Agribisnis Jeruk Jeju Korea dan Penawaran Buah Tropis Indonesia

[cml_media_alt id='2162']Jeruk Jeju Korea[/cml_media_alt]Korea dengan Ibu Kotanya Seoul memiliki penduduk sebanyak 48.508.972 jiwa dengan bentuk negara Republik. Komoditas ekspor utamanya adalah peralatan komunikasi nirkabel, kendaraan bermotor, computer, besi, kapal, petrokimia, kapal laut, tektil, pakaian jadi dan hasil laut. Untuk komoditas impornya adalah minyak dan gas bumi, barang dan perlengkapan elektronik, minyak, baja perlengkapan transportasi.

Hubungan diplomatik antara Indonesia – Korea terjali pada tahun 1966 dan mengalami perkembangan secara signifikan untuk 5 tahun terakhir ini dengan tercemin dari semakin bertambahnya ikatan kerjasama antara kedua negara di berbagai bidang mencakup politik, keamanan, ekonomi perdagangan dan sosial budaya.

Kerjasama bidang Pertanian antara Indonesia – Korea yaitu kerjasama G to G  antara Indonesia dan Korea belum memiliki intensitas seperti sektor-sektor lain. Namun pada petemuan pertama pokja kehutanan, pertanian dan kelautan dibawah joint task force pada bulan Mei 2007 telah dibahas peluang kerjasama untuk pengembangan bahan bakar nabati. Selain itu salah satu bentuk usulan kerjasama yang dapat dikembangkan di sektor pertanian antara Indonesia Korea adalah upaya untuk membuka akses pasar poduk pertanian dan hortikultura Indonesia ke Korea. Namun, ada permasalahan yang mengemuka adalah menyangkut ketentuan Karantina Korea yang sedemikian ketat utamanya mengenai penggunaan pestisida dalam budidaya produk pertanian dan hortikultura Indonesia.

PT. Hyundai Group pada saat ini sedang dalam proses investasi di industri maining  Indonesia karena saat ini Indonesia sudah mempunyai UU baru di bidang pertambangan yang melarang ekspor bahan sumberdaya alam mentah keluar negeri oleh sebab itu Indonesia memerlukan modal dan teknologi dibidang industri pengolahan “maining” sehubungan dengan hal tersebut pihak Indonesia dalam hal ini Kementerian Pertanian meminta pihak Hyundai untuk berinvestasi juga dibidang perindustrian pengolahan daging di Kabupaten Kupang dengan tujuan agar daging sapi dari Kupang dapat dikirim ke Jakarta sudah dalam bentuk olahan sehingga memudahkan dalam penanganan distribusi dan transportasi.

PT. Hyundai Marchant Marine merupakan anak perusahaan PT. Hyundai Group yang  mempunyai potensi untuk melakukan kerjasama dibidang pembangunan pelabuhan dan transportasi antar pulau di Indonesia. Teknologi yang dimiliki tidak kalah dengan teknologi yang sudah digunakan oleh negara maju lainnya, namun dari sisi harga jauh lebih ekonomis. Hal ini sejalandengan arahan Bapak Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan yaitu Bapak Nicholas Tandi Dammen. Beliau sangat berharap kerjasama Indonesia dan Korea Selatan yang pada saat ini sedang pada tahap yang sangat baik, bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh kedua belah pihak.

Provinsi Jeju di Korea Selatan merupakan sentra produksi utama Jeruk Jeju yang kadar kemanisannya mencapai brix 16 dan berwarna orange serta tanpa biji.  Jeruk Jeju mulai dikembangkan sejak tahun 1990 dimana benihnya diperoleh dari Jepang dan secara agroekologi sudah sangat cocok untuk dikembangkan di Pulau Jeju. Selain jeruk provinsi Jeju juga sentra wortel dan lobak yang mensuplai 40% kebutuhan Korea. Luas pertanaman jeruk Jeju mencapai 20.820 Ha, dengan produksi sebesar 700.000 ton dan jumlah penjualan mencapai 9 Trilliun-Won. Panen raya jeruk Jeju pada bulan September – Februari untuk memenuhi kebutuhan jeruk yang dapat mensumplai hampir 90% kebutuhan jeruk di Korea Selatan, diluar musim panen jeruk Jeju dapat ditanam dalam Green House yang produksinya mencapai 10% total produks. Jeruk Jeju sudah diekspor ke mancanegara.

Pengembangan industri jeruk di Pulau Jeju dilakukan secara terintegrasi mulai dari kebun sampai ke pemasaran untuk memberikan pendampingan dan pengawalan teknologi Pemerintah Korea Selatan membuat “Citrus Research Station” yang berlokasi di Pulau Jeju dengan jumlah peneliti sebanyak 15 orang, luas lahan 25 Ha dengan anggaran 26 Milyar Won per tahun. “Citrus Research Station” ini melakukan kerjasama dengan “Jeju National University”. Program yang dilaksanakan meliputi :

  • Membuat branding yang bagus
  • Penelitian dan rekomendasi varietas unggul dan penelitian pascapanen penyimpanan.
  • Prototipe peralatan pasca panen dan penyimpanan.
  • Pengendalian penyakit
  • Demonstrasi dan sosialisasi
  • Kualitas dan jaminan keamanan pangan
  • Bioteknology
  • Produk olahan
  • Pendidikan dan pelatihan petani

Selain itu dibentuk pula APC (Association Producer of Citrus) yang berbentuk koperasi dan memiliki anggota dari para petani dan pedagang Jeruk di provinsi Jeju. APC ini memiliki 30 green house yang ditanami jeruk, untuk menjadi stabilisator produksi dan harga agar jeruk bisa diproduksi sepanjang tahun. Beberapa hal penting yang diberikan APC kepada petani adalah :

  • Pembibitan
  • Rekomendasi budidaya (cara budidaya)
  • Jaminan pasar
  • Penelitian lapang dan pasar
  • Kontrol harga
  • Jaminan mutu dan keamanan
  • Modal kepada petani

Para petani tidak diwajibkan untuk menjual produknya ke APC namun 70 – 80% produk petani dijual ke APC. Supermarket besar dan eksportir di Korea sebagian besar membeli produk ke APC ini karena ada jaminan mutu dan keamanan, suplai serta kontinuitas. Sehubungan dengan hal tersebut pihak Indonesia menawarkan kerjasama penelitian, untuk mendukung pengembangan jeruk yang berwarna orange di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur Provinsi NTB.

Untuk mendukung berkembangnya jeruk di Pulau Jeju didirikan pula pabrik yang menghasilkan essential oil dari kulit jeruk dengan bantuan modal dari Pemerintah sebesar 25 Milyar Won. Essential Oil ini sangat dibutuhkan oleh industri kosmetik baik di Korea maupun international. Selain itu didirikan pula industri olahan jeruk berupa Juice Jeruk Jeju yang sudah dipasarkan diseluruh Korea Selatan.

Provinsi Jeju merupakan provinsi tujuan utama turis dari masyarakat Korea maupun mancanegara, dan diusulkan sebagai 7 kota terindah di dunia lewat UNESCO. Walaupun penduduknya hanya 570.000 orang, namun jumlah turis yang berjumlah 7,5 juta orang/tahun. Sehubungan dengan hal tersebut Pemerintah Indonesia menawarkan agar manggis dan salak dari Indonesia dapat diekspor kesana untuk memenuhi kebutuhan buah tropis di Provinsi Jeju.

Pengembangan industri tanaman hias di Pulau Jeju juga sangat berkembang oleh sebab itu sangat diharapkan agar pengusaha Korea mau berinvestasi.

File lengkap .pdf download disini
Sumber: http://ditbuah.hortikultura.pertanian.go.id/detail1.php?id=293

Tinggalkan Balasan

Agenda
Tanggal Kegiatan
Rabu, 16 Oktober 2019 Kunjungan Industri – SMKN 1 Gondang Nganjuk
Rabu, 16 Oktober 2019 Studi Banding oleh Diperta Kab. Tulungagung
Jumat, 15 November 2019 SMA IT Al- Hikmah