Anggur Ag60 Diminati untuk Dikembangkan di Pekan Baru Riau

Syahrilfuddin dan keluarga di balitjestro

Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) menerima kunjungan penggemar anggur pada Jum’at kemarin (29/08/2014). Kali ini datang jauh-jauh dari Pekanbaru Riau. Syahrilfuddin bersama keluarga mengunjungi Balitjestro dan bertukar pengalaman mengenai pengembangan Anggur. Rombongan diterima oleh Ir. Emi Budiyati (peneliti Anggur) dan Zainuri Hanif.

Syahrilfuddin yang juga merupakan dosen Universitas Riau ini mengetahui Anggur Badan Litbang Pertanian dari majalah Flona. Berbekal informasi terbatas tersebut beliau meminta contact person Emi Budiyati dan mengirim surat untuk melakukan kunjungan. Kunjungan ini untuk mengetahui langsung tanaman dan koleksi anggur yang ada. Ketertarikannya pada anggur membuat Syahrilfuddin berniat mengembangkan Anggur Ag60 seluas 2 hektar.

Jestro_Ag60 (1)

Anggur Jestro Ag60 telah dilepas oleh Menteri Pertanian dengan no SK 1754/Kpts/SR.120/120/2008. Jika anda menyukai buah yang segar dan manis, anggur ini patut dicoba. Tentu saja rasanya manis karena rasio gula asamnya bisa mencapai 27, padahal standar kemanisan anggur hanya 20. Berdasarkan hasil seleksi dan observasi, anggur ini memiliki keunggulan pada rasa buah yang manis segar dan buah yang seedless.

Dalam kesempatan ini, Syahrilfuddin dan keluarga diajak berkeliling kebun anggur di Kebun Percobaan Tlekung yang menanam 10 koleksi dari 43 asesi yang ada. Koleksi anggur paling lengkap ada di Kebun Banjarsari Probolinggo. Namun sayangnya saat ini musim panen telah lewat dan buah anggur tidak ada lagi.

Selain Ag60 Syahrilfuddin menjajaki kemungkinan untuk mengembangkan BS 45 dan anggur lainnya yang potensial di dataran rendah. Sebagai institusi yang mendapat mandat penelitian Anggur tentunya Balitjestro menyambut baik ketertarikan masyarakat untuk mengembangkan kebun anggur. Areal pengembangan Anggur yang selama ini terpusat di Jawa Timur dan Bali akan semakin menyebar dan peneliti mampu untuk memberi rekomendasi yang tepat sesuai potensi dan agroklimat masing-masing daerah.

Setelah berkeliling di Kebun Anggur, Syahrilfuddin diajak pula melihat Jeruk Keprok Batu 55 dan Keprok Pulung yang kemarin ramai dikunjungi masyarakat untuk wisata petik jeruk. Potensi pengembangan di dataran rendah pun bisa dilakukan dengan pemilihan varietas yang tepat. Keprok dataran rendah seperti Keprok Tejakula, Keprok Madura dapat menjadi alternatif selain jeruk siam. [ZH/Balitjestro]

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event