ANGGUR BERNYANYI

Trubus 564 – November 2016/XLVII, halaman 74-75

Anggur yang Rajin Berbuah
Anggur yang Rajin Berbuah

Aggur kerap ditanam petani di desa maupun di kota. Tengok aja di Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Sebuah perumahan di Pondok Aren, malah membuatnya sebagai tanaman hias. Rimbun, elegan, berfungsi sekaligus sebagai garasi. Beberapa tampak berbuah, dengan malai dan sulurnya yang indah. Ayah saya berulang-ulang juga menanamnya. Sejak kecil saya dilatih merawat tanaman anggur merah, anggur hijau, anggur biru, maupun anggur hitam.

Pekarangan kami di Malang maupun di Yogyakarta, selalu teduh berkat anjangan anggur Vitis vinifera. Ayah menyiapkan kursi-kursi bertangga dan gunting-gunting untuk memanennya. Maklum cucunya lebih dari 20 orang dan semua ingin dipotret sambil memetik anggur dan bernyanyi. Belakangan anggur hias pun menghasilkan panen berlimpah. Rasanya belum tentu manis.

Itu sebabnya anggur impor berjaya di Rp 50.000 per kg atau Rp350.000 untuk paket 8 kg; sedangkan harga anggur lokal terinjak-injak jauh di bawah. Pernah lebih rendah dari Rp 5.000 per kilogram. Akibatnya, siapa suka menanam anggur? “Padahal, kalau kita menghargai panen anggur dengan baik, para petani bisa makmur,” kata Yoke Darmawan, aktivis pembela petani anggur di Buleleng, Bali.

Pascapanen

Yoke pun berceramah dari kota ke desa. Terakhir, saya mendengar ceramahnya di Gunung Andong, pedalaman Magelang, Jawa Tengah. Manfaat utama anggur, menurut Yoke untuk mensejahterakan petani. “Berkat anggur, petani bisa makrnur,” katanya. Tentu harga anggur local harus diperbaiki dan kualitas panen ditingkatkan. Artinya, perlu dukungan bibit yang baik, pupuk yang cukup, dan pengolahan pascapanen yang prima.

Sekarang sekitar 180 keluarga petani mengikuti programnya dengan luas kebun mencapai 80 hektare. Maklum anggur adalah tanaman baru untuk Indonesia. Budidaya anggur- vitikultur sudah maju di Iran dan sekitarnya sejak 6.000 tahun Sebelum Masehi. Namun, baru abad ke-17 masuk ke Nusantara. Thailand, Indonesia, dan belakangan Malaysia, berusaha menggenjot produksi anggur setempat.

Hasilnya kita mulai dibicarakan setelah muncul Indowine atau anggur Bali. Sekarang, setiap tahun panen di Buleleng mencapai 400 ton. Meski harganya baru bisa didongkrak ke atas Rp 5.000 per kilogram, hasilnya sudah lumayan. Petani anggur menjadi lebih bersemangat, meskipun perlu ditemani ketika belanja. Prioritasnya wajib membeli sapi. Hayo, mengapa itu ada yang membeli sepeda motor?

“Sebab sapi saya sudah tujuh ekor, Ibu Yoke,” ceritanya. Kedengarannya Buleleng sudah menjadi ikon pertanian anggur Indonesia. Sukses bukan hanya menghasilkan sapi, tapi meletakkan Indonesia dalam peta winery dunia. Sapi memang investasi klasik, sumber pupuk, teman kerja sekaligus tabungan. Namun, budaya minum anggur, adalah indikator peradaban yang klasik juga.

Anggur tropis

Anggur BS 89
Konsumsi anggur mencegah penuaan dini, kulit halus, dan mencegah kanker

Sebenarnya mengapa manusia perlu menyukai anggur? Prof Dr Soenarjati Djajanegara percaya anggur minuman yang menyehatkan. “Dalam Al Quran pun disebutkan,” katanya. Pendidik yang sederhana itu masih mengajar di sejumlah universitas. Padahal usianya sudah lebih dari 83 tahun. Ia menyukai anggur bali, aga merah, olahan dari varietas anggur merah Alphonse Lavallee.

“Segar dan murah. Namun, rnengapa harganya naik terus, ya? Dari Rp 140.000 menjadi Rp 190.000,” selorohnya. Produk domestik itu rupanya semakin disukai. Pantaslah kalau harganya terus merangkak, meski masih termasuk murah. Sebagai bandingan, untuk kelas yang sama bisa berkisar Rp 300.000 di Singapura, Rp 500.000 di Iran dan di atas Rp 1-juta di Kuwait dan Arab Saudi. Hebatnya produk Indonesia ini mulai menyabet berbagai penghargaan di luar negeri.

Pada Oktober 2016 kemarin, tiga produk Sababay di Bali meraih medali perak dalam Austria Wine Challenge (AWC) yang merupakan kompetisi wine terbesar dunia. Tahun ini pesertanya mencapai 1.866 produsen dengan 12.826 macam wine dari 41 negara. Tahun sebelumnya (2015), Moscato d’bali juga memenangkan medali dari ajang serupa di Tiongkok, Jepang, dan Korea.

Hebatnya varietas anggur alphonse lavalee yang naik daun itu makin berkibar. Di Eropa jenis itu hanya bisa dipanen sekali dalam setahun. Setelah ditanam di Buleleng, Bali, ternyata bisa berbuah tiga kali. Namun, untuk menjaga kualitas panen dibatasi setahun dua kali. Rupanya ada penyesuaian iklim bagi anggur yang ditanam di daerah tropis. Pantas perkebunan anggur mulai diusahakan di Tapanuli, di Sulawesi Selatan, dan di beberapa kawasan Nusa Tenggara Timur.

Bila dicermati, cukup banyak pulau-pulauan Indonesia terdepan yang tanah dan iklimnya cocok untuk anggur. Ada banyak alasan mengapa manusia suka anggur. Anggur merah diyakini berkhasiat menangkal proses penuaan. Kulit menjadi halus dan awet muda. Bagi perempuan, anggur merah diharapkan bisa mencegah kanker payudara. Yang jelas, secara umum minuman klasik itu  meningkatkan kualitas tidur, menambah nafsu makan, melancarkan pencernakan, dan mencegah sembelit

Tentu anggur juga lebih banyak dikonsumsi sebagai buah segar. Bisa mengurangi inflamasi dalam darah dan memacu semua sistem organ tubuh. Anggur merah yang dikeringkan menjadi kismis dimanfaaatkan sebagai diet yang bagus untuk menurunkan bobot badan. Anggur punya efek tonik, mencegah peradangan, dan menangkal serangan kuman. Jadi mudah dipahami kalau banyak orangtua membeli buah anggur untuk anaknya yang sedang sakit.

Dari kecil anak-anak juga suka bernyanyi tentang tanaman anggur yang melambangkan hidup sehat yang saling terkait Maka tidak berlebihan kalau perkebunan anggur dijadikan alternative untuk mensejahterakan petani di pulau-pulau Indonesia yang terdepan. Yang menarik, sejak awal perkebunan anggur tidak memerlukan tempat-tempat yang subur. Sejak abad ke-19, tepatnya 1828, beredar laporan bahwa anggur tropis berkembang baik di daerah yang kering dan tandus termasuk Besuki, Jawa Timur dan Kupang di Timor.

Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) di Batu, Jawa Timur, menyatakan dewasa ini terdapat 80 macam varietas anggur di Indonesia. Di antara unggulannya ada varietas probolinggo biru, kediri kuning, prabu bestari, dan serial Jestro yang dilepas oleh Menteri Pertanian. Lahan untuk menanam anggur yang potensial dan belum dikelola sekitar 2.000 hektare di berbagai penjuru Indonesia.

Memang belakangan panen buah sering terganggu akibat perubahan iklim. Namun, siklus musim anggur hanya berkisar 105 hari. Jadi dalam setahun berpotensi tiga kali panen, Kalau satu atau dua kali gagal, masih tetap ada harapan untuk berhasil. Dengan demikian produksi anggur sebagai buah segar, maupun bahan selai, jam, kismis, sirup dan wine, akan terus berkelanjutan. (Eka Budianta.  Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang)

Related Post