tanaman jeruk keprok SoE disebabkan oleh banyaknya pohon jeruk mati karena sudah tua, tidak dipelihara optimal oleh petani dan didera kekeringan panjang. Selain itu, pembangunan sentra produksi yang dilakukan lebih dari satu dekade yang lalu, kurang berhasil karena keterbatasan benih jeruk bermutu.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah melakukan kegiatan penelitian dukungan inovasi teknologi dalam Pengembangan Kawasan Agribisnis jeruk SoE di TTS – NTT.  Kegiatannya difokuskan pada upaya membangun sistem dan perbaikan proses produksi benih jeruk keprok SoE berlabel biru dan bermutu yang merupakan kunci keberhasilan pembangunan agribisnis jeruk keprok SoE yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Kegiatan yang dilakukan Balitjestro dan BPTP NTT beserta petugas Dinas Pertanian setempat telah dilaksanakan di 4 (empat) kelompok penangkar benih jeruk di Kecamatan Mollo Tengah dan Utara, Kabupaten TTS. Tujuannya adalah mempercepat adopsi teknologi anjuran produksi benih jeruk Keprok SoE berlabel biru dalam polibag.

Dalam waktu hampir 3 (tiga) tahun tahun kelompok penangkar telah mampu mengadopsi 85,2% dari kondisi awal 37,1% atau meningkat 48,1%. Pada akhir kegiatan penelitian 2014 ini adalah tahun pertama kali dimana kelompok penangkar benih jeruk keprok SoE yang ada di Kabupaten TTS dan NTT mampu memproduksi benih jeruk berlabel biru dalam polibag.

Lonceng kematian jeruk keprok SoE sebenarnya memang pernah bergema sebelum tahun 2010, tetapi kini Pemda TTS, penangkar dan petani jeruk setempat siap kembali membangkitkan kejayaan jeruk keprok SoE yang rupawan ini dan siap menghadapi berlakunya MEA 2016. (Lis – Sinar Tani Edisi 3-9 Juni 2015)

Related Post

Tinggalkan Balasan