Bumi Blambangan Membangun Kawasan Jeruk Keprok di Pintu Keluar Ijen

[cml_media_alt id='147']Gambar: digitalbaca.com[/cml_media_alt]
Gambar: digitalbaca.com

Oleh: Sutopo
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

 

Puas dengan kinerja jeruk Siam di Kecamatan Bangorejo, Pemerintah Banyuwangi akan menduplikasi succes storry tersebut di Kecamatan Licin dengan jeruk keprok. Berstatus kabupaten terluas di Pulau Jawa yang memiliki SDA mulai pantai hingga pegunungan dan SDM yang mandiri maka wilayah Blambangan ini tidak mustahil bisa menjadi salah satu penghasil jeruk terbesar di Indonesia

 

Kabupaten Banyuwangi dengan luas wilayah 5.782,50 km menjadi kabupaten terluas di Jawa Timur bahkan di Pulau Jawa. Selain wilayahnya luas, bumi Blambangan ini terletak di ujung paling timur Pulau Jawa dan dikenal memiliki keragaman budaya, kesenian/tradisi, serta tempat wisata yang memiliki reputasi internasional (wisata Kawah Ijen, Pantai Plengkung, dan Pantai Sukamade). Dengan segala potensi dan sumber daya yang dimilikinya mulai dari kawasan pantai hingga dataran tinggi, tidak heran jika kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu kontributor pertanian yang penting terutama di Pulau Jawa.

Bukan hanya sebagai lumbung padi Jawa Timur, Banyuwangi juga menjadi salah satu penghasil jeruk Siam terbesar di Pulau Jawa. Pada tahun 2015 ini, luas lahan jeruk Siam di Banyuwangi sudah mencapai sekitar 12.000 hektar dan diperkirakan akan terus bertambah karena usahatani jeruk benar-benar telah meningkatkan kesejahteraan petani. Menurut petugas Diperta setempat, produktivitas jeruk Siam di daerah ini rata-rata 27 ton/hektar, termasuk tinggi. Dengan asumsi luas panen 12.000 hektar maka produksi jeruk Siam di Banyuwangi mencapai 324.000 ton/tahun. ` Bila harga jeruk siam di tingkat petani Rp. 6.000,-/kg maka produksi tersebut hampir setara dengan Rp. 2 Trilliun.

[cml_media_alt id='145']Ir. Sutopo M.Si Peneliti Balitjestro (paling kanan) menjadi salah satu narasumber dalam pertemuan koordinasi Pengembangangan Kawasan Tanaman Buah di Kabupaten Bayuwangi  [/cml_media_alt]
Ir. Sutopo M.Si Peneliti Balitjestro (paling kanan) menjadi salah satu narasumber dalam pertemuan koordinasi Pengembangangan Kawasan Tanaman Buah di Kabupaten Bayuwangi

Puas dengan kinerja jeruk Siam yang dikembangkan oleh petani di Kecamatan Bangorejo, Pemerintah Banyuwangi ingin menduplikasi succes storry tersebut di tempat lain yaitu di Kecamatan Licin, tepatnya akan dimulai dari Desa Banjar. Jeruk yang ingin dikembangkan meliputi beberapa varietas, antara keprok Tejakula, keprok Madura, dan keprok Terigas. Lokasi ini didukung oleh lingkungan yang sangat strategis antara lain panoramanya indah, dekat dengan kawasan perhotelan dan merupakan jalur/pintu keluar dari tempat wisata Gunung Ijen. Harapan ke depan, lokasi ini akan dikembangkan sebagai kawasan agrowisata yang merupakan salah satu wujud nyata dari pengembangan ekonomi kreatif di sektor pertanian.

Menurut Kabid. Hortikultura Banyuwangi, Saifulah SP. MM., pada akhir tahun 2015 akan dimulai pengembangan jeruk keprok di Desa Banjar seluas 65 hektar dengan rincian 55 hektar dari dana APBN dan 10 hektar dari dana APBD. Untuk mendukung program tersebut, pada tanggal 31 April 2015 dilaksanakan Pertemuan Koordinasi Pengembangan Kawasan Tanaman Buah di Aula Diperta Kab. Banyuwangi. Kegiatan ini dihadiri oleh BAPEDA Kabupaten Banyuwangi, petugas pertanian Diperta. Banyuwangi, Camat, Kepala Desa, Gapoktan dan petani yang terkait. Balitjestro yang diwakili oleh Ir. Sutopo, MSi berkontribusi sebagai salah satu narasumber yang memaparkan materi: Budidaya Jeruk Keprok Ramah Lingkungan. Pada akhir pertemuan, Kabid. Hortikultura Banyuwangi berharap adanya dukungan/kawalan teknologi dari Badan Litbang Pertanian dalam hal ini Balitjestro dan BPTP Jatim untuk mempercepat tercapainya tujuan yang diinginkan.

[cml_media_alt id='146']Pengembangan Jeruk di Banyuwangi Jawa Timur[/cml_media_alt]

 

Related Post

Tinggalkan Balasan