Agribisnis Jeruk Siam Di Kabupaten Karo – Sumatera Utara

(Citrus Agribusiness in Regency of Karo, Sumatera Utara)

Sustra Ginting
Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Sumatera Utara

ABSTRAK
Petani Karo sudah menan am jeruk varietas keprok Berastagi sejak tahun 1930, dan pada tahun 1979, petani menggantinya dengan jeruk Siam Madu (Citrus suhuiensis Tan.). Pengembangan jeruk di Kabupaten Karo cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun 2000 luas areal hanya 6.651,38 ha dengan produktivitas 908,54 kw/ha dan meningkat 17.333,14 ha dengan produktivitas 615,00 kw/ha pada tahun 2004. Peningkatan terse but didukung oleh potensi lahan pengembangan pertanian di Kabupaten Karo seluas 118.679 ha dan 14% diantaranya belum dimanfaatkan secara efektif. Jeruk Siam Madu atau Jeruk Karo digemari konsumen karena memiliki rasa buah yang manis, aroma yang harum, penampilan menarik dan mudah dikupas. Permintaan konsumen terjadi di Sumatera Utara, kota-kota di Sumatera, Jawa dan Bali. Tahun 2003, jumlah pengiriman jeruk ke kota tersebut mencapai 80-100 truk/hari (1 truk 7-7,5 ton). Dalam jumlah terbatas jeruk Siam dari Kabupaten Karo sudah diekspor ke beberapa negara tetangga. Permasalahan agribisnis jeruk adalah ketersediaan bibit; penerapan teknologi budidaya (pemupukan, penjarangan, pemangkasan, pemulusan) masih rendah dan beragam, produktivitas rendah dan mutu relatif bervariasi, hama dan penyakit (terutama lalat buah); tingginya biaya transportasi (banyaknya pungutan liar). Dalam mewujudkan jeruk Karo menuju “Go Internasional 2006”, yang telah dicanangkan oleh Menteri Pertanian RI tanggal 1 Juni 2002, diperlukan kerja sarna sinergis antar petani pengusaha, pemerintah dan berbagai pihak terkait lainnya.
Kata kunci: Jeruk Siam, agribisnis, produktivitas, pemasaran.

ABSTRACT
Karo farmers have grown the Berastagi tangerine since 1930, and in 1979, they replaced it with Madu Tangerine (Citrus suhuiensis Tan.). Citrus development in regency ofKaro tends to increase from year to year. In 2000 the area width was only 6.651,38 ha in the productivity of90.854 kgs/ha and increased to 17.333,14 ha in the productivity of 61.500 kgs/ha in 2004. This improvement supported by agriculture development farm potency in regency of Karo for the width of 118.679 ha and 14% among other things not yet been exploited effectively. In general, consumer attracted to Madu Tangerine or Karo orange due to have swee-t fruit taste, fragrant aroma, interesting appearance and easy to be pared. Consumer demand has occurred in North Sumatera, cities in Sumatera, Java and Bali. In 2003, number of citrus delivery to those cities reached at 80-100 trucks/day (l truck loaded 7-7,5 tons). Tangerine from the regency of Karo has been exported in the limit number to some neighbor countries. Citrus agribusiness problems encountered including seed availability, application of cultivation technology (fertilizing, spacing, pruning, perfecting) are still lower and diverse, low productivity and quality relatively varied, pest and disease (especially fruit fly); higher transportation cost (many illegal levy). In realizing Karo orange towards “Go International 2006 “, which announced by the Minister of Agriculture on June 1,2002, it needs the harmoniously collaboration between farmers, businessmen, government and some other relevant party.
Keywords : Tangerine cv. Siam, agribusiness, productivity, marketing.

Artikel lengkapnya bisa di download disini atau disini

Agenda

no event