Analisis Usahatani Jeruk Siam Banjar di Lahan Lebak Kalimantan Selatan (Kasus Kab. Banjar dan Kab. Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan)

(In Analysis of Siam Banjar Citrus Farming In Monotonous Swampy Area of South Borneo (A Case in Banjar and Hulu Sungai Tengah Regency))

Prosiding Seminar Nasional Jeruk 2007 Yogyakarta, 13 – 14 Juni 2007, hal. 120-132

Yanti Rina D.
Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa Banjarbaru

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usahatani jeruk Siam Banjar dan kontribusinya terhadap pendapatan petani di lahan lebak. Data dan informasi diperoleh melalui metode PRA dan survei pada 60 orang responden yang dilaksanakan di Desa Pematang Hambawang Kabupaten Banjar dan Desa Mahang Matang Landung Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan pada tahun 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusahaan jeruk Siam Banjar di lahan lebak dilakukan dengan sistem surjan dengan pola tanam padi + jeruk Siam. Benih yang digunakan okulasi dan cangkok. Jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk pembuatan guludan/surjan dari luas tanam 1 ha cukup tinggi yaitu sebesar 449 HOK/0,37 ha guludan di Desa Pematang Hambawang dan 642,5 HOK/0,33 ha guludan di Desa Mahang Matang Landung, tetapi keadaan ini dapat dilakukan petani dengan teknologi pembuatan surjan secara bertahap. Usahatani dengan pengelolaan lahan sistem surjan pola tanam padi + jeruk Siam adalah layak untuk dikembangkan karena nilai B/C > 1. NPV positif dan IRR > dari tingkat bunga yang berlaku. Kontribusi usahatani jeruk Siam Banjar terhadap pendapatan rumah tangga petani Desa Pemtang Hambawang sebesar 47,4% dan Mahang Matang Landung sebesar 18,71%. Masalah utama dalam usahatani jeruk Siam Banjar di lahan lebak adalah serangan penyakit.

Kata kunci : Jeruk Siam Banjar, usahatani, lahan lebak.

Abstract

This research aimed to find out the information of farming system feasibility and its contribution to the farmer’s income. Both of data and information were collecting by Participatory Rapid Appraisal (PRA) method and survey in 2006. Sixty farmers in Pematang Hambawang and Mahang Matang Landung District of Banjar and Hulu Sungai Tengah Regency respectively were chosen as respondents. The result showed that citrus farming on monotonous swampy area was conducted on surjan system with Paddy + Citrus planting pattern. The seedling used were cutting and marcotting plants. Man power needed for surjan preparation were 449 mandays for 0,37 ha of surjan on Pematang Hambawang and 642,5 mandays for 0,33 ha surjan on Mahang Matang Landung, while the preparation was carried out gradually. Paddy + citrus on surjan system was feasible due to B/C > 1, has positive NPV and IRR more than the current bank rate interest. The contributions of citrus farming to farmer income was 47,4% (Pematang Hambawang village) and 18,7% (Mahang Matang Landung). The main constraints of citrus farming on monotonous swampy area was pest diseases.

Keywords : Siam Banjar, citrus farming, monotonous swampy area.

Artikel lengkapnya bisa di download disini atau disini

Agenda

no event