Marwan Jafar: Jeruk Malang Nggak Kalah dengan Jeruk Impor!

[cml_media_alt id='351']Menteri Desa Marwan[/cml_media_alt]

MALANG – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (DPDTT), Marwan Jafar, mengaku terpukau dengan jeruk hasil pertanian warga Desa Selorejo, Kecamatan Dau Kabupaten Malang Jawa Timur.

“Jeruknya manis, enak. Enggak kalah saing lah dengan jeruk-jeruk impor,” ujarnya seusai memetik beberapa jeruk di kebun milik Nur Rahmawati, saat berkunjung ke Desa Selorejo, Dau, Kabupaten Malang, Jumat (27/3).

Menurutnya, desa-desa yang memiliki potensi untuk mendongkrak perekonomian masyarakat desa perlu diberikan perhatian khusus, agar dapat meningkatkan kesejahteran warga setempat.

“Desa potensial seperti Selorejo ini perlu diberi perhatian khusus. Kita berharap kedepan tidak perlu lagi ada impor jeruk, di dalam negeri kan banyak jeruk, ya salah satunya di Desa ini masa kita masih mau impor,” katanya.

Ia pun menegaskan, pemerintah telah berkomitmen untuk lebih memperketat aktivitas impor dalam segala hal, termasuk impor buah yang selama ini masih berjalan. “Pak Presiden Jokowi juga telah menyampaikan dalam berbagai kesempatan, agar lebih memperkecil aktivitas impor, kita harus bangga dan memanfaatkan hasil produksi kita sendiri,” ujarnya.

Dalam kesempatan kali ini, Marwan kembali mengingatkan para kepala desa memperhatikan potensi desa masing-masing, terutama menjelang penyaluran dana desa yang akan dicairkan pada April mendatang.

“Kalau ada potensi hasil produksi lokal, dibentuk BUMDes, dikelola bersama antara pemerintah desa dengan warganya, pasti akan lebih bermanfaat. Seperti Desa Selorejo ini, saya yakin laju perekonomiannya akan semakin baik kalau dikelola dengan baik dengan melibatkan semua komponan di desa setempat,” ujarnya.

Dengan adanya potensi desa agrowisata buah seperti Desa Selorejo, kata Marwan, pemerintah perlu mendorong agar penjualan hasil pertanian jeruk warga dapat dijual hingga ke mancanegara.

“Ini akan menjadi tugas kita, termasuk kampus-kampus untuk melakukan pendampingan, pembinaan, agar kita potensi desa seperti ini bisa lebih berkembang dan hasilnya bisa diekspor,” tutur Marwan.

Sementara itu pemilik kebun Jeruk, Nur Rahmawati (48), mengatakan, sudah memiliki 350 pohon jeruk sejak 15 tahun lalu. Dari jumlah tersebut, buah jeruk setiap enam bulan dapat dipanen. “Lumayan hasilnya bisa sampai Rp 50 jutaan sekali panen,” katanya.

Menurut Nur, mengelola kebun jeruk relatif mudah karena cukup melakukan perawatan dengan menyiram pohon-pohon jeruk 10 hari sekali. “Yang penting perawatan ya, 10 hari sekali disemprot dengan pestisida. Pasti bagus hasilnya,” ujar Nur.(gir/jpnn)

 

Sumber: jppn.com

Tinggalkan Balasan