Apakah Benar Varietas Anggur Tertukar?

Beberapa waktu yang lalu, kami mendapat masukan yang bagus dari pegiat “Pecinta Anggur Indonesia” yaitu om Fredy. Beliau mempertanyakan dan memberi masukan mengenai adanya kemungkinan tertukarnya varietas Anggur yang dilepas oleh Kementan. Lebih lengkapnya bisa disimak langsung di bloknya disini.

Berikut kami tayangkan jawaban dari Anis Andrini, peneliti Anggur Balitjestro menanggapi tulisan om Fredy.
_

[cml_media_alt id='1145']poster anggur jestro ag86[/cml_media_alt]Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas ulasan yang diberikan om Fredy di blog. Mohon maaf atas keterlambatan kami dalam menjawab. Kami peneliti anggur sampai dengan saat ini kegiatan utama kami masih sebatas pengelolaan sumber daya genetik (SDG) anggur yang telah ada di Kebun Percobaan Banjarsari Probolinggo sejak tahun 1956. Pada tahun 1956 tentu saja Balitjestro belum ada. Pengelolaan SDG anggur dilakukan oleh beberapa instansi yang berganti-ganti sampai pada tahun 2002 dibawah Loka Penelitian Tanaman Jeruk (Lolit jeruk) yang pada tahun 2006 menjadi Balitjestro.

Sebelum dibawah Lolitjeruk telah terjadi erosi genetik yang cukup besar karena pada tahun 2002 koleksi yang ada hanya ada 34 aksesi sementara telah tercatat sebelumnya koleksi mencapai 90-an aksesi (beberapa berita bisa disearching). Kematian-kematian aksesi tersebut diduga karena serangan hama dan penyakit (aksesi yang mati merupakan aksesi yang rentan penyakit). Selain itu daya adaptasi yang rendah di daerah tropis diduga menjadi penyebab kematian aksesi-aksesi tersebut. Salah satu aksesi mati dan tidak ada lagi dalam koleksi kami adalah Gros Colman.

Kami ingin sedikit mengulas tentang istilah BS yang kami gunakan dalam pengelolaan SDG anggur. BS bukanlah nama tetapi BS merupakan kode aksesi. Istilah aksesi dan kode (nomor) aksesi digunakan dalam pengelolaan SDG.

Aksesi ialah sampel unik dan beda yang dapat diidentifikasi mewakili suatu kultivar, galur atau populasi pemuliaan yang dikelola untuk dikonservasi dan dimanfaatkan.

Nomor aksesi ialah alat identifikasi yang unik yang ditentukan oleh kurator pada saat aksesi masuk dalam koleksi

[cml_media_alt id='1142']Anggur koleksi Badan Litbang Pertanian[/cml_media_alt]
Anggur koleksi Badan Litbang Pertanian
Nomor aksesi yang digunakan dalam pengelolaan SDG anggur dahulu adalah Bs (singkatan dari Banjarsari, nama kebun anggur kami di Probolinggo) diikuti penomoran berdasarkan urutan masuknya koleksi di kebun. Jadi BS 1,2,3 dan seterusnya sebenarnya nomor urutan masuknya koleksi dan bukannya kami memberikan nama baru. Sementara ini kami sedang berusaha untuk menerbitkan nomor aksesi yang baru sesuai dengan kesepakatan dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.

Selanjutnya dari beberapa koleksi yang ada dan telah kami uji keunggulannya, kami telah melepas atau mendaftarkan varietas sebanyak 9 varietas. Tujuan dari pendaftaran atau pelepasan varietas antara lain : Legalitas perbenihan, yaitu mengikuti UU no 13 tahun 2010 dan PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 38/Permentan/OT.140/7/2011. Penamaan varietas dilakukan sesuai dengan ketentuan pendaftaran varietas tanpa meninggalkan sejarah asal namanya. Varietas yang telah didaftarkan dapat diperjualbelikan melalui sertifikasi benih sehingga benih yang diperjualbelikan merupakan benih legal. Varietas anggur yang telah kami daftarkan sebagai varietas unggul pada dasarnya merupakan varietas yang telah beradaptasi lama di Indonesia dan selama kurun waktu tersebut telah teruji keunggulannya misal dalam hal produksi atau rasa.

Mengenai nama awal masuk koleksi, terima kasih atas koreksian om Fredy seperti nama Himrod seedling dan Muscato D’Adda yang diduga bukan varietas tersebut. Namun demikian, sebagaimana kami jelaskan di awal, nama dan nomor aksesi-aksesi tersebut sudah ada sebelum Balai Penelitian ini ada.  Data-data varietas yang ada tidak mungkin kami ubah begitu saja tanpa pengujian. Pengujian kebenaran varietas tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan deskripsi morfologi atau referensi saja.

Berdasarkan pengalaman teknisi kami yang telah lama bekerja di kebun Banjarsari, selama kurun waktu telah terjadi perubahan karakteristik buah pada beberapa koleksi kami. Perubahan karakteristik buah sebenarnya wajar saja karena perbedaan iklim tropis di Indonesia dengan negara asalnya. Selain itu perbedaan cara budidaya juga berpengaruh pada kuantitas dan kualitas buah.

Mengenai warna buah perbedaan kandungan antosianin dipengaruhi oleh perbedaan suhu siang dan malam serta intensitas sinar matahari. Hasil observasi kami menunjukkan bahwa warna anggur Delaware di KP Banjarsari cenderung lebih terang daripada di KP Tlekung (dataran tinggi). Selain perubahan yang bersifat fisiologis, dugaan kami perubahan dapat disebabkan oleh terjadinya mutasi alam (perubahan genetik) mengingat usia tanaman di koleksi kami. Kesalahan teknis dengan tertukarnya label pun juga dimungkinkan terjadi dengan berganti-gantinya pengelola selama puluhan tahun. Namun, untuk meyakinkan kebenaran varietas perlu pengujian DNA varietas tersebut dengan varietas asli dari negaranya. Harapan kami bila om Fredy mempunyai varietas Himrod, Muscato atau Delaware yang asli dari asalnya mungkin dapat kami lakukan analisis DNA untuk menguji kebenaran varietas tersebut. Dengan begini, akan lebih bisa dipertanggungjawabkan dan tentunya kami membuka diri untuk perbaikan jika memang hasil uji menunjukkan hal yang disampaikan di blog Om Fredy.

Demikian, tanggapan kami atas ulasan di blok om Fredy, semoga kedepan dapat bekerjasama lebih baik lagi sehingga dapat memajukan pengembangan anggur di Indonesia. Kami sangat mengapresiasi tulisan saudara.

Terima kasih.

Anis Andrini, Staf Peneliti Balitjestro.

 

Related Post

2 Comments

  • Fredy

    Terima kasih banyak atas respon tulisannya Ibu Anis Andrini. Untuk mencari tahu apakah varietas aksesi yang ada di Balitjestro tidak ada yang tertukar, terutama mengenai BS 86 (Moscato D’Adda) dan BS80 (Himrod), menurut saya, Balitjestro sebagai Institusi yang terdaftar dalam VIVC bisa mendapatkan info Genetik Kode DNA dari varietas yang bersangkutan dari VIVC.
    Link VIVC adalah sebagai berikut.

    http://www.vivc.de/index.php

    Bisa lihat dibagian contact dan klik di Genetic Resources Staff.
    Salah satu personilnya dan sekligus web masternya orang Indonesia loh 🙂
    Namanya Ketut Ngurah Sudharma, emailnya di

    ketut-ngurah.sudharma@jki.bund.de

    Sebagai Institusi yang mewakili negara Indonesia, semoga Balitjestro bisa semakin mengembangkan anggur di negara kita.
    Sekali lagi terima kasih.
    Hormat saya, fredy

Tinggalkan Balasan